Uluwatu is the most famous wave of Bali. There is always some swell here so it’s also always crowded. The spot offers several waves which are working with different swells and tides:
The Peak: best at mid and high tide. Closes out at low tide. In front of the cave. it’s the most consistant. Short and powerful waves, tubes. The take off is moving. It works from 1ft to 8ft. The most crowded. One of the sections closes more than the others.
Racetracks: 100 meters further. fast wave, a lot of sections with easy tubes. Best at low tide and at 6ft. Can hold bigger swell. On the right tide and the right swell, “The Peak” connects with “Racetraks” (you need to be a good tuberider). Over 10ft, Racetracks breaks until “The Corner”.
Inside Corner: best at mid and low tide with a 6ft swell. At first, it’s a fun wave and the final bowl is a tube. Don’t do a cutback just before the bowl! Take plenty of speed, stay high in the face and trim. You will pass the tube.
Outside Corner: the REAL Uluwatu. Works only with big swells (>8ft) and at low tide. The lower is the tide, the better is the wave. Take at least a 7′ board. It is a succession of long walls good for carving and, sometimes, a beautiful final tube. The length is around 300 meters.
Temple: less surfed. 2 waves in fact (”Outside temple” and “The Bombies”). Only for experts because the water is very shallow. For thoses,it is a incredible tube when it works.
Source : www.my-indonesia.info/page.php?ic=13&id=1152
June 30th, 2006
Organizers of the annual Bali Festival of Kites have announced the official dates of July 20-23, 2006, for this year’s competition. On each day of the event, large teams of young men from local villages - all dressed in traditional Balinese costumes, will launch kites of every shape and description over Padang Galak’s beach front in an effort to win honors for their home community. Organizers are targeting for an increase from the 800 kites that were flown in 2005 to 10,000 kites at this year’s Festival. Held at Padang Galak Beach, near Sanur, last year’s event attracted hundreds of local kite enthusiasts from villages across Bali, together with international teams from Japan, Australia, the United States, and Denmark.
In an effort to expand participation this year, the organizers have publicized the event nationality hoping to attract kite teams from Jakarta and other cities in Indonesia.
All participants at the year’s Bali Festival of Kites are expected to attend a technical meeting on July 16 to be briefed on the various rules governing the competition, including the requirement for each team to compete while wearing traditional dress. The briefing will also set out guidelines intended to avoid disturbing local communities or civil aviation on the Island.
Kites, entered in the Bali Festival of Kites, are often larger than a truck causing traffic in the Sanur area to come to a complete standstill as groups crowd local roads while bringing their kites to the competition area.
Source : www.my-indonesia.info/page.php?ic=7&id=1164
June 30th, 2006
Mahawoe, Roemengas ; Nama Kawah : Mahawu, Wagio, Mawuas
Lokasi : Koordinat/ Geografi : 01° 21,5′ LU dan 124°51,5′ BT.
Kecamatan Tomohon, Minahasa Sulawesi Utara
Ketinggian : 1331 m. dml , Tipe Gunungapi : strato
Gunung Mahawu dapat dicapai dari Bandung dengan pesawat udara hingga di Manado, kemudian dilanjutkan dengan kendaraan umum atau carter menuju kecamatan Tomohon melalui jalan beraspal yang baik. Selanjutnya dari kota kecamatan ini menuju ke Pos Pengamatan Gunungapi Mahawu dan Lokon di Kakaskasen.
Untuk mencapai puncak G. Mahawu dari kakaskasen dapat digunakan kendaraan umum sampai ke dekat desa Rurukan. Dari wilayah Desa Rurukan ini perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki melalui jalan setapak yang cukup baik hingga puncak G. Mahawu dalam waktu 1 sampai 2 jam.
Berdasarkan tingkat aktifitas Manusia dalam suatu tutupan lahan, maka jenis tutupan lahan di G. Mahawu dan sekitarnya dikelompokan menjadi : wilayah pemukiman, pertanian dan hutan.
Pemukiman disekeliling G. Mahawu terutama terletak di sebelah barat dan baratdaya, hal ini mungkin dikarenakan disebelah barat merupakan daerah yang relatif datar dan subur, juga karena merupakan kota kecamatan. Sementara itu di lereng lain morfologinya relatif terjal sehingga orang kurang tertarik untuk bermukim. Oleh karena itu perkampungannya jarang dan terpencar-pencar dengan penduduk yang juga relatif sedikit. Infra struktur yang ada terdiri dari jalan aspal yang menghubungkan satu desa dengan lainnya, ada juga jalan perkerasan dan sisanya jalan tanah serta jalan setapak. Selain jalan beraspal, sebagian besar pedesaan disekitar G. Mahawu juga telah memiliki sarana penerangan listrik.
