Mahawu Mount, Sulawesi Utara

June 30th, 2006

Mahawoe, Roemengas ; Nama Kawah : Mahawu, Wagio, Mawuas
Lokasi : Koordinat/ Geografi :  01° 21,5′ LU dan 124°51,5′ BT. 
Kecamatan Tomohon, Minahasa Sulawesi Utara
Ketinggian : 1331 m. dml , Tipe Gunungapi : strato
Gunung Mahawu dapat dicapai dari Bandung dengan pesawat udara hingga di Manado, kemudian dilanjutkan dengan kendaraan umum atau carter menuju kecamatan Tomohon melalui jalan beraspal yang baik. Selanjutnya dari kota kecamatan ini menuju ke Pos Pengamatan Gunungapi Mahawu dan Lokon di Kakaskasen.

Untuk mencapai puncak G. Mahawu dari kakaskasen dapat digunakan kendaraan umum sampai ke dekat desa Rurukan. Dari wilayah Desa Rurukan ini perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki melalui jalan setapak yang cukup baik hingga puncak G. Mahawu dalam waktu 1 sampai 2 jam.
 
Berdasarkan tingkat aktifitas Manusia dalam suatu tutupan lahan, maka jenis tutupan lahan di G. Mahawu dan sekitarnya dikelompokan menjadi : wilayah pemukiman, pertanian dan hutan.
 
Pemukiman disekeliling G. Mahawu terutama terletak di sebelah barat dan baratdaya, hal ini mungkin dikarenakan disebelah barat merupakan daerah yang relatif datar dan subur, juga karena merupakan kota kecamatan. Sementara itu di lereng lain morfologinya relatif terjal sehingga orang kurang tertarik untuk bermukim. Oleh karena itu perkampungannya jarang dan terpencar-pencar dengan penduduk yang juga relatif sedikit. Infra struktur yang ada terdiri dari jalan aspal yang menghubungkan satu  desa dengan lainnya, ada juga jalan perkerasan dan sisanya jalan tanah serta jalan setapak. Selain jalan beraspal, sebagian besar pedesaan disekitar G. Mahawu juga telah memiliki sarana penerangan listrik.
 
Tutupan lahan pertanian terdiri dari kebun, tegalan/ ladang dan pesawahan.     Telah sejak dahulu bahwa kopra dan cengkeh merupakan hasil utama daerah Sulawesi Utara. Komoditi lainnya seperti coklat, kopi, buah-buahan dan sayur mayur juga banyak dihasilkan para petani di daerah lereng G. Mahawu ini. Sedangkan pesawahan menyebar setempat-setempat di daerah yang relatif rendah, kecuali di daerah dataran Kabupaten Tondano di kaki tenggara G. Mahawu dimana areal persawahan cukup luas.
 
Hutan yang terdapat di G. Mahawu terutama terdiri dari hutan alam yang berfungsi sebagai hutaan lindung, sedangkan yang bersifat hutan industri sangat kecil. Kawasan hutan hanya terdapatdi daerah lereng hingga daerah puncak G. Mahawu mulai ketinggian diatas 600 m hingga 1200 m diatas muka laut. Aktifitas manusia didalam hutan boleh dikatakan cukup minim dan bersifat sementara atau temporer.
 
Gunung Mahawu berdampingan sangat dekat dengan G. Lokon, dan tulisan tentang wisata geologi G. Lokon pernah dibuat oleh Wittiri (1995). Penulis ini menyarankan untuk memanfaatkan wilayah sekitar Lokon sebagai alternatif berdarmawisata, tidak disarankan untuk melakukan perjalanan ke puncak Mahawu terutama dalam jumlah banyak, lebih dari lima orang. Hal tersebut disebabkan karena di puncak Mahawu lahan untuk berkemah sangat sempit, bahkan tempat duduk untuk beristirahatpun tidak leluasa dan langsung berhubungan dengan bibir kawah. Alasan lain tidak disarankannya melakukan pendakian ke kawah Mahawu adalah konsentrasi gas sulfur yang tinggi. Dalam kondisi yang lelah kemudian menghirup gas belerang dapat menyebabkan pening dan mual.

 

 

Entry Filed under: Indonesia & Bali Tourism News

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

June 2006
M T W T F S S
« May   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts