Archive for April 26th, 2006

Primadona Wisata di Kabupaten Pandeglang

Banten memang dikenal kaya potensi wisata spiritual. Kalau daerah Banten Lama di Kabupaten Serang, misalnya, dikunjungi ribuan wisatawan setiap liburan karena memiliki kawasan wisata peninggalan Sultan Banten - yang antara lain berisi Benteng Surosowan, Mesjid Agung, Klenteng Kuno dan sejumlah makam keluarga Sultan Hasanudin, maka Kabupaten Pandeglang, 20 km dari Kota Kabupaten Serang, juga dikenal karena memiliki kawasan wisata Gunung Karang.

Dalam buku potensi usaha pariwisata Kabupaten Pandeglang yang diterbitkan 7 tahun silam, disebutkan kawasan wisata Gunung Karang memiliki 3 objek kunjungan.

Objek kunjungan pertama disebut Sumur Tujuh. Objek kunjungan kedua, Kolam Renang Cikoromoi yang dilengkapi tempat penziarahan Cibulakan. Objek penziarahan itu menjadi menarik diamati pengunjung, karena dikolam pemandiannya terdapat Batu Qur’an, batu berukuran besar terletak di dasar kolam dan bertuliskan huruf-huruf arab. Diperkirakan batu bertuliskan huruf arab itu sudah berusia lebih 5 abad. Dan objek kunjungan yang ketiga disebut pemandian air panas Cisolong.

Dibandingkan dengan objek kunjugan kolam renang Cikoromoi, atau pemandian air panas Cisolong, objek kunjungan Batu Quran dan Sumur Tujuh lebih sering dikunjungi umat Islam pada hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad, 1 Muharam, menjelang Ramadhan, Idul Fitri atau Idul Adha. Ribuan umat Islam selalu mengunjungi kedua objek wisata spritual itu di setiap liburan, karena sejarah keberadaan objek wisata Sumur Tujuh dan Batu Qur’an, konon kabarnya, erat kaitannya dengan kegiatan keluarga Sultan Banten dalam penyebaran Islam di abad ke 15.

Karena itu, sejumlah perusahaan biro perjalanan wisata di Jawa, khususnya lembaga pengajian atau majelis taklim di Jabotabek, Banten, Bandung dan Cirebon sering menjadikan pemandangan alam di kaki Gunung Karang sebagai tujuan wisata menarik. Soalnya di lokasi itu juga terdapat obyek wisata Batu Qur’an dan Sumur Tujuh. Menariknya lagi, pada saat-saat tertentu di musim durian, pedagang durian juga bermunculan di sepanjang jalan menuju lokasi kaki gunung Karang mulai dari daerah Ciasem, kota Pandeglang atau Cikoromoi.

Cerita panjang mengenai misteri Sumur Tujuh itu akan dikupas dalam tulisan terpisah. Lalu, apa daya tarik objek wisata pemandian Batu Qur’an? Untuk mengetahuinya, mungkin Anda bisa mempelajari pengakuan Haji Wahab Gaffar (57) dari Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Haji Wahab Gaffar, pensiunan pegawai Pemda Tk I Nusa Tenggara Barat itu mengaku sudah sejak kuliah di Universitas Gajah Mada tahun 1960 mendengar beragam daya tarik pemandian Cibulakan. Karena itu, kakek 6 cucu dari 4 anak ini bernazar begitu pensiun akan meluangkan waktu melaksanakan wisata spiritual dengan mengunjungi makam Sunan Ampel di Surabaya hingga menengok semua peninggalan zaman kejayaan Sultan Banten, termasuk pemandian Batu Quran itu.

“Ketika melihat sendiri, saya baru percaya, batu qur’an itu ada. Jadi,bukan dongeng yang dibuat-buat. Batu Quran itu merupakan salah satu sisa peninggalan masa jaya Sultan Banten,” ujar Haji Wahab Gaffar. “Sayangnya, Pemda terkesan membiarkan obyek wisata itu tumbuh tanpa perawatan seperlunyam sehingga tidak terkesan obyek wisata itu sangat berarti bagi umat Islam, khususnya bagi aset sejarah di Banten,” tambahnya.

Lokasi pemandian Batu Quran terletak di kaki Gunung Karang, tepatnya di Desa Kadubumbang Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Lokasi pemandian memang sangat sederhana. Hanya ada sebuah kolam di situ. Tetapi, jika liburan panjang tiba, antrian orang berdatangan ke pemandian tersebut.

Pengunjung selalu dibuat takjub, karena menurut cerita kuncen, petugas penjaga pemandian Cibulakan, air kolam pemandian - yang tingginya hanya sekitar 1,5 meter dari dasar kolam - tak bisa kering sekalipun musim kemarau berlangsung panjang. Prof Dr Muarif Ambari dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional juga pernah mempelajari bagaimana mengeringkan kolam Cibulakan, kemudian Batu Quran yang ada diteliti asal muasalnya. Ternyata sulit. Pasalnya, air Cibulakan tak mudah kering kendati disedot pipa air bertekanan ratusan kubik perjam. Akibat itu para ahli sejarah kepurbakalaan yakin bahwa batu bertulisan huruf-huruf al-quran yang ada di batu-batu di dasar kolam Cibulakan, sengaja dibuat oleh pengikut Sultan Banten dalam rangka syiar Islam. Batu-batu itu telah dijadikan media pengikut Sultan untuk warga Banten tentantg bagaimana menghormati air untuk diminum, bagaimana menghormatyi air untuk dijadikan wudhu, dan bagaimana menjadikan air sebagai modal kehidupan.

Batu-batu berhuruf arab itu, lebarnya hanya sekitar 2 meter. Di pinggiran batu tersebut, terdapat sejumlah mata air yang deras dan bening airnya. Di lokasi itulah pula, pengunjung sering berlama-lama berendam.

“Ada yang sangat yakin, jika berendam di sekitar batu quran tersebut, penyakit kulit yang ada ditubuh akan mudah disembuhkan. Ada juga yang yakin, sering berendam di kolam Cibulakan kulit akan menjadi lebih bersih karena air kolam Cibulakan mengandung unsur obat kimia yang bisa menghaluskan kulit. Ada juga yang yakin, air kolam Cibulakan bisa dijadikan media penyembuhan beragam bentuk penyakit dalam,” ujar Haji Achmad dari Warung Gunung Kabupaten Lebak yang mengaku sering mengajak santri-santri pesantrennya mengaji bersama di mushollah yang ada di pinggiran kolam Cibulakan.

Haji Achmad menuturkan, sering mengajak santrinya mengaji bersama di Mushollah Cibulakan, lebih karena ingin menjelaskan banyak hal bahwa Batu Quran yang ada di kolam Cibulakan merupakan peninggalan Ki Mansyur, seorang ulama terkenal di jaman kesultanan Banten abad ke-15.

Ki Mansyur - yang juga disebut Maulana Mansyur oleh warga masyarakat Banten - memang salah seorang ulama pemberani, cerdas, piawai dalam memainkan alat-alat kesenian bernafaskan Islam. Di masa kejayaan Sultan Hasanudin, Ki Mansyur yang juga cakap dalam ilmu pertanian serta komunikasi diserahi tugas untuk menjaga kawasan Islam Banten Selatan dan berdomisili di Cikaduen.

Selama masa penugasannya, Ki Mansyur mewariskan banyak ilmunya kepada warga Banten Selatan. Salah satu ilmu kesenian bernafaskan Islam yang ditinggalkannya dan hingga kini masih lestari adalah seni Rampak Bedug, kesenian tradisional yang mulanya digunakan warga Pandeglang hanya di bulan Ramadhan untuk membangunkan warga makan sahur. Kesenian itu juga digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan massa menjelang Ki Mansyur menyampaikan pesan-pesan atau tugas kepada warga. Ki Mansyur juga mewariskan ilmu debus, kesenian yang inti sarinya bersumber dari Al-quran, untuk penyebaran Islam.

Kini Ki Mansyur - bersama istrinya - bersemayan di Cikaduen. Setiap libur, terutama sekali jika Maulid Nabi Muhammad tiba, puluhan bus ukuran besar dari berbagai kota parkir di lokasi wisata penziarahan makam Ki Mansyur di Cikaduen, Pandeglang.

Setelah mengunjungi makam Ki Mansyur, para wisatawan juga kerap menyempatkan diri berendam di kolam Cibulakan. Ketika pulang, pengunjung pun membawa oleh-oleh botol berisi air dari kolam Cibulakan. Dan kegiatan itu sepertinya sudah mejadi tradisi yang berlangsung lama. Hasilnya pun menakjubkan. Karena sangat yakin, air kolam pemandian batu quran bisa dijadikan obat, banyak pengunjung yang semula menderita penyakit kulit kini sembuh.

Itulah primadona wisata Di kabupaten Pandeglang, Banten. (Herman)
Sumber : http://www.suarakarya-online.com/

Add comment April 26th, 2006

Kota Wisata yang Penuh Pesona

SIAPA yang tidak kenal dengan kota Bukittinggi. Meski masih merupakan sebuah kota kecil yang berada di Sumatera Barat, namun nama Bukittinggi sudah cukup dikenal secara nasional, malah juga di mancanegara. Apalagi Bukittinggi pernah menjadi ibukota Republik Indonesia (RI) saat zaman kemerdekaan dulu.

Bukittinggi bukan hanya dikenal sebagai kota yang pernah menjadi ibukota RI, tapi juga dikenal dengan keindahan alam kotanya. Letaknya di daratan tinggi berada di sekitar 1.500 meter dari permukaan laut, Bukittinggi menjadi salah satu kota paling sejuk di Indonesia. Kota ini semakin mempesona karena diapit oleh dua gunung, yakni Gunung Singgalang dan Merapi.

Untuk mencapai kota ini juga tidak sulit. Jika melalui Padang, cuma membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan darat. Sedangkan jika melalui Pekannbaru dibutuhkan waktu lebih kurang 5 jam. Namun lamanya waktu di perjalanan itu dijamin tidak akan menimbulkan kebosanan karena sepanjang jalan menuju Bukittinggi menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan.

Karena pesona yang dimilikinya inilah yang membuat banyak wisatawan dalam negeri dan luar negeri menjadikan Bukittinggi sebagai tempat rekreasi keluarga. di Kota ini mereka bisa menikmati udara segar dengan temperatur udara yang relatif sejuk dengan suhu tertinggi 27 derajat selsius dan terendah 19 derajat selsius.

Tidak hanya itu saja, di Bukittinggi banyak tempat yang dapat dikunjungi. Salah satunya yang paling terkenal kawasan Jam Gadang yang berada di pusat kota. Karena lokasi jam gadang ini cukup tinggi, maka dari tempat ini bisa melihat sebagian dari kota Bukittinggi. Disinipun pengunjung dapat mengitari taman Jam Gadang sambil menikmati kacang rebus atau pisang panggang yang banyak dijual di tempat ini.

Jika kaki terasa mulai penat, di sekitar taman Jam Gadang itu disediakan bangku-bangku peristirahatan. Disini pengunjung bisa beristirahat sampai menikmati pemandangan gunung yang terbentang di depan mata. Dari lokasi ini memang dapat dilihat secara jelas gunung Merapi yang dipuncaknya mengepul asap putih. Bahkan kadang kala di puncak merapi dapat dilihat percikan api. Namun itu hanya dapat dilihat pada malam hari.

Jika ingin mengunjungi objek wisata lainnya yang berada di kota Bukittinggi, di sekitar taman Jam Gadang sudah tersedia bendi (andong) yang ditarik kota. Jarak antara taman Jam Gadang dengan beberapa objek wisata itu cukup dekat sehingga untuk mencapainya bisa menggunakan bendi. Tarifnya tidak terlalu mahal karena bisa dilakukan tawar menawar dengan kusirnya.

Goa Jepang
Objek wisata yang terdekat dengan Jam Gadang itu diantaranya Kawasan Panorama, Benteng, dan Kebun Binatang Bundo Kanduong. Kawasan Panorama merupakan salah satu objek wisata yang di dalamnya terdapat sebuah goa peninggalan zaman Jepang yang disebut “Goa Jepang”. Untuk masuk ke Goa Jepang, pengunjung harus turun melalui anak tangga yang cukup terjang.

Dalam Goa Jepang ini dulunya dipergunakan tentara Jepang sebagai tempat persembunyian sekaligus tempat penahanan tentera Indonesia. Disini dapat dilihat berbagai peralatan yang dulunya dipergunakan tentara Jepang menyiksa masyarakat pribumi, dan kamar-kamar yang diduga kuat sebagai tempat penyiksaan.

Selain Goa Jepang, pengunjung juga dapat melihat secara leluasa Ngarai Sianok yang terkenal itu. Dari atas kawasan Panorama itu yang letaknya agak lebih ketinggian, keindahan
Ngarai Sianok dapat dilihat dengan jelas. Andapun bisa berfoto dengan latar belakang Ngarai Nianok tersebut.