Tutupan lahan pertanian terdiri dari kebun, tegalan/ ladang dan pesawahan. Telah sejak dahulu bahwa kopra dan cengkeh merupakan hasil utama daerah Sulawesi Utara. Komoditi lainnya seperti coklat, kopi, buah-buahan dan sayur mayur juga banyak dihasilkan para petani di daerah lereng G. Mahawu ini. Sedangkan pesawahan menyebar setempat-setempat di daerah yang relatif rendah, kecuali di daerah dataran Kabupaten Tondano di kaki tenggara G. Mahawu dimana areal persawahan cukup luas.
Hutan yang terdapat di G. Mahawu terutama terdiri dari hutan alam yang berfungsi sebagai hutaan lindung, sedangkan yang bersifat hutan industri sangat kecil. Kawasan hutan hanya terdapatdi daerah lereng hingga daerah puncak G. Mahawu mulai ketinggian diatas 600 m hingga 1200 m diatas muka laut. Aktifitas manusia didalam hutan boleh dikatakan cukup minim dan bersifat sementara atau temporer.
Gunung Mahawu berdampingan sangat dekat dengan G. Lokon, dan tulisan tentang wisata geologi G. Lokon pernah dibuat oleh Wittiri (1995). Penulis ini menyarankan untuk memanfaatkan wilayah sekitar Lokon sebagai alternatif berdarmawisata, tidak disarankan untuk melakukan perjalanan ke puncak Mahawu terutama dalam jumlah banyak, lebih dari lima orang. Hal tersebut disebabkan karena di puncak Mahawu lahan untuk berkemah sangat sempit, bahkan tempat duduk untuk beristirahatpun tidak leluasa dan langsung berhubungan dengan bibir kawah. Alasan lain tidak disarankannya melakukan pendakian ke kawah Mahawu adalah konsentrasi gas sulfur yang tinggi. Dalam kondisi yang lelah kemudian menghirup gas belerang dapat menyebabkan pening dan mual.
June 30th, 2006
AWU tak selamanya diartikan abu atau debu dalam bahasa masyarakat Sangir (sebutan untuk kabupaten Sangihe). Dalam legenda masyarakat setempat, Gunung Awu adalah badan Ansuang (raksasa) Timur yang mati setelah kalah dalam perseteruan dengan Ansuang Barat. Hidung Ansuang Timur diibaratkan lubang kawah yang apabila “bernapas” akan mengeluarkan abu dan angin timur kencang. Legenda itu ditafsir masyarakat dalam bentuk letusan Gunung Api Awu. Setiap terjadi letusan Gunung Awu yang mengeluarkan partikel abu, selalu diikuti angin kencang bertiup dari timur.
Akan tetapi, tak lama datang angin barat meniup kembali debu itu. Gerakan angin yang saling berlawanan itu kerap terjadi dari letusan beruntun Gunung Awu sejak 18 Mei lalu.
“Percaya tidak percaya, kenyataan kami melihat gerakan angin berlawanan setiap terjadi letusan Awu,” ungkap Elvis Manangkalangi, warga Desa Tariang Lama, Kecamatan Kendahe, Jumat (11/6). Desa Tariang Lama berada di enam kilometer sebelah utara Gunung Awu.
Hari Kamis lalu sekitar pukul 5.30, Elvis dan sejumlah warga merasa ketakutan ketika Gunung Awu berketinggian 1.340 meter meletus dan mengeluarkan debu dan asap hitam seperti badan raksasa di puncak gunung. “Kami seperti melihat monster di puncak gunung, tangannya siap menerkam,” cerita Elvis.
Karena “monster” itulah warga Desa Tariang Lama, Talawid Atas dan Bawah, serta Kampung Lenganeng, Kecamatan Kendahe, yang semula bertahan di permukiman akhirnya lari mengungsi.
Kini desa-desa itu tampak kosong, rumah-rumah penduduk sepanjang pemantauan Kompas terkunci rapat.
Di desa berjarak 30 kilometer utara Tahuna hanya menyisakan puluhan lelaki (berbadan kekar) dipercaya sebagai penjaga kampung.
“Mereka akhirnya lari mengungsi setelah letusan Kamis pagi. Padahal pekan lalu Pak Bupati dan aparat Kodim telah menyediakan kapal untuk mengevakuasi masyarakat, tetapi mereka bertahan merasa aman,” ungkap R Pansariang, Kepala Kecamatan Kendahe.
Menurut Kepala Subdirektorat Pengamatan Gunung Berapi Indonesia Timur Syamsu Rizal, yang telaten mengamati aktivitas Gunung Awu, mengatakan bahwa letusan Kamis pagi merupakan terbesar dari belasan letusan Gunung Awu sejak 18 Mei lalu.
