Archive for March 30th, 2007

Searching for The Wild Orchid of Wonosadi

Anggrek? Terbayang bunga eksotis nan cantik digantung dalam pot. Paling- paling tersusun rapi di depan rumah, mencoba mencuri perhatian orang yang lewat. Sekarang, jika waktu boleh menyela, akan kuajak kalian menikmati anggrek dengan cara yang juga eksotis, mencarinya langsung di alam liar.

Jangan tanya. Petualanganku bukan berawal dari wangsit mbah dukun ataupun bisikan dewa ilmu pengetahuan. Bukan, ini murni rasa penasaranku. Hasil brainstroming dengan beberapa temanku mengantarkan kami pada keinginan yang lebih jauh, terwujudnya sebuah “Desa Anggrek”.
Inget puisinya Dian Sastro di AADC? Kulari ke hutan, laut, bla bla itu? Lebih kurang kisah kami mirip dengan itu.

Awalnya kami mengincar gunung sebagai perkiraan keberadaan anggrek liar. Vanda Tricolor adalah anggrek yang konon masih asli dan hidup liar di lereng Gunung Merapi. Bahkan informan rahasia kami mengemukakan bahwa sebenarnya anggrek ini banyak dibedhol (dicabut –red) oleh petani lokal untuk pakan ternak! WoW! Nihil!Nihil!Nihil! Kami tidak menemukannya.

Dari gunung kami ke daerah selatan Yogyakarta, lalu ke barat mencari kitab suci –eh, Kulon Progo maksudnya. Semua sama saja. Tidak ada satupun yang memenuhi syarat. Sampai akhirnya, sebuah nama kembali mencuatkan semangat kami.

Beji. Tepatnya Dusun Duren, Desa Beji, Kabupaten Gunung Kidul. Gunung Kidul ? Tempat yang konon gersang itu? Yap ! Tepat sekali. Infonya dari Dinas Pertanian DIY, jadi pasti akurat. Well, mungkin siy…

Dari Piyungan kita terus naik hingga pertigaan Sambi Pitu.  Belok kiri, mengikuti plang rute jalan arah Ngawen. Sekitar 9 km kemudian ada pohon beringin di tengah jalan. Daerah yang kita tuju ada di sebelah kiri pohon itu. 

Dari pohon beringin langsung belok kiri dan kita akan menemui desa dengan kondisi jalan berbatu dan persawahan di tepi kanan jalan. Sekitar 400 m dari jalan utama tadi, kita disuguhi pemandangan ala jaman Megalithikum. Delapan batu berukuran raksasa berserakan dengan keindahan yang memukau. Penduduk menamainya Watu Gendhong.

Dari Watu Gendhong, kita singgah kerumah Pak Kasno (pemuka daerah). Di rumahnya yang terletak tidak jauh dari Watu Gendhong, kita banyak disuguhi cerita tentang dusun Duren. Dari mitos, sejarah, hingga polemik politik yang pernah terjadi di sana. Dan tentang anggrek, Bu Kasno mengatakan anggrek itu banyak ditemui di hutan Wonosadi (sekitar 800 m dari rumah Pak Kasno). Mendengar itu, aku menjerit dalam hati, “Yes, ketemu !”  Bagaimana aku tidak antusias, sudah satu bulan ini aku berkeliling Yogyakarta, dan akhirnya kutemukan daerah yang aku cari.

Ditemani oleh Pak Sudiyo (kakak Pak Kasno), kami berjalan menuju hutan. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang mencengangkan, luar biasa alami dan sejuk. Betapa hijau dan alaminya hutan Wonosadi, membuat kami tidak percaya kalau kami sedang berada di Gunung Kidul yang terkenal gersang itu. Yang lebih membuat kami ternganga adalah adanya sumber mata air di hutan tersebut. Airnya keluar dari tanah, ditampung dalam bak-bak semen yang dialirkan ke rumah-rumah penduduk dengan pipa-pipa besi. Kami mencicipi airnya. Jernih, dingin, dan segar.. Wow !!

Di perjalanan, kami melihat belalang unik, warnanya hijau dengan motif polkadot kuning di tubuhnya. Kata Pak Sudiyo, belalang itu beracun. Di tengah hutan, ada empat pohon raksasa yang umurnya diperkirakan 400 tahun. Tempat itu dinamai Ngenuman, biasa digunakan untuk upacara adat oleh penduduk. 