Puas mengunjungi Kawasan Panorama, Anda bisa melanjutkan pelancongan ke kawasan Benteng juga dengan memanfaatkan sarana transportasi Bendi. Jarak dari Benteng dari Panorama lebih kurang 500 meter. Benteng merupakan bangunan tua yang dulunya digunakan sebagai tempat pertahanan tentara Belanda. Di benteng ini masih ditemukan sejumlah meriam tua yang dulu digunakan untuk menembakki musuh.

Dari Benteng, Anda cukup menyeberang melalui jembatan gantung (Limpapeh) menuju kebun binatang yang berada di atas bukit berseberangan dengan Benteng tadi. Kebun binatang ini termasuk sudah berumur tua, namun keberadaannya tetap bertahan. Bahkan koleksi hewan-hewan disini terus ditambah, sehingga pengunjungnya tidak pernah sepi.

Setelah penat mengelilingi kebun binatang, Anda bisa melepaskan lelah di pondok-pondok tempat berjualan

makanan di dalam areal kebun binatang tersebut. Anda bisa memesan sate khas Padang yang kuahnya dibuat dari tepung beras dan berbagai bumbu lainnya. Sate Padang ini sangat enak dinikmati pada saat hangat.

Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=116299

Add comment April 26th, 2006

Objek Wisata di Daerah Manado ( Sulawesi Utara )

Berwisata ke kota Manado sungguh sangat menyenangkan. Banyak pilihan bagi wisatawan untuk berekreasi dan ber wisata ria. Dari wisata alam seperti taman laut Bunaken, keindahan pantai, tempat hiburan rakyat, pusat perbelanjaan, hingga restoran, ada di kota ini.



Bagi wisatawan yang menyukai alam pantai sebagai tempat rekreasi masih di dalam kota, maka kota Manado-lah tempatnya. Pesona keindahan pantainya dapat disaksikan dari kawasan Malalayang sampai kawasan Bolevard yang ada dipusat kota.

Kawasan Malalayang memiliki pesona pantai yang cukup indah. Di sekitarnya terdapat sejumlah kafe yang dibangun di tepi pantai. Seluruh kafe itu menawarkan berbagai macam hidangan sea food dengan ikan bakar sebagai sajian utamanya. Karenanya, masyarakat menyebutnya ikan bakar Malalayang.

Malam, Goyang Lidah

Lain lagi suasana petang di Kawasan Bolevard. Pengunjung dapat menyaksikan panorama alam dengan Pulau Manado Tua di tengah lautan. Ketika matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, maka proses terjadinya Sunset dapat disaksikan dengan jelas.

Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai.

Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, tinutuan, dan lain-lain. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya.

Kawasan Bolevard tampaknya telah menjadi pusat jajanan “goyang lidah” pemuas selera makan di malam hari di Kota Manado. Suasananya mirip Pantai Losari di Kota Makassar. Banyaknya pengunjung yang datang ke tempat itu, membawa rejeki bagi para penjual makanan

Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, kegiatan pariwisata dengan pesat tumbuh menjadi salah satu andalan perekonomian kota. Primadona pariwisata kota Manado bahkan Provinsi Sulawesi Utara adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh dalam sekitar ½ s/d 2 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi.

Objek wisata lain yang menonjol di kota Manado adalah Kelenteng Ban Hin Kiong di kawasan Pusat Kota yang dibangun pada awal abad 19, Museum Negeri Sulawesi Utara, dan Monumen (Tugu Peringatan) Perang Dunia Kedua.

Selain memiliki objek-objek wisata yang menarik, salah satu keunggulan pariwisata kota Manado adalah letaknya yang strategis ke objek-objek wisata di hinterland, khususnya di Minahasa, yang dapat dijangkau dalam waktu 1 s/d 3 jam dari kota Manado. Objek-objek wisata tersebut antara lain, Vulcano Area di Tomohon, Desa Agriwisata Rurukan-Tomohon, Panorama pegunungan dan Danau Tondano, Batu Pinabetengan dan Waruga di Sawangan.

Karena potensi wisata yang besar tersebut maka industri pariwisata di kota Manado telah semakin tumbuh dan berkembang, yang antara lain ditandai dengan cukup banyaknya hotel dan sarana pendukung lainnya. Sampai tahun akhir tahun 2001, terdapat 67 buah hotel/penginapan, 15 buah travel biro, 223 buah restoran dan rumah makan dari berbagai kelas.