Namun, Syamsu tidak berani meramal bahwa letusan pada Kamis sebagai klimaks dari letusan Gunung Awu. Kemungkinan sewaktu-waktu bisa terjadi letusan lebih besar atau mereda sama sekali.
Yang pasti sejak Kamis malam sampai Jumat kemarin besaran simpang jarum seismograf di Pos Pengamatan Gunung Awu di Apengsembeka anjlok drastis, turun menjadi dua sampai tiga milimeter. Hari-hari sebelumnya besaran amplitudo seismograf di atas 30 sampai angka maksimal 45 milimeter.
Untuk mengamati Gunung Awu, ungkap Syamsu, Direktorat Vulkanologi telah menambah alat seismograf baru yang dipasang 2 kilometer dari puncak Gunung Awu. Pemasangan dilakukan Jumat pagi oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Awu.
Menurutnya, alat tambahan itu diambil dari Gunung Lokon sebagai cadangan, mengantisipasi seismograf yang terpasang di Awu sejak tahun 1990. Seismograf lama dikhawatirkan rusak akibat letusan karena terpasang dengan jarak 50 meter dari puncak Awu.
Awu merupakan gunung api tipe A, sama dengan Gunung Api Ruang di Tagulandang, Gunung Sangihe, dan Gunung Karangetang di Kecamatan Siau. Ketiga gunung api tersebut telah beraktivitas dan menelan sejumlah korban.
Terakhir Gunung Ruang meletus tahun 2002 dan menelan korban belasan orang. Dua tahun sebelumnya Gunung Karangetang juga meletus di Siau memunculkan kerusakan pada rumah-rumah penduduk.
Gunung Awu termasuk gunung api ganas. Gunung itu telah meletus tahun 1640, kemudian tahun 1711 yang menelan korban jiwa 3.000 orang. Kemudian meletus lagi pada tahun 1856 dengan korban tewas sekitar 2.806 orang dan tahun 1892 1.532 orang meninggal dunia. Terakhir Awu meletus tahun 1966 yang merenggut korban 39 jiwa 39.
Menurut cerita Kepala Kecamatan Kendahe Pansariang, korban meninggal di wilayah kecamatannya akibat letusan Awu tahun 1966 justru lebih banyak di lokasi pengungsian.
Diungkapkan masyarakat Kendahe yang diungsikan pemerintah ke Kecamatan Lolak Bolaang Mongondow 70 orang meninggal. Mereka tewas karena kelaparan dan terkena penyakit. “Karena itu, wajar jika banyak masyarakat yang trauma dengan pengungsian. Mereka semula bertahan ketika ada letusan pada bulan Mei,” katanya.
MELIHAT kondisi Kabupaten Sangihe yang berpulau dan dikelilingi gunung api, Bupati Winsulangi Salindeho mengatakan, wilayahnya rentan terhadap bencana.
“Jika mengamati letusan tiga gunung api tadi, maka setiap dua tahun sekali kami ditimpa bencana.
“Sudah saatnya kami mengantisipasi melakukan pelatihan penanganan bencana gunung api. Kami juga merencanakan melatih tamatan SMK elektro untuk menjadi staf pembantu di sejumlah pos pengamatan gunung api,” kata Bupati.
Menurut Bupati, pengungsi gunung Awu sampai Jumat siang kemarin telah mencapai 19.213 orang yang ditampung di 54 posko bencana, seperti sekolah dan gedung ibadah serta kantor dinas setempat. Posko itu tersebar di sepanjang wilayah Peta, Enwira, Tahuna, dan Manganitu.
Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Sangihe JLiusanda mengatakan letusan gunung Awu yang tidak menentu telah menggantung nasib sebagian rakyatnya. Apabila tanda-tanda gunung itu belum mereda, maka pengungsian tetap berlangsung.
Untuk memberi makan pengungsi, katanya, dalam sehari mereka membutuhkan 10 ton beras beserta lauk-pauk. Belum lagi beban pemerintah kabupaten yang harus menyediakan masker bagi 30.000 orang warganya berada di lokasi rawan bencana. “Kami kesulitan mendapatkan masker,” katanya.
Wilayah terparah dari terpaan debu Gunung Awu berada di Kecamatan Tabukan Utara meliputi Desa Talawid, Kebukelu, Tariang Lama, dan Lengganeng.
Kini Awu agak mereda, dan masyarakat pengungsi banyak kembali membersihkan rumah mereka. Tetapi mereka berada dalam ketidakpastian dari letusan Awu itu.
Ada yang berkeyakinan demikian, kalau saja legenda perseteruan Ansuang Timur dan Ansuang Barat telah berakhir, mungkin nasib masyarakat Sangihe akan lebih baik. Mereka bisa beraktivitas normal sambil membangun masa depan ekonomi keluarga yang kaya dengan sumber daya alam perkebunan. (Jean Rizal Layuck)
June 30th, 2006