Gunung Awu, Legenda Perseteruan Timur-Barat

June 30th, 2006

AWU tak selamanya diartikan abu atau debu dalam bahasa masyarakat Sangir (sebutan untuk kabupaten Sangihe). Dalam legenda masyarakat setempat, Gunung Awu adalah badan Ansuang (raksasa) Timur yang mati setelah kalah dalam perseteruan dengan Ansuang Barat. Hidung Ansuang Timur diibaratkan lubang kawah yang apabila “bernapas” akan mengeluarkan abu dan angin timur kencang. Legenda itu ditafsir masyarakat dalam bentuk letusan Gunung Api Awu. Setiap terjadi letusan Gunung Awu yang mengeluarkan partikel abu, selalu diikuti angin kencang bertiup dari timur.

Akan tetapi, tak lama datang angin barat meniup kembali debu itu. Gerakan angin yang saling berlawanan itu kerap terjadi dari letusan beruntun Gunung Awu sejak 18 Mei lalu.

“Percaya tidak percaya, kenyataan kami melihat gerakan angin berlawanan setiap terjadi letusan Awu,” ungkap Elvis Manangkalangi, warga Desa Tariang Lama, Kecamatan Kendahe, Jumat (11/6). Desa Tariang Lama berada di enam kilometer sebelah utara Gunung Awu.

Hari Kamis lalu sekitar pukul 5.30, Elvis dan sejumlah warga merasa ketakutan ketika Gunung Awu berketinggian 1.340 meter meletus dan mengeluarkan debu dan asap hitam seperti badan raksasa di puncak gunung. “Kami seperti melihat monster di puncak gunung, tangannya siap menerkam,” cerita Elvis.

Karena “monster” itulah warga Desa Tariang Lama, Talawid Atas dan Bawah, serta Kampung Lenganeng, Kecamatan Kendahe, yang semula bertahan di permukiman akhirnya lari mengungsi.

Kini desa-desa itu tampak kosong, rumah-rumah penduduk sepanjang pemantauan Kompas terkunci rapat.

Di desa berjarak 30 kilometer utara Tahuna hanya menyisakan puluhan lelaki (berbadan kekar) dipercaya sebagai penjaga kampung.

“Mereka akhirnya lari mengungsi setelah letusan Kamis pagi. Padahal pekan lalu Pak Bupati dan aparat Kodim telah menyediakan kapal untuk mengevakuasi masyarakat, tetapi mereka bertahan merasa aman,” ungkap R Pansariang, Kepala Kecamatan Kendahe.

Menurut Kepala Subdirektorat Pengamatan Gunung Berapi Indonesia Timur Syamsu Rizal, yang telaten mengamati aktivitas Gunung Awu, mengatakan bahwa letusan Kamis pagi merupakan terbesar dari belasan letusan Gunung Awu sejak 18 Mei lalu.

Namun, Syamsu tidak berani meramal bahwa letusan pada Kamis sebagai klimaks dari letusan Gunung Awu. Kemungkinan sewaktu-waktu bisa terjadi letusan lebih besar atau mereda sama sekali.

Yang pasti sejak Kamis malam sampai Jumat kemarin besaran simpang jarum seismograf di Pos Pengamatan Gunung Awu di Apengsembeka anjlok drastis, turun menjadi dua sampai tiga milimeter. Hari-hari sebelumnya besaran amplitudo seismograf di atas 30 sampai angka maksimal 45 milimeter.

Untuk mengamati Gunung Awu, ungkap Syamsu, Direktorat Vulkanologi telah menambah alat seismograf baru yang dipasang 2 kilometer dari puncak Gunung Awu. Pemasangan dilakukan Jumat pagi oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Awu.

Menurutnya, alat tambahan itu diambil dari Gunung Lokon sebagai cadangan, mengantisipasi seismograf yang terpasang di Awu sejak tahun 1990. Seismograf lama dikhawatirkan rusak akibat letusan karena terpasang dengan jarak 50 meter dari puncak Awu.

Awu merupakan gunung api tipe A, sama dengan Gunung Api Ruang di Tagulandang, Gunung Sangihe, dan Gunung Karangetang di Kecamatan Siau. Ketiga gunung api tersebut telah beraktivitas dan menelan sejumlah korban.

Terakhir Gunung Ruang meletus tahun 2002 dan menelan korban belasan orang. Dua tahun sebelumnya Gunung Karangetang juga meletus di Siau memunculkan kerusakan pada rumah-rumah penduduk.

Gunung Awu termasuk gunung api ganas. Gunung itu telah meletus tahun 1640, kemudian tahun 1711 yang menelan korban jiwa 3.000 orang. Kemudian meletus lagi pada tahun 1856 dengan korban tewas sekitar 2.806 orang dan tahun 1892 1.532 orang meninggal dunia. Terakhir Awu meletus tahun 1966 yang merenggut korban 39 jiwa 39.

Menurut cerita Kepala Kecamatan Kendahe Pansariang, korban meninggal di wilayah kecamatannya akibat letusan Awu tahun 1966 justru lebih banyak di lokasi pengungsian.

Diungkapkan masyarakat Kendahe yang diungsikan pemerintah ke Kecamatan Lolak Bolaang Mongondow 70 orang meninggal. Mereka tewas karena kelaparan dan terkena penyakit. “Karena itu, wajar jika banyak masyarakat yang trauma dengan pengungsian. Mereka semula bertahan ketika ada letusan pada bulan Mei,” katanya.

MELIHAT kondisi Kabupaten Sangihe yang berpulau dan dikelilingi gunung api, Bupati Winsulangi Salindeho mengatakan, wilayahnya rentan terhadap bencana.

“Jika mengamati letusan tiga gunung api tadi, maka setiap dua tahun sekali kami ditimpa bencana.

“Sudah saatnya kami mengantisipasi melakukan pelatihan penanganan bencana gunung api. Kami juga merencanakan melatih tamatan SMK elektro untuk menjadi staf pembantu di sejumlah pos pengamatan gunung api,” kata Bupati.

Menurut Bupati, pengungsi gunung Awu sampai Jumat siang kemarin telah mencapai 19.213 orang yang ditampung di 54 posko bencana, seperti sekolah dan gedung ibadah serta kantor dinas setempat. Posko itu tersebar di sepanjang wilayah Peta, Enwira, Tahuna, dan Manganitu.

Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Sangihe JLiusanda mengatakan letusan gunung Awu yang tidak menentu telah menggantung nasib sebagian rakyatnya. Apabila tanda-tanda gunung itu belum mereda, maka pengungsian tetap berlangsung.

Untuk memberi makan pengungsi, katanya, dalam sehari mereka membutuhkan 10 ton beras beserta lauk-pauk. Belum lagi beban pemerintah kabupaten yang harus menyediakan masker bagi 30.000 orang warganya berada di lokasi rawan bencana. “Kami kesulitan mendapatkan masker,” katanya.

Wilayah terparah dari terpaan debu Gunung Awu berada di Kecamatan Tabukan Utara meliputi Desa Talawid, Kebukelu, Tariang Lama, dan Lengganeng.

Kini Awu agak mereda, dan masyarakat pengungsi banyak kembali membersihkan rumah mereka. Tetapi mereka berada dalam ketidakpastian dari letusan Awu itu.

Ada yang berkeyakinan demikian, kalau saja legenda perseteruan Ansuang Timur dan Ansuang Barat telah berakhir, mungkin nasib masyarakat Sangihe akan lebih baik. Mereka bisa beraktivitas normal sambil membangun masa depan ekonomi keluarga yang kaya dengan sumber daya alam perkebunan. (Jean Rizal Layuck)

Entry Filed under: Indonesia & Bali Tourism News

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

June 2006
M T W T F S S
« May   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts