Archive for September 4th, 2006

Ketoprak di Era Industri Hiburan

Drama tradisional ketoprak yang dimainkan oleh Forum Seniman Gumregah menawarkan warna baru dengan memasukkan unsur seni-seni kontemporer dari tata panggung hingga cerita. Adegan perang yang biasanya disajikan apa adanya melalui perkelahian, kini dikemas dalam koreografi tari kontemporer. Tata panggung tunggal pun diubah menjadi multi-setting seperti dalam panggung teater modern.

Warna baru seni tradisional itu muncul dalam geladi bersih ketoprak berjudul Saidjah & Adinda, di Studio Tari Banjarmili, Kradenan, Banyuraden, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (31/8). Ketoprak yang didukung oleh Forum Seniman Gumregah ini mengemas kesenian rakyat sesuai perubahan sistem sosial masyarakat yang menghendaki tontonan ringan, cerdas, kontekstual, dan menghibur.

Ketoprak ini akan dipentaskan di Pendapa Taman Budaya Surakarta (2 September), Taman Budaya Yogyakarta (18 September), dan di Gedung Kesenian Jakarta (20 September).

Cerita yang diangkat oleh sutradara Bondan Nusantara dan Susilo “Den Baguse Ngarso” Nugroho, bersumber dari buku Max Havelaar karya Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker (1859). Cerita berlatar belakang masyarakat Banten selatan ini menceritakan kisah sepasang kekasih, Saidjah dan Adinda. Mereka hidup di zaman serba sulit akibat kesewenangan penguasa.

Saidjah dan Adinda adalah simbol dari rakyat biasa yang menginginkan kehidupan damai dan tenteram dalam kesederhanaan. Harapan yang manusiawi ini ternyata hanya ditemukan setelah hidup mereka berakhir di ujung pedang dan peluru yang menembus tubuh.

Cerita ini dikemas dalam rangkaian cerita yang ringan dengan bumbu-bumbu humor. Dari satu adegan ke adegan yang lain diselingi tari yang mengganti adegan konvensional maupun narasi. Gerakan pemuda desa yang ingin mencari pekerjaan ke Batavia dituangkan dalam tari yang rancak dan bersemangat. Masuknya tarian yang ditata oleh Miroto berhasil menghidupkan tontonan dan melepaskan penonton dari kebosanan yang muncul dari dominasi dialog.

Unsur-unsur kesenian tari dan teater tidak melulu berdiri sendiri. Dalam satu adegan yang menggambarkan penindasan penguasa pada rakyat, unsur tari dan teater disajikan bersamaan. Ketakutan rakyat digambarkan dalam gerakan-gerakan panik, tubuh yang meringkuk, dan ekspresi wajah memelas dari para penari.

Sedangkan antek penguasa yang sewenang-wenang, digambarkan dengan sosok kasar yang memegang pentungan. Ia tidak pandang bulu, rakyat yang membangkang pasti kejatuhan tendangan, tamparan, dan jambakan. Adegan kekerasan itu ditata dalam gerak estetis para penari. Kekerasan yang menjijikkan itu bisa hadir dalam gerakan yang indah, dramatis, sekaligus memilukan.

Ketoprak yang berdurasi sekitar 1,5 jam itu memasukkan simbol- simbol yang harus dicerna oleh penonton. Dalam ketoprak tradisional, pesan simbolik biasanya disajikan dalam tutur kata. Ketoprak ini mengemas nilai-nilai kehidupan dalam gerakan dan wujud materi.

Keris yang menjadi harta paling berharga milik ayah Saidjah terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Bagi masyarakat Jawa, keris adalah pusaka dan harga diri. Jika keris telah dijual, berarti harga diri manusia telah dicampakkan ke titik terendah.

Bondan juga memasukan simbol cambuk dalam satu adegan untuk membangkitkan semangat. Cambuk yang diangkat tinggi dan dilecutkan itu merupakan simbol semangat perlawanan. “Cambuk itu pembangkit semangat seperti saat Bung Karno menyemangati rakyatnya. Bila cambuk itu dicampakkan, semangat sudah tidak ada lagi dalam diri manusia,” tutur Bondan.

Forum Seniman Gumregah sepertinya tidak ingin terjebak pada cerita-cerita baku yang telah membeku. Mereka pun menafsir ulang cerita Max Havelaar menjadi sebuah dialog batin. Max Havelaar dan Multatuli dimasukkan dalam cerita sebagai tokoh yang berbeda. Kedua tokoh ini selalu berdialog mengenai siapa yang bisa membebaskan masyarakat dari kenestapaan, senimankah, pemerintahkah, atau rakyat itu sendiri.

Dialog-dialog itu memancing diskusi dalam diri setiap penonton untuk merunut ulang seberapa besar peran elemen masyarakat dan pemerintah dalam kehidupan bernegara ini. Situasi krisis di Lebak, Banten, ditarik olek Forum Seniman Gumregah ke dalam permasalah pascagempa bumi 27 Mei. Pemerintah yang tidak becus mengurus rakyatnya justru membuat jebakan dengan janji-janji uang rekonstruksi.

Di manakah peran pemerintah jika rakyat akhirnya kehilangan kepercayaan pada pemimpinnya. Konflik horizontal yang terjadi tidak bisa diselesaikan oleh penguasa, tetapi oleh rakyat itu sendiri. Kebangkitan rakyat justru lahir dari cambuk yang dilecutkan oleh mereka sendiri.

Multatuli telah menuliskan ketidakberdayaan pemerintah mengatasi keterpurukan rakyat dalam Max Havelaar. Buku yang lahir dari realitas sosial politik dan budaya zaman kolonial itu dipertanyakan perannya dalam ketoprak Saidjah & Adinda. Keluasan pengetahuan dan kemampuan menelaah pengalaman masa lalu ternyata belum menunjukkan hasilnya di negeri ini.
(Agung Setyahadi-Kompas)

Add comment September 4th, 2006

Pantai Sundak dan Ngandong, Mutiara Hitam Gunung Kidul

Wisata pantai di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta, seakan tak pernah jenuh. Selain pantai-pantai yang sudah tenar, seperti Baron, Kukup, Krakal, Drini, dan Ngrenehan, terdapat dua pantai lain dengan panorama yang tak kalah indah. Selain berpasir putih, pantai ini juga dihiasi terumbu karang dan dilengkapi Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Keduanya adalah Pantai Sundak dan Pantai Ngandong.

Namun, keberadaan kedua pantai ini terbilang unik. Berbeda dengan pantai selatan lain di Gunung Kidul, di tempat tersebut terdapat resor dan sirkuit mini “off-road”. Selain itu, fasilitas wisata di kedua pantai ini terhitung cukup lengkap. Terdapat lapangan parkir yang cukup luas, gardu pandang, bilik-bilik rumah makan, panggung hiburan, balai pertemuan, dan masjid. Di sepanjang pesisir Pantai Sundak juga bisa dijadikan tempat berkemah.

Konon, dahulu Pantai Sundak bernama Wedibubrah. Suatu ketika terjadi perkelahian sengit antara seekor anjing milik penduduk setempat dengan landak di pinggir pantai hingga masuk ke sebuah goa. Pertarungan tersebut akhirnya dimenangkan si anjing yang keluar dari goa dengan tubuh basah kuyup sambil menggigit tubuh landak. Goa yang ternyata digenangi air itu kini bernama Goa Sundak.

Sejak itu kawasan Wedibubrah berganti nama menjadi Pantai Sundak, kepanjangan dari “asu” dan “landak”. Kini, sumber air di Goa Sundak menjadi penopang utama kebutuhan air penduduk Pantai Sundak dan sekitarnya. Pengembangan dan pengelolaan sebagai obyek wisata sudah dilakukan Dinas Pariwisata Gunung Kidul sejak tahun 1980-an.

Di sebelah barat Pantai Sundak terhampar Pantai Ngandong yang dilengkapi dengan TPI Ngandong. Di kawasan pantai ini juga terdapat sebuah resor mewah bernama Watulawang Adventure Resort. Wisatawan yang berkunjung ke resor ini biasanya berasal dari Jakarta atau mancanegara, seperti Australia, Jepang, dan Eropa. Resor ini biasanya ramai ketika akhir pekan.

Watulawang Adventure Resort memiliki beragam paket wisata, di antaranya menikmati keindahan pantai selatan di gardu pandang yang terbuat kayu, berkeliling menyusuri Pantai Sundak dan Ngandong sambil memancing ikan menggunakan perahu tempel, menjajal “off-road” di sirkuit mini dengan kendaraan jenis jip, plus menginap satu malam di resor yang mayoritas terbuat dari kayu. Harga paket wisata ini terbilang cukup mahal, mencapai 1.000-1.400 dollar AS dengan kapasitas maksimal peserta 10 orang. Namun, petualangan yang ditawarkan sungguh menarik, sehingga untuk ikut paket wisata ini harus mendaftar terlebih dulu.

Akses menuju pantai yang terletak di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, ini tergolong relatif mudah. Meskipun belum dialiri listrik, jalanan menuju Pantai Sundak dan Ngandong sudah beraspal dan ditunjang rambu-rambu petunjuk yang memudahkan wisatawan yang hendak berkunjung.

Lelah bermain di pantai, pengunjung dapat mampir di TPI Ngandong dan membeli ikan laut segar hasil tangkapan sekitar 20 nelayan dari Kelompok Nelayan Ngandong Mina Lestari. Jika ingin makan di tempat, warung-warung yang ada di situ siap membakar atau menggoreng ikan segar tangkapan nelayan sesuai selera. Dengan Rp 15.000, sudah dapat menikmati satu kilogram ikan campur-di antaranya pari, tongkol, kakap, dan lendra-dua gelas teh hangat, dan tiga porsi nasi merah dan putih. (SUGITO/LITBANG KOMPAS)

Add comment September 4th, 2006

Pesona Aneka Bakso di Kota Salatiga

Ketenaran Salatiga sebagai kota bakso memang sudah tidak diragukan lagi. Ada banyak sekali warung bakso yang tersohor dan memiliki pelanggan fanatik. Dari sekian banyak warung bakso di Salatiga, ternyata hanya ada satu yang menawarkan beragam cita rasa bakso, yakni Rumah Makan Taman Sari.

Rumah makan yang terletak di Jalan Diponegoro 105 ini menawarkan 23 macam rasa bakso. Mulai dari bakso udang, kakap, tengiri, urat sapi, daging sapi, babat urat, cumi jamur, hingga ayam udang. Bakso beragam rasa ini dihidangkan bersama bakso daging sapi yang khas atau bisa saja disajikan secara khusus hanya cita rasa yang dipilih.

“Beragam rasa bakso yang disediakan di sini merupakan hasil olahan sendiri. Resepnya diperoleh dari hasil eksperimen, mencari referensi dari majalah, dan mengombinasikannya dengan bumbu lain sehingga memiliki rasa yang khas dan bisa dinikmati segala lapisan usia,” kata Setiani, pengelola rumah makan tersebut.

Dari sekian banyak aneka rasa yang disediakan, ada sejumlah nama bakso yang cukup asing di telinga. Sebut saja bakso kaki naga, kepompong, atau teratai. Menurut Setiani, nama-nama bakso yang unik ini rata-rata perpaduan dari beragam daging yang diolah menjadi satu.

Misalnya saja bakso kaki naga yang dibuat dari campuran daging udang dan ayam. Bakso kepompong yang dibuat dari campuran daging kakap, serta bakso teratai yang dibuat dari campuran biji teratai.

“Rasa tahunya cukup menonjol dan tidak kalah dengan bakso daging sapinya,” komentar Hendro, salah seorang pengunjung yang memesan bakso tahu.

Aditya, pengunjung lainnya yang memesan bakso kaki naga, mengaku cukup terkesan. Ada perpaduan pangsit dan udang yang khas seperti tempura. Namun saat dimakan dengan bakso daging sapi, rasanya masih terasa.

“Rasa urat sapinya berbeda dengan bakso dari Wonogiri yang juga terkenal dengan baksonya yang enak. Ada campuran rasa tertentu yang sulit digambarkan, namun secara umum cukup enak,” kata Priman, salah seorang pengunjung dari Wonogiri.

Untuk menghasilkan cita rasa bakso daging sapi yang khas dibanding dengan bakso yang dijual di tempat lain, menurut Setiani, sengaja dipilih daging sapi dengan kualitas tertentu. Komposisi bumbunya bisa dikatakan merupakan hasil pergumulannya selama 40 tahun dalam menjual bakso.

Jika Anda pencinta bakso dan berminat mencicipi aneka cita rasa bakso, tidak ada salahnya jika mencobanya di sini. Tentu saja jangan lupa menyiapkan kocek yang lumayan tebal karena bakso yang dijual di sini bisa dikatakan harganya di atas rata-rata. (Wahyu Haryo PS-Kompas)

Add comment September 4th, 2006

Kabupaten Sumenep : Pariwisata Pun Butuh Inovasi

Siang itu seorang pria muda menghampiri di Pantai Lombang, Kabupaten Sumenep. Matanya sayu, langkahnya lemas tidak bersemangat. Dia lalu bertanya, “Mas dari Surabaya ya? Boleh saya ikut ke sana, mas? Saya ingin cari kerja di sana. Di sini saya menganggur, mas.” Putus asa tidak mendapatkan pekerjaan di Sumenep menjadi faktor pendorong Musron (25), nama pria itu, mengatakan hal tersebut. Apalagi orangtuanya meninggal dunia sejak dia berada di kelas dua sekolah lanjutan tingkat atas. Oleh karena itu, pekerjaan sangat dia butuhkan agar dapat tetap hidup.

Potret Musron ini hanyalah satu potret dari fenomena pengangguran di Sumenep yang kesulitan mencari pekerjaan. Suatu hal yang seharusnya dapat dicegah jika saja pemerintah memerhatikan salah satu aset terpendam di Sumenep, yakni sektor pariwisata.

Ada Pantai Lombang, Pantai Slopeng, Keraton Sumenep, Makam Asta Tinggi, dan masih banyak potensi wisata lain yang belum tergali maksimal di Sumenep. Perhatian dan pengembangan sektor pariwisata yang maksimal dipastikan akan membuat jumlah pengangguran berkurang dan perekonomian masyarakat berkembang.

Sebagai bukti dapat dilihat dari yang dilakukan Remote Destinations Tourism, Indonesia Ecotour and Adventure Specialist, yang membuat paket wisata Sumenep selama tiga hari. Mayoritas dari acara wisata ini berlangsung di Pantai Lombang. Ke-44 turis mancanegara yang mengikuti paket wisata “diharuskan” menghabiskan malam di pantai.

Penginapan di Lombang dibuat khusus oleh Remote Destinations Tourism dengan mengambil sedikit ruang di Pantai Lombang yang landai dan luas. Sasak-sasak dari rotan dibuat sebagai dinding ruangan. Ruangan tersebut menghadap ke arah pantai. Sasak rotan di kiri, kanan, dan belakang ruangan dibuat setinggi 2 meter, sementara di depan dibuat 1 meter supaya pemandangan pantai tetap terlihat.

Ruangan baru ini dibuat seapik mungkin sehingga muncul nuansa etnis dan naturalis. Pintu masuk ruangan menggunakan pintu kayu yang penuh ukiran Madura. Begitu pula dengan kursi, meja, dan tempat tidur yang ada di ruangan. Hiasan lampunya juga disesuaikan dengan tempo dulu. Di sekeliling tempat tidur, kain digunakan sebagai penutup untuk menghindarkan turis dari terpaan angin saat beristirahat.

Sementara atap dan lantai ruangan dibiarkan tetap alami. Lantainya dibiarkan tetap pasir pantai, sedangkan atapnya memanfaatkan ranting dan dedaunan dari pohon cemara udang yang banyak di Pantai Lombang. Dibuat nyaman

Seperti layaknya hotel, terdapat pula ruang berkumpul, ruang makan, bar, dapur, dan kamar mandi. Kamar mandi juga dibuat senyaman mungkin meskipun ruang yang ada sangat kecil. Untuk menambah kenyamanan, dasar kamar mandi diberi pelapis lantai dengan corak hitam putih.

Leksmono Santoso, Direktur Remote Destinations Tourism, mengatakan, furnitur yang dipakai diambil dari Sumenep dan Pamekasan. Begitu pula hiasan kapal dari kayu dan hiasan-hiasan lainnya. Furnitur-furnitur itu kemudian ditawarkan dan dijual kepada para turis. Tidak sedikit turis yang tertarik lalu membeli furnitur dan hiasan tersebut.

Kegiatan-kegiatan yang diadakan untuk menghibur turis juga banyak melibatkan warga Sumenep, seperti tari-tarian untuk menghibur turis dan prosesi sapi sono. Selain itu, pembuatan dan penataan ruangan juga banyak melibatkan warga sekitar Lombang, begitu pula untuk petugas keamanan. Jadi kalau dijumlah, ada lebih dari 200 warga yang terlibat langsung dan meraup keuntungan dari acara itu.

“Kegiatan selama tiga hari ini memperlihatkan, kalau pariwisata betul-betul diperhatikan pemerintah, efeknya akan besar sekali bagi masyarakat. Apalagi Sumenep memiliki banyak potensi wisata yang bisa menarik turis,” ujar Leksmono.

Perhatian yang diberikan pemerintah, dia melanjutkan, tidak hanya dalam bentuk fisik seperti pembangunan fasilitas-fasilitas di tempat wisata, namun juga perawatan fasilitas, membuat inovasi- inovasi baru yang bisa menarik turis, dan yang paling penting melibatkan masyarakat dalam pariwisata.

Upaya kreatif dan inovatif ini yang akan dikembangkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep Edi Mustika. Salah satunya adalah acara petik laut yang akan diadakan pada 3-5 September. Perayaan petik laut ini lebih besar dan lama daripada petik laut yang diadakan tahun sebelumnya. Selain itu, Dinas Pariwisata Sumenep juga akan menggandeng tiga kabupaten lain di Madura untuk menggelar paket wisata Madura Tourism World.

Namun, semua upaya ini tidak akan berhasil tanpa kerja sama masyarakat Madura. Pasalnya, selama ini kendala dalam menarik turis ke Madura adalah masih adanya persepsi negatif terhadap Madura. Membalikkan persepsi inilah yang membutuhkan waktu tidak sesaat dan tentunya kerja sama masyarakat Madura sangat dibutuhkan.(Antonius Ponco Anggoro-Kompas)

Add comment September 4th, 2006

Dari Hutan Anggrek Pasir Sunyi

Rasa penasaran mendorong Kompas mengunjungi hutan anggrek alami, Cagar Alam Padang Luwai di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Padang Luwai atau lazim disebut Kersik Luwai dalam bahasa Dayak berarti ’pasir sunyi’. Jalan ke daerah itu masih berupa tanah disertai sejumlah kubangan lumpur. Pagi itu Kompas bersama beberapa kontributor televisi tiba di depan portal Cagar Alam Padang Luwai. Pos penjaga dan bangunan pusat informasi pariwisata kosong. Hanya ada suara kami dan serangga hutan.

Tak guna menunggu, kami segera menyusuri jalan setapak menuju rimbunan pepohonan mencari anggrek alam. Tidak lupa kami menenteng kamera digital dan tas berisi air minum. Kami berharap bisa menjumpai dan merekam beberapa jenis anggrek yang mekar.

Heran bercampur bingung saat menyusuri jalan setapak berupa pasir putih yang sangat lembut di tengah kawasan hutan pegunungan. Kebingungan bertambah karena di atas hamparan pasir putih itulah pepohonan tumbuh.

Hamparan pasir putih ini tidak berada di tepi pantai, tetapi di tengah hutan pegunungan dengan ketinggian 135 meter dari permukaan laut (mdpl). Jaraknya pun ratusan kilometer dari pesisir.

Karena keunikannya, kawasan di antara Kecamatan Damai dan Kecamatan Sekolaq Darat itu ditetapkan sebagai cagar alam dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 792/Kpts/Um/10/1982.

Namun, rasa ganjil kami lupakan karena lebih bersemangat mencari anggrek. Tubuh harus membungkuk memasuki semak kerangas. Mata sibuk mencermati setiap tegakan mencari anggrek yang mekar sehingga patut direkam dengan kamera digital.

Padang Luwai merupakan nama kawasan konservasi seluas 5.000 hektar. Namun, luas kawasan pepohonan tempat tumbuh beragam anggrek ini cuma 17,5 hektar.

Di tempat itu tumbuh alami beragam jenis anggrek di bawah naungan rimbunan pohon yang dikelilingi hamparan pasir putih. Tiap jenis anggrek memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan jenis anggrek dari daerah lain.

Sebelum kebakaran lahan yang cukup hebat terjadi tahun 1982, luas hutan anggrek 400 hektar. “Mula-mula teridentifikasi 72 jenis anggrek, tetapi kini tinggal 57 jenis karena yang lainnya mati akibat kebakaran hebat,” ujar Didimus, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur.

Anggrek-anggrek alami di Padang Luwai tidak mudah ditemukan di tempat lain. Beberapa jenis bahkan endemik atau asli Kalimantan. Salah satu jenis yang sangat tersohor adalah anggrek hitam (Coelogyne pandurata) yang agak mudah ditemukan di bawah rimbunan pepohonan.

Kami menemukan anggrek hitam yang sedang mekar. Ternyata anggrek itu berbeda dari yang kami bayangkan.

Kelopaknya tidak hitam, tetapi hijau muda. Jumlah kelopaknya lima. Bentuknya menyerupai bunga kenanga besar dengan diameter 10 sentimeter.

“Benar-benar cantik,” ujar seorang rekan yang tidak henti merekam anggrek hitam dengan kameranya.

