Archive for August 14th, 2006

Sydney Harbour

Fringed by sun-washed beaches and shady parks, Sydney Harbour provides a stunning backdrop to a maritime city renowned for its outdoor lifestyle and physical allure. Sightsee from a ferry, cruise past the billowing sails of Sydney Opera House, visit an island or catch a speedy water taxi.
Popular Manly
Catching the ferry from Circular Quay to the seaside suburb of Manly is a quintessential Sydney experience providing you with some stunning views of the Harbour, its islands and waterfront mansions.

Manly boasts both harbour and surf beaches and was once touted as being “seven miles from Sydney and a thousand miles from care”. You’ll find it still holds true today.

From Manly Wharf, spend the morning floating above the harbour. Sydney Harbour Parasailing takes those who are game out onto the water for an exhilarating ride that shows off the harbour from a completely different perspective.

Alternatively, experience a true adrenalin rush with Ocean Extreme. Gear up for a racy ride in an inflatable speed boat, dodging and weaving around larger vessels and riding through the wake.

Later, meander around to Oceanworld Manly, where you can see huge sharks being fed by hand, oceans of living coral and spectacular seal shows.

For spectacular views of Sydney’s necklace of golden beaches, the entrance to Sydney Harbour and a distant city vista, head up to North Head, just a short bus ride from Manly Wharf.

Complete your visit to Manly with a stroll along the surf beach esplanade. If learning to surf has been a dream, surfing lessons are available and with experienced guidance you will soon be able to tackle the waves.

Sydney Opera House
Sydney Opera House, an extraordinary structure on the harbour at Bennelong Point, is one of the world’s premier performing-arts centres. Opened in 1973, it has taken its place among the world’s most important buildings. It was designed by Danish architect Jorn Utzon and took almost 15 years to build.
Source : www.australia.com

Add comment August 14th, 2006

Whitsunday whiteness

The Whitsundays are one of the world’s best year-round aquatic playgrounds. The calm and protected waters of the Whitsundays are nothing short of magical and offer some of the best sailing and diving waters in the world.
Take a sailing holiday and tour some of the Whitsundays’ 74 islands. Only eight of these contain holiday resorts offering everything from wilderness to five star luxury. The rest are uninhabited. What to do once you’re out in these perfect, crystal blue waters? Try snorkelling, swimming, parasailing or scuba diving. Or maybe just laze around the deck with a book and a cool drink.

Make sure you cruise by Whitehaven Beach on Whitsunday Island. It features a seven kilometre stretch of pure white silica sand and is one of the most photographed beaches in the world.
Source : www.australia.com

Add comment August 14th, 2006

Ayam Kampung dan Angin Sepoi–sepoi

Di Rumah Makan Paranginan atau dalam bahasa Mandailing berarti sebuah tempat yang banyak angin, sangat cocok melepas lelah sambil menikmati hidangan makan siang. Masakan siang favorit orang di tempat itu adalah ayam kampung yang diolah gulai, goreng, maupun bakar. Bagi orang dalam perjalanan, Paranginan bisa menjadi pilihan untuk melepas letih dan lapar. Siang itu, saat dalam perjalanan darat Medan–Padang, kami mampir di sebuah tempat makan itu.

Terletak 10 kilometer dari Kota Panyabungan, ibu kota Kabupaten Mandailing Natal, sekitar 400 kilometer selatan Medan arah Kota Natal, rumah makan itu juga dikenal sebagai Rumah Makan Jembatan Merah. Sekitar 20 meter dari gerbang rumah makan terbentang jembatan bercat merah. Pemilik warung sengaja menyediakan tempat itu untuk mereka yang sedang bepergian, lelah, dan perlu makan.

Tempat itu berada persis di tepi Sungai Aek Singolot yang mengalir dari Gunung Sorik Merapi. Aliran sungai itu nantinya menjadi satu dengan Sungai Batang Gadis. Sebelum memesan, kami sejenak merasakan segarnya udara sejuk dan gemericik air alami.

Teng–teng
Pemilik rumah makan membangun tempat makan berpetak–petak lesehan. Setiap petak dilengkapi dengan lonceng sebagai tanda untuk memesan makan atau ingin membayar. Lonceng disediakan agar pengunjung tidak perlu berteriak. Maklum, rumah makan itu dekat dengan aliran sungai yang bisa menelan suara kita. “Teng–teng”. Sesaat kemudian pramusaji datang. “Makan apa, Bang?” tanyanya.

Kami memesan masakan komplet. Tak lama kemudian suguhan khas Mandailing sudah di depan mata. Kata orang, masakan ayam kampung di Paranginan paling banyak dicari orang. Ayam kampung itu sengaja diimpor dari Payakumbuh, Sumatera Barat.