Oleh karenanya meskipun cukup terpengaruh oleh krisis ekonomi dan situasi nasional yang kurang kondusif, tetapi pariwisata di kota Manado tetap berlangsung. Pada tahun 1998 kunjungan wisatawan mancanegara adalah 34.509 Orang, menjadi 11.538 Orang pada tahun 2000 dan agak meningkat pada tahun 2001 menjadi 12.301Orang. Sedangkan wisatawan nusantara pada tahun 1998 berjumlah 432.993 orang, kemudian turun menjadi 279.014 orang pada tahun 2000 dan terakhir pada tahun 2001 agak meningkat menjadi 291.037 orang

Taman Laut Bunaken Manado Tua

Di atas Semenanjung Sulawesi Utara, Indonesia terletak sekelompok lima pulau- pulau yang membentuk taman nasional laut Bunaken Manado Tua. Taman ini mempunyai luas tanah dan laut 75.265 hektar yang terus berkembang dan dilindungi oleh pemerintah Sulawesi Utara. Taman laut ini diresmikan oleh mentri kelautan tanggal 15 Oktober 1991.

Bunaken mempunyai paling sedikit 40 tempat penyelaman yang kaya akan ikan - ikan tropis dan terumbu karang. Lebih dari 150 spesies dari 58 genus di Pantai Bunaken. Lebih dari 3.000 spesies ikan berenang dalam kawasan “Segi Tiga Emas” Papua Nugini, Filipina, dan Indonesia. Bunaken secara Biologis dan strategis terletak di “segi tiga” ini.

Di sebelah Utara Bunaken terletak Laut Sulawesi yang mempunyai kedalaman melebihi 19.800 kaki. Bunaken tidak jauh letaknya dari Manado, kurang lebih 5.000 kaki (15 menit dari Pantai Manado).

WATU PINAWETENGAN

Jenis megalit lain yang menarik, yang terdapat di Minahasa ialah batu bergores yang ditemukan di Kecamatan Tompaso. Oleh penduduk setempat batu bergores ini disebut sebagai watu pinawetengan. Batu ini merupakan bongkahan batu besar alamiah, sehingga bentuknya tidak beraturan. Pada bongkahan batu tersebut terdapat goresan-goresan berbagai motif yang dibuat oleh tangan manusia. Goresan-goresan itu ada yang membentuk gambar manusia, menyerupai kemaluan laki-laki, menggambarkan kemaluan perempuan, dan motif garis-garis serta motif yang tidak jelas maksudnya. Para ahli menduga bahwa goresan-goresan tersebut merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan komunitas pendukung budaya megalit, yaitu kepercayaan kepada roh leluhur (nenek moyang) yang dianggap memiliki kekuatan gaib sehingga mampu mengatur dan menentukan kehidupan manusia di dunia. Oleh sebab itu, manusia harus melakukan upacara-upacara pemujaan tertentu untuk memperoleh keselamatan atau memperoleh apa yang diharapkan (seperti: keberhasilan panen, menolak marabahaya atau mengusir penyakit) dengan menggunakan batu-batu besar sebagai sarana pemujaan mereka. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan tempat tempat bermusyawarahnya para pemimpin dan pemuka masyarakat Minahasa asli keturunan Toar-Lumimuut (nenek moyang masyarakat Minahasa) pada masa lalu, dalam rangka membagi daerah menjadi enam kelompok etnis suku-suku bangsa yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok etnis Minahasa. Sampai saat ini batu bergores yang sudah ditemukan di Minahasa, baru watu pinawetengan, terdapat di wilayah kerja Kawangkoan namun dapat dianggap sebagai temuan yang cukup penting dan dapat dimasukkan sebagai monumen sejarah, khususnya sejarah kebudayaan masyarakat Minahasa.

Add comment April 26th, 2006

Australian tourists staying away from Bali


Australian tourists are, for the time being staying away from Bali. With all the stuff that’s been going on from the Schapelle Corby, Michelle Leslie, the Bali Nine, Bali Bomb II, prophets cartoons and Papua, its not surprising things have been quiet. In the long run I reckon most things are cyclical.

Tourism was picking up nicely after Bali Bomb I, then October 2005 came along and knocked out our short term business. If you look at Bali from a 10,000ft level, there is plenty of construction, plenty of investment. The island is, according to some realters, in the same stages as Hawaii in th 50’s. Underdeveloped, a place waiting to explode (no pun intended). Plenty of choice real estate here, as long as you make sure of your paperwork. As one Aussie expat said to me, “I think we’re on a good wicket here.”

The biggest events in world history have been geological, and as long as Gunung Agung doesn’t erupt we’ll be good for the future.

Add comment April 26th, 2006


Calendar

April 2006
M T W T F S S
« Mar   May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Posts by Month

Posts by Category