Anggrek hitam mekar setiap bulan dan mampu bertahan sampai satu minggu. Pada satu tangkai sepanjang 20 sentimeter terdapat belasan kuntum bunga. Bibir bunga diwarnai titik-titik hitam yang sangat pekat dan rapat.

Anggrek hitam, selain di Kalimantan, juga ditemukan di Sumatera. Jenis ini rawan kepunahan sehingga termasuk dalam daftar tumbuhan yang dilindungi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Dalam pencarian, kami juga menjumpai kantong semar (Nephentes sp). Tumbuhan ini menyerupai terompet yang memiliki rongga.

Kulit luar bagian rongga berwarna hijau atau merah. Kami juga menjumpai sarang tawon sebesar ban truk dengan diameter sekitar satu meter. Sarang berwarna coklat kehitaman itu bergantung di salah satu pohon.

Kantong semar jumlahnya banyak sekali dan tumbuh liar merambat di sela-sela tegakan pohon. Terdapat semacam lendir di dalam rongganya yang bisa menjerat serangga sehingga disebut-sebut memangsa dan mencerna serangga yang masuk ke dalamnya.

Kami juga menjumpai beberapa jenis anggrek yang belum mekar. Sayangnya, kami tidak bisa mengidentifikasi jenis-jenis yang kami temui itu. Namun, melihat sendiri keindahan Anggrek hitam yang mekar cukup menjadi pelipur rasa.

Anggrek merpati

Menurut Didimus, di Padang Luwai juga tumbuh anggrek merpati (Dendrobium rumenatum) yang saat mekar bentuknya seperti sayap merpati. Bunganya putih bersih dan hanya mekar selama satu hari.

Didimus juga mengatakan di lokasi itu ada anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum) atau dikenal juga sebagai anggrek harimau yang tangkainya bisa mencapai dua meter sehingga dikatakan seperti tebu. Warna bunganya menyerupai kulit harimau yang berbintik-bintik coklat, kuning, dan hitam.

Anggrek ini hanya berbunga setahun sekali, yakni mulai Desember. Meski demikian, bunganya bisa bertahan hingga Februari. “Kalau ingin melihatnya, sebaiknya datang pada pertengahan Desember,” ujar Didimus.

Selain itu, tumbuh juga anggrek ratap tangis yang bentuknya seperti rantai, berwarna coklat, dan harum. Ada yang mengibaratkan bentuk tumbuhan itu seperti tetes air mata seorang gadis yang sedang menangis.

Didimus juga menyebut anggrek sragotanga (Coelogyne foerstermanii) atau anggrek bambu yang ujung daunnya seperti anyaman bambu.

Dalam catatan Kompas, di Padang Luwai juga tumbuh anggrek kumis kucing karena lebih banyak “kumis”-nya ketimbang bunganya yang putih. Juga tumbuh anggrek buluh rindu. Kuntum bunganya putih, tetapi lidah bunganya kuning sehingga sangat menarik. Anggrek ini berbunga setiap bulan sehingga senantiasa membuat orang rindu menatapnya.

Kersik Luwai

Hutan anggrek itu dinamakan Kersik Luwai, pasir sunyi, karena hamparan pasir di tengah hutan itu memang jauh dari ladang atau permukiman penduduk. Tempat itu juga sepi karena jarang dikunjungi orang.

Jumlah pengunjung sekitar 700 orang per bulan. Itu pun didominasi penduduk Kutai Barat.

Ketika diindonesiakan, kersik diartikan sebagai padang pasir sehingga dinamai resmi Cagar Alam Padang Luwai. Tempat itu tidak terlalu sulit untuk dijangkau wisatawan mana pun.

Padang Luwai terbuka untuk umum. Kawasan tersebut terletak sekitar 360 kilometer dari Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur ke barat. Untuk menjangkaunya, pengunjung bisa menggunakan pesawat, kapal, mobil, dan bus.

Jika menggunakan pesawat, pengunjung bisa berangkat dari Balikpapan menuju Bandar Udara Melalan di Sendawar, ibu kota Kutai Barat, dengan pesawat Twin Otter berkapasitas 16 penumpang. Perjalanan dilanjutkan dengan menyewa ojek motor atau mobil.

Bisa juga menggunakan bus atau mobil menyusuri rute Samarinda-Sendawar dengan waktu tempuh sekitar delapan jam jika kondisi jalan tidak berlumpur akibat hujan. Bus rute Samarinda–Melak tersedia di Terminal Sungai Kunjang di Samarinda. Sampai di Melak, perjalanan dilanjutkan dengan ojek atau mobil.

