Ke Yogya, Jangan Lupa Bakpia
March 30th, 2007
“Mau ke Yogya yah? Jangan lupa pulangya bawa bakpia Pathuk, yah!,” begitulah biasanya kita kerap memesan atau dititipi oleh–oleh setiap kali ada yang bertandang ke Yogya. Rasa–rasanya bakpia Pathuk kini memang telah identik sebagai buah tangan khas kota pelajar itu. Berkunjung ke Yogyakarta rasanya belum pas kalau tidak mampir ke pusat pembuatan dan penjualan bakpia Pathuk.
Di kawasan Kampung Pathuk, Jalan K.S. Tubun, paralel dengan Jalan Malioboro itu ada puluhan pengusaha rumahan memproduksi makanan khas yang terbuat dari tepung berisikan kacang hijau itu. Puluhan mobil atau bus–bus wisata biasanya selalu padat parkir di ruas jalan sepanjang 1 kilometer itu, terutama di hari–hari libur.
Begitu membuka pintu mobil, hampir dapat dipastikan Anda langsung diserbu sejumlah tukang becak, pemuda, atau calo lain. Mereka saling berebut menawarkan jasanya. “Pia Pak, Bu, Om? Mari saya antar langsung ke pabriknya. Lebih enak, lebih murah, halal, dan lebih terjamin mutunya. Mari… mari Pak, Bu, Om!” ujarnya nyerocos sambil berusaha menggiring Anda ke lokasi yang mereka kehendaki. Kenyataan itulah warna keseharian, sekaligus gambaran sengit dan runyamnya persaingan perdagangan bakpia di sana.
Mereka saling bersaing, saling sikut, saling menjatuhkan yang lain dalam upayanya merebut hati konsumen. Bayangkan saja, hingga sekarang di seputaran Jalan Pathuk terdapat sekira 100 pedagang atau produsen bakpia. Dari sekian jenis bakpia pathuk, perbedaan yang mudah dilihat hanya pada label kemasannya yang menunjukkan alamat rumah produsen atau tokonya, semisal 25, 38, 67, 75, 99, atau nomor lainnya. Sulit dilacak bagaimana riwayat bermulanya, yang pasti perkembangan pasar pia berjalan seiring dengan merebaknya calo. Bahkan sejak beberapa tahun lalu, masyarakat kampung seputar Jalan Pathuk seperti Ngadiwinatan, Ngampilan, Sanggrahan, atau Mertolulutan pun saling mencoba memproduksi dan berlomba memasarkan bakpia.
Bakpia sebenarnya bukan makanan khas Yogyakarta. Kue dengan citarasa dan aroma khas itu konon berasal dari negeri aslinya bernama Tou Luk Pia, yang artinya pia (kue) kacang hijau. Kue tersebut terbuat dari adonan tepung terigu dan minyak kelapa (kulit atau pembungkus) dan isi atau bumbu terdiri dari campuran kacang hijau, gula pasir, dan garam. Sebetulnya selain berisi kacang hijau, ada pula produsen yang memproduksi bakpia isi kacang hitam, coklat, dan keju. Yah, siapa tahu kelak akan ada bakpia rasa strawberi, vanila, duren, atau salak pondok.
Proses pembuatan bakpia menurut dia tidak susah. Tepung pelapis yang terbuat dari terigu dimasak sedemikian rupa sehingga mudah dibentuk bulatan. Akan halnya isinya, kacang hijau, harus melalui beberapa tahap agar siap menjadi isian yang lezat mulai dari dibersihkan, dirimbang air, direbus, ditumpuk dan dikukus. Setelah itu kacang hijau dimasukan dalam tepung terigu lantas dipanggang selama 20 menit. Selama 20 menit itu panggangan bakpia harus dibolak–balik setidaknya tiga kali. Setelah itu didinginkan dengan cara diangin–anginkan di atas tampah baru kemudian siap dimasukkan dalam dos.
Sekadar informasi, di saat ramai seperti musim liburan sekolah, sebuah pabrik bakpia di Pathuk bisa menghabiskan 4–5 karung terigu sehari. Para pekerja mereka pun kerap harus lembur hingga hampir tengah malam. Namun di hari–hari biasa, setiap harinya mereka rata–rata menghabiskan 2 karung terigu saja.
Pia merupakan produksi “padat karya” yang harus dikerjakan secara tradisional melibatkan banyak karyawan. Sebuah produsen bakpia rata–rata bisa memperkerjakan 10–50 pekerja dan setidaknya memproduksi sekira 7.500 butir (300 dus) perhari. Jumlah tersebut merupakan omzet rata–rata pada ‘hari–hari sepi. Pada hari baik seperti musim liburan atau menjelang hari raya tertentu, otomatis omzetnya berlipat hinga dua atau tiga kali.
Entah siapa yang memulai, tapi sebenarnya ada salah kaprah dalam penamaan bakpia. Sebab kata “bak” berarti daging (khususnya daging babi; maaf). Padahal tak ada satu pun bakpia Pathuk yang dibuat dengan isian daging. Jadi, sebenarnya cukup dengan “pia” saja.
Lagi pula sebenarnya bakpia Pathuk masih sejenis dengan kue bulan atau tiong chiu pia yang berbentuk lingkaran berdiameter 10 –15 sentimeter berwarna putih dan tebalnya sekitar 2–3 sentimeter. Kue yang bagian luarnya agak keras karena terbuat dari terigu tanpa ragi itu biasanya ramai dijajankan sekitar tahun baru cina atau imlek. Selain ukurannya yang lebih besar dan merek pembuatnya yang biasa distempel dengan tinta merah langsung di atasnya, isian kue bulan sedikit berbeda ketimbang bakpia. Sebab isian kue bulan selalu lebih basah dan lembek dibanding bakpia yang biasanya kering.
Kembali ke bakpia, jika ingin membeli bakpia untuk keperluan beberapa hari atau dibawa keluar kota, ada baiknya memilih bakpia yang telah diangin–anginkan. Jangan asal dibungkus rapat ketika masih panas baru diangkat dari panggangan. Setelah sampai di tempat tujuan, simpanlah di lemari es.
Bakpia ini akan tahan hingga lebih seminggu tanpa ada perubahan rasa. Kalau mau lebih nikmat lagi, kalau ada panggangan atau microwave, dihangatkan dulu barang 10–15 detik. Selebihnya, hmmm……
Begitulah, bisnis oleh–oleh setidaknya dalam lima tahun terakhir ini tak bisa lagi dilihat sebelah mata.
Pusat oleh–oleh tumbuh di berbagai kota. Oleh–oleh digarap sebagai usaha profesional. Kemasan mereka yang apik seperti membungkus dapur tradisional yang penuh jelaga dan kerja keras para pembuatnya. Para pedagang oleh–oleh itu dengan jeli mengemas dan menjual oleh–oleh. Sejarah panjang penganan itu ikut terkemas di dalamnya.
Penulis: Rudianto Pangaribuan
http://community.kompas.com
Entry Filed under: World Tourism News
Trackback this post