Sekitar dua jam berkeliling, akhirnya kutemukan anggrek tanah yang warnanya putih, cantik sekali. Kelopoknya seperti sisir, sekilas orang awam tidak akan menyangka kalau itu anggrek karena tumbuhnya di tanah, di antara tumbuhan herba. Melalui identifikasi awal teman saya dan Dosen Fakultas Biologi UGM, nama spesies anggrek itu adalah Platanthera Susannae, salah satu anggrek langka yang hanya ditemukan di tiga tempat di Indonesia.
 
Ternyata tidak hanya satu jenis, kami menemukan jenis lainnya yang lebih kecil, warnanya merah muda keunguan. Bunganya mini, tersusun dalam barisan seperti pisang, cantik sekali. Sampai sekarang, kami belum tahu nama spesiesnya. Buat yang penasaran anggrek liar di Wonosadi, datang aja ke Gunung Kidul. Hanya 1,5 jam perjalanan, kita naik bus jurusan Jogja-Wonosari, turun di pertigaan Sambi Pitu, lalu naik minibus ke arah Ngawen.

Tidak hanya anggrek, di Wonosadi kita juga dapat menikmati alat musik tradisional dari bambu yaitu Rinding Gumbeng. Bagi yang suka hiking, menelusuri Hutan Wonosadi mempunyai nilai tantangan tersendiri. Rasakan petualangan fantastik dan menarik dalam mencari anggrek liar di Wonosadi!

Penulis: Sielvia Permatasari Setiyaviana

Add comment March 30th, 2007

Ke Yogya, Jangan Lupa Bakpia

“Mau ke Yogya yah? Jangan lupa pulangya bawa bakpia Pathuk, yah!,” begitulah biasanya kita kerap memesan atau dititipi oleh–oleh setiap kali ada yang bertandang ke Yogya. Rasa–rasanya bakpia Pathuk kini memang telah identik sebagai buah tangan khas kota pelajar itu. Berkunjung ke Yogyakarta rasanya belum pas kalau tidak mampir ke pusat pembuatan dan penjualan bakpia Pathuk.

Di kawasan Kampung Pathuk, Jalan K.S. Tubun, paralel dengan Jalan Malioboro itu ada puluhan pengusaha rumahan memproduksi makanan khas yang terbuat dari tepung berisikan kacang hijau itu. Puluhan mobil atau bus–bus wisata biasanya selalu padat parkir di ruas jalan sepanjang 1 kilometer itu, terutama di hari–hari libur.

Begitu membuka pintu mobil, hampir dapat dipastikan Anda langsung diserbu sejumlah tukang becak, pemuda, atau calo lain. Mereka saling berebut menawarkan jasanya. “Pia Pak, Bu, Om? Mari saya antar langsung ke pabriknya. Lebih enak, lebih murah, halal, dan lebih terjamin mutunya. Mari… mari Pak, Bu, Om!” ujarnya nyerocos sambil berusaha menggiring Anda ke lokasi yang mereka kehendaki. Kenyataan itulah warna keseharian, sekaligus gambaran sengit dan runyamnya persaingan perdagangan bakpia di sana.

Mereka saling bersaing, saling sikut, saling menjatuhkan yang lain dalam upayanya merebut hati konsumen. Bayangkan saja, hingga sekarang di seputaran Jalan Pathuk terdapat sekira 100 pedagang atau produsen bakpia. Dari sekian jenis bakpia pathuk, perbedaan yang mudah dilihat hanya pada label kemasannya yang menunjukkan alamat rumah produsen atau tokonya, semisal 25, 38, 67, 75, 99, atau nomor lainnya. Sulit dilacak bagaimana riwayat bermulanya, yang pasti perkembangan pasar pia berjalan seiring dengan merebaknya calo. Bahkan sejak beberapa tahun lalu, masyarakat kampung seputar Jalan Pathuk seperti Ngadiwinatan, Ngampilan, Sanggrahan, atau Mertolulutan pun saling mencoba memproduksi dan berlomba memasarkan bakpia.