Jika menggunakan kapal, pengunjung akan menyusuri Sungai Mahakam.

Panorama di sepanjang sungai cukup menarik, tetapi waktu tempuh menjadi 14 jam dari Pelabuhan Sungai Kunjang di Samarinda sampai di Pelabuhan Melak. Dari pelabuhan, perjalanan diteruskan dengan ojek atau mobil. (Ambrosius Harto-Kompas)

Add comment September 4th, 2006

Kapuas Hulu Tunggu Limpahan Turis Serawak

Penat rasanya membayangkan perjalanan pulang sejauh 750 kilometer dari Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menuju Pontianak. Dalam kondisi normal saja perjalanan darat antarkota itu harus ditempuh 18 jam karena jalan yang dilalui sebagian besar rusak. Harapan kembali ke Pontianak dengan pesawat terbang yang perjalanannya cuma sejam kandas karena ketidakjelasan jadwal penerbangan. Rute Putussibau-Pontianak dilayani Air Mandiri, yang mencarter pesawat milik maskapai penerbangan Merpati dan Dirgantara Air Service.

“Pesawat yang biasanya digunakan sedang diperbaiki di Singapura. Karena itu, sementara ini tidak ada penerbangan. Tapi nanti pasti terlayani lagi,” ujar Bupati Kapuas Hulu Abang Tambul Husin saat ditemui di Putussibau beberapa waktu lalu.

Jika salah satu ukuran kemajuan sebuah daerah adalah sarana perhubungan, sesungguhnya Kapuas Hulu yang merupakan kabupaten tertimur Kalimantan Barat (Kalbar) mengalami kemunduran. Ketika daerah lain berhasrat terlayani penerbangan reguler, transportasi udara untuk Kapuas Hulu antara ada dan tiada.

Dengan tarif Pontianak-Putussibau lebih dari Rp 500.000 per orang (lebih mahal dari Pontianak-Jakarta), konsumen biasanya hanya membeli tiket sekali jalan. Untuk perjalanan pulang, mereka cenderung memilih bus antarkota yang bertarif lebih murah, Rp 180.000 per orang.

Lantas, bagaimana dengan turis mancanegara maupun domestik? Sangat jelas mereka enggan 18 jam terantuk-antuk di bus. Padahal, dengan luas Kapuas Hulu yang 2,98 juta hektar, di mana 56 persen di antaranya adalah kawasan konservasi dalam bentuk taman nasional dan hutan lindung, diharapkan wisata ekoturisme mampu menambah pendapatan asli daerah itu.

“Turis akan tetap datang, tapi menurut perkiraan kami, mereka akan datang dari Kuching, Serawak-Malaysia. Mereka dapat melalui ruas Badau-Putussibau sejauh 177 kilometer yang kini pengaspalan jalannya terus dilakukan,” ujar Abang Tambul Husin.

Pemerintah Negara Bagian Serawak-Malaysia kini sedang membangun jalan menuju perbatasan Badau di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar. Jalan itu nantinya menghubungkan Lubuk Antu di Serawak dengan Putussibau.

Pos lintas batas kedua

Jalan empat lajur sepanjang lebih kurang 10 kilometer yang dibangun Serawak itu menembus perkebunan kelapa sawit milik Malaysia hingga tepat di Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Badau.

“Pos Lintas Batas Badau akan dibuka tahun 2007, tapi kami optimistis pengerjaannya selesai tahun ini. Kami juga sedang menunggu pengerjaan Pos Lintas Batas Serawak hingga nantinya ini menjadi pos lintas batas kedua,” kata Gubernur Kalbar Usman Jaffar di Badau.

Usman menambahkan, PPLB Badau akan menjadi PPLB kedua yang dibuka setelah Entikong di Kabupaten Sanggau (1991). Setelah pembukaan Badau, akan menyusul pembukaan PPLB Sajingan di Kabupaten Sambas dan PPLB Jagoi Babang di Bengkayang.

Kini PPLB Badau memang menjadi harapan masyarakat Kapuas Hulu. Selama ini warga Kapuas Hulu masuk ke Serawak berbekal surat keterangan dari Camat Badau.

Bupati Abang Tambul Husin optimistis pembukaan PPLB berpeluang meningkatkan perekonomian Kapuas Hulu, yang terlalu jauh dari Pontianak. Jarak Kuching-Lubuk Antu-Putussibau sekitar 460 kilometer, lebih pendek dari jarak Pontianak-Putussibau yang sekitar 750 kilometer.

Promosi Kapuas Hulu sebagai kabupaten konservasi alam dengan dua taman nasional yang mampu memikat turis harus terus didengung-dengungkan, meski tersirat bahwa Kapuas Hulu tidak lain hanya menunggu limpahan turis dari Serawak!

Masalahnya, apakah pembukaan PPLB Badau akan secara signifikan meningkatkan arus wisatawan menuju Kapuas Hulu? Persoalan pertama yang menghadang adalah sarana dan prasarana wisata nyaris tidak dimiliki kabupaten tersebut.

Selain itu, terdapat sederet masalah yang harus diselesaikan dengan merevolusi alam berpikir dan bertindak di Kapuas Hulu. Itu menjadi masalah bersama yang harus diselesaikan secara tanggung renteng oleh negara maupun masyarakat.

Masalah infrastruktur yang buruk, misalnya, adalah masalah klasik yang berkaitan dengan anggaran negara maupun daerah. Hal lain yang juga patut diperbaiki adalah penegakan hukum yang lemah.

Kalah indah

Kalau boleh membandingkan, alam Serawak-Malaysia bisa dikatakan kalah pesona dari Kapuas Hulu. Apalagi, alam Serawak kini hanya didominasi perkebunan kelapa sawit.

Namun, Kapuas Hulu dapat belajar dalam konsep memanjakan turis yang menjadi senjata utama kepariwisataan. Contoh konkretnya setidaknya dapat dilihat di Hotel Hilton Batang Ai, Lubuk Antu, Serawak-Malaysia. Hotel yang dapat ditempuh dalam waktu 20 menit dari perbatasan Serawak-Indonesia itu dipadati wisatawan Eropa. Berarsitektur rumah panjang khas Dayak, hotel itu mengisolasi para tamu di tepian Waduk Batang Air. Bahkan, bangunan utama hotel hanya dapat ditempuh dengan long boat (kapal motor) selama 20 menit dari pelataran parkir.

Dua hal utama yang patut digarisbawahi adalah tarif hotel yang relatif murah—setidaknya lebih murah dari tarif Hotel Santika di Pontianak—dan kegiatan luar ruang bagi turis yang dikelola sangat profesional. Misalnya, berjalan melihat senja, berperahu kayak di waduk Batang Ai yang dijadikan waduk pembangkit listrik, menyusuri sungai, memancing, serta memainkan sumpit, senjata khas Dayak. Semua acara itu telah diatur dalam jadwal hotel. Tentunya tiap paket wisata itu dinilai dengan ringgit, yang berarti pemasukan tambahan bagi hotel.

Beberapa pemuda Lubuk Antu yang menjadi pemandu—yang seluruhnya memakai pakaian berbahan khaki warna coklat muda dan berperilaku sopan—juga tampak selalu siap mengantar turis.

Bagaimana dengan kesiapan Kapuas Hulu? Sugeng Hendratno, dari Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) Kalbar, berpendapat, pemandu lokal umumnya belum profesional dalam menembus belantara Putussibau. “Sering kali para pemandu mengubah harga (tarif wisata tersebut) secara tiba-tiba di tengah hutan. Kalau tidak dipenuhi, mereka dapat saja pergi dengan seenaknya. Ini tentu pengalaman yang mencoreng pariwisata Indonesia di mata turis asing,” kata Sugeng.

Sarana hotel di Kapuas Hulu juga masih jauh dari memuaskan. Air di kamar mandi satu hotel yang dinilai paling “representatif” di Putussibau bahkan sering mati. Sementara itu, pelayan restoran tidak dapat menjelaskan jenis ikan yang disajikan, kecuali menyebutkan: ikan sungai.

Yang juga mengkhawatirkan wisatawan asing di Kapuas Hulu adalah perilaku sopir bus yang melaju hingga 100 kilometer per jam di ruas berkerikil. Seorang berkebangsaan Kanada, Tim Johnson, yang bersama Kompas melancong ke Putussibau pernah mengeluhkan hal itu.

Kapuas Hulu memang menawan. Namun, tampaknya pemerintah harus kerja keras menata segala kekurangan tersebut. (HARYO DAMARDONO-Kompas)

Add comment September 4th, 2006


Calendar

September 2006
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Posts by Month

Posts by Category