Sajian lain yang memenuhi meja makan adalah masakan ikan mas selai, gulai, dan goreng. Masakan serupa juga dibuat dari ikan gembung. Semua bahan ikan berasal dari Panyabungan sendiri yang dikelola di kolam–kolam atau empang. Selain menu utama, sambal tuk–tuk yang ditumbuk halus dan ikan teri semakin menggoda selera. Bagi penikmat vegetarian, sayuran daun pepaya muda serasa menyegarkan karena tanpa rasa pahit.

Khoiriyah Nasution mengatakan, semua masakan yang dimasaknya sama sekali tidak memakai bumbu penyedap. Semua bumbu penyedap dibuat dari bahan alami yang diracik sendiri. Dia enggan menyebut rincian bumbu–bumbunya, hanya saja dia mengatakan bahan dominan bumbunya adalah santan kelapa.

Sebagian masakan yang disajikan di Paranginan dimasak memakai kayu bakar. Kayu itu diambil Khoiriyah dari kebun karet miliknya di tepi Sungai Aek Singolot, di seberang rumah makan. Dia memang tidak saja menjual makanan, tetapi juga suasana nyaman. Kebun karet di seberang rumah makan sengaja dia pelihara agar suasana asri tetap terjaga.

Untuk memelihara keasrian lingkungan, Khoiriyah mempekerjakan orang khusus membersihkan sampah di sungai. Sungai yang airnya lekat dan bercampur aroma belerang itu bukan miliknya, tetapi keasriannya bisa memengaruhi usaha yang telah dirintis sejak 1999.

Pengunjung bisa datang ke rumah makan itu sewaktu–waktu karena buka 24 jam. Siapa saja yang bepergian arah Medan–Padang bisa mampir istirahat dan menikmati masakan Paranginan di tepi Sungai Aek Singolot.

Meski buka 24 jam, masakan yang disajikan selalu baru. Untuk menu siang, masakan disiapkan sejak pukul 04.00 dini hari. Sementara menu makan malam disiapkan sejak pukul 16.00. “Jadi, semua masakan baru terus,” kata Khoiriyah. Karena itu, setiap hari rata–rata dia bisa menjual 100 porsi masakan kepada tamunya.

Bagi pengunjung yang datang pada malam hari, di Paranginan tersedia lima kamar yang bisa disewa Rp 35.000 per malam. Tempat menginap itu satu deretan dengan rumah makan, masih di tepi Sungai Aek Singolot. Gemericik air pun terdengar jelas dari kamar–kamar peristirahatan itu.

Tidak hanya orang yang sedang bepergian yang memanfaatkan tempat peristirahatannya, melainkan juga peneliti dan sejumlah anggota lembaga swadaya masyarakat. Bagi mereka, tempat itu cocok untuk menginap sementara waktu jika sedang ada kegiatan menyangkut Taman Nasional Batang Gadis.

Pesanan karyawan
Usaha Khoiriyah itu bermula dari pesanan pegawai Kantor Pemkab Mandailing Natal. Karyawan membutuhkan tempat makan siang yang segar setelah setengah hari bekerja. Lantas, ia membuka warung kecil di Desa Kayu Laut, Kecamatan Penyabungan Selatan, tepat di pinggir Sungai Aek Singolot, pada 1999. Lambat laun usahnya membesar. Tidak hanya para pegawai lagi yang makan di tempatnya, melainkan banyak orang yang sedang bepergian.

Khoiriyah yang masih melajang di usia paruh baya itu kini memiliki 12 karyawan pramusaji. Itu belum termasuk pegawai yang khusus membersihkan Sungai Aek Singolot di samping rumah makannya. Dari jumlah itu, delapan orang bekerja pada pukul 09.00–21.00, sementara empat orang lain bekerja pada pukul 21.00–09.00.

“Ajak kawan–kawanmu ke sini kalau sudah ketemu mereka,” kata Khoiriyah. (Kompas/Andy Riza Hidayat)

Add comment August 14th, 2006

Menikmati Cita Rasa Masakan India di Kampung Keling

Siapa pun yang pernah berkunjung ke Medan pasti tahu nama Kampung Keling, wilayah di jantung Kota Medan yang sejak masa penjajahan Belanda banyak dihuni warga keturunan India. Disinilah surga masakan khas India. Salah satu tempat makan yang paling banyak dikunjungi adalah Rumah Makan Cahaya Baru yang dikelola pasangan suami–istri Anthony Selliah dan Yacoba bersama anak dan menantu mereka, Ronald Amalraj dan Madu Malini.

Rumah makan yang didirikan 12 tahun lalu ini terletak di Jalan Tengku Cik Dik Tiro, jalan yang membujur memotong kawasan Kampung Keling. Setiap tukang parkir di kawasan ini tahu betul jika diminta menunjukkan lokasinya.

Begitu masuk ke dalam rumah makan, suasana ala India langsung terasa melalui dekorasi di dinding dan aroma masakan yang langsung tercium di hidung.