Bakpia sebenarnya bukan makanan khas Yogyakarta. Kue dengan citarasa dan aroma khas itu konon berasal dari negeri aslinya bernama Tou Luk Pia, yang artinya pia (kue) kacang hijau. Kue tersebut terbuat dari adonan tepung terigu dan minyak kelapa (kulit atau pembungkus) dan isi atau bumbu terdiri dari campuran kacang hijau, gula pasir, dan garam. Sebetulnya selain berisi kacang hijau, ada pula produsen yang memproduksi bakpia isi kacang hitam, coklat, dan keju. Yah, siapa tahu kelak akan ada bakpia rasa strawberi, vanila, duren, atau salak pondok.

Proses pembuatan bakpia menurut dia tidak susah. Tepung pelapis yang terbuat dari terigu dimasak sedemikian rupa sehingga mudah dibentuk bulatan. Akan halnya isinya, kacang hijau, harus melalui beberapa tahap agar siap menjadi isian yang lezat mulai dari dibersihkan, dirimbang air, direbus, ditumpuk dan dikukus. Setelah itu kacang hijau dimasukan dalam tepung terigu lantas dipanggang selama 20 menit. Selama 20 menit itu panggangan bakpia harus dibolak–balik setidaknya tiga kali. Setelah itu didinginkan dengan cara diangin–anginkan di atas tampah baru kemudian siap dimasukkan dalam dos.

Sekadar informasi, di saat ramai seperti musim liburan sekolah, sebuah pabrik bakpia di Pathuk bisa menghabiskan 4–5 karung terigu sehari. Para pekerja mereka pun kerap harus lembur hingga hampir tengah malam. Namun di hari–hari biasa, setiap harinya mereka rata–rata menghabiskan 2 karung terigu saja.

Pia merupakan produksi “padat karya” yang harus dikerjakan secara tradisional melibatkan banyak karyawan. Sebuah produsen bakpia rata–rata bisa memperkerjakan 10–50 pekerja dan setidaknya memproduksi sekira 7.500 butir (300 dus) perhari. Jumlah tersebut merupakan omzet rata–rata pada ‘hari–hari sepi. Pada hari baik seperti musim liburan atau menjelang hari raya tertentu, otomatis omzetnya berlipat hinga dua atau tiga kali.

Entah siapa yang memulai, tapi sebenarnya ada salah kaprah dalam penamaan bakpia. Sebab kata “bak” berarti daging (khususnya daging babi; maaf). Padahal tak ada satu pun bakpia Pathuk yang dibuat dengan isian daging. Jadi, sebenarnya cukup dengan “pia” saja.

Lagi pula sebenarnya bakpia Pathuk masih sejenis dengan kue bulan atau tiong chiu pia yang berbentuk lingkaran berdiameter 10 –15 sentimeter berwarna putih dan tebalnya sekitar 2–3 sentimeter. Kue yang bagian luarnya agak keras karena terbuat dari terigu tanpa ragi itu biasanya ramai dijajankan sekitar tahun baru cina atau imlek. Selain ukurannya yang lebih besar dan merek pembuatnya yang biasa distempel dengan tinta merah langsung di atasnya, isian kue bulan sedikit berbeda ketimbang bakpia. Sebab isian kue bulan selalu lebih basah dan lembek dibanding bakpia yang biasanya kering.

Kembali ke bakpia, jika ingin membeli bakpia untuk keperluan beberapa hari atau dibawa keluar kota, ada baiknya memilih bakpia yang telah diangin–anginkan. Jangan asal dibungkus rapat ketika masih panas baru diangkat dari panggangan. Setelah sampai di tempat tujuan, simpanlah di lemari es.

Bakpia ini akan tahan hingga lebih seminggu tanpa ada perubahan rasa. Kalau mau lebih nikmat lagi, kalau ada panggangan atau microwave, dihangatkan dulu barang 10–15 detik. Selebihnya, hmmm……
Begitulah, bisnis oleh–oleh setidaknya dalam lima tahun terakhir ini tak bisa lagi dilihat sebelah mata.

Pusat oleh–oleh tumbuh di berbagai kota. Oleh–oleh digarap sebagai usaha profesional. Kemasan mereka yang apik seperti membungkus dapur tradisional yang penuh jelaga dan kerja keras para pembuatnya. Para pedagang oleh–oleh itu dengan jeli mengemas dan menjual oleh–oleh. Sejarah panjang penganan itu ikut terkemas di dalamnya.

Penulis: Rudianto Pangaribuan
http://community.kompas.com

Add comment March 30th, 2007


Calendar

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Posts by Month

Posts by Category