“Masakan kami memang banyak menggunakan rempah. Bau harumnya jadi sangat menyengat,” ujar Yacoba yang bersama suaminya adalah generasi ketiga leluhur mereka, suku Tamil di India Selatan, yang telah menetap lama di Medan.

Tepat waktu makan siang saat saya pertama kali datang ke sana dan menu yang cocok adalah nasi briyani kambing plus teh tarik. Nasi briyani, makanan khas orang India bagian selatan, memang menu istimewa rumah makan itu.

“Orang di utara lebih banyak memakan roti, meski di selatan juga ada pula yang makan roti, tetapi rotinya berbeda dari yang di utara,” ujar Yacoba.

Kalau melihat bentuknya, nasi briyani mirip seperti nasi goreng, tetapi tidak ada proses goreng menggoreng dalam membuat nasi briyani.

Sebelum membuat nasi briyani, terlebih dulu semua bumbu dan rempah yang diperlukan, seperti ketumbar, cabe kering, jintan halus dan kasar, bawang putih, bawang merah, jahe dan kunyit dimasak bersama daging kambing, ayam atau sayuran, tergantung jenis nasi briyaninya.

“Semua dimasak setengah matang. Saat memasak bumbu, kami juga memasukkan yoghurt agar daging terasa empuk. Setelah itu baru dimasukkan beras dan air. Kalau sudah tanak nasinya, kami masukan minyak sapi agar nasi harum dan tidak keras saat dingin,” ujar Yacoba.

Minyak sapi adalah pengganti mentega. Minyak ini dibuat dari olahan kepala sapi yang didinginkan di pendingin lemari es lalu disarikan lemaknya. “Jika menggunakan mentega, nasi briyani bisa terasa keras kalau sudah dingin,” kata Yacoba.

Untuk yang vegetarian, campuran nasi briyani adalah sayuran seperti bunga kol, wortel, buncis, dan kacang–kacangan. Banyak pengunjung vegetarian menikmati masakan Rumah Makan Cahaya Baru.

Biasanya, nasi briyani disajikan bersama sambar atau dalca dan pajri nanas. Sambar bentuknya mirip bumbu kari, tetapi bahan dasarnya adalah kacang hijau. Sementara pajri nanas adalah suwiran buah nanas yang dimasak dengan gula dan cabai. Rasanya mirip manisan.

Berbagai jenis roti
Bila ingin serasa betul–betul di India, coba juga berbagai jenis roti. Ada roti khas India bagian selatan disebut dosei, dan roti khas India Utara seperti chapati, naan, dan tanduri.

Dosei terbuat dari tepung beras. Adonannya dicampur kacang ulenthe, kacang khas Tamil yang bisa menggembungkan adonan. Bentuk ulenthe mirip kacang hijau tak berkulit. “Jadi, tidak perlu soda kue untuk menggembungkan adonan,” kata Yacoba.

Menikmati dosei harus dengan saus cathni yang terbuat dari kelapa, kacang tanah, cabai, bawang, dan sedikit jahe. Dosei juga biasa dimakan bersama sambar. Ada berbagai macam dosei, yang dicampur telur, daging kambing, ayam, atau sayuran. Ada juga yang polos; rasanya tawar, tetapi terasa nikmat bila dimakan bersama cathni dan sambar.

Roti khas India Utara berbeda bahannya. Chapati dan naan terbuat dari tepung roti biasa. “Naan biasa dimasak dengan menempelkan di pinggiran guci tanah liat yang dipanaskan, sementara chapati dimasak di kuali rata,” ujar Yacoba.

Sementara tanduri adalah jenis roti dari tepung gandum. “Orang India Utara memang sering membuat roti dari tepung gandum. Berbeda dengan di Selatan yang sering menggunakan tepung beras,” kata Anthony.

Tiga jenis roti khas India Utara ini biasa dimakan bersama daal, sejenis kuah dari kacang hijau dan dibumbui bawang merah, bawang putih, sedikit jahe, cabai, dan tepung kunyit. Untuk menguatkan aromanya, daal biasa ditaburi daun ketumbar. Rasanya gurih luar biasa.

Cita rasa India akan semakin lengkap bila kita juga menikmati teh tarik yang pembuatannya khas. Teh bercampur susu kental diaduk–aduk sambil dipindahkan dari satu wadah ke wadah lainnya dengan gerakan seperti menarik. Kalau sudah ahli, tarikan cairan teh bercampur susu kental ini tak akan tumpah meski gerakan tarikannya memanjang. “Kalau belum ahli ya pasti tumpah,” ujar Yacoba.

Memang bukan hanya sekadar kari dan roti cane yang ada di rumah makan yang buka pukul 10.00–22.00 ini. Tersedia juga berbagai jenis menu khas India dari ikan, udang, daging kambing atau ayam. Hujan di luar mulai berhenti saat saya tersenyum dan mengucap salam sambil berjanji akan datang lagi. “Namesti,” ujar mereka. (Kompas/Khaerudin)

Add comment August 14th, 2006


Calendar

August 2006
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category