Archive for April, 2006
Sumatera Barat (Sumbar) memang dikenal memilik alam yang indah dan menawan. Dengan alam yang berbukit-bukit dan sebagian berada di dataran tinggi, alam Sumbar memberikan kesan yang sejuk bagi setiap wisatawan yang mengunjungi daerah ini. Makanya tidak heran, tidak hanya wisatawan domestik saja, tapi wisatawan manca negara selalu menjadikan Sumbar sebagai tempat wisata alam yang menarik.
Sebagai kawasan yang sebagian berada di dataran tinggi dan memiliki sejumlah gunung, wajar bila tanah di Sumbar sangat subur bagi berbagai tanaman. Jika anda menelusuri jalan dari Bukittinggi menuju Padang Panjang terus belok kiri ke arah Solok, maka hamparan kebun sayur-sayuran dan sawah jadi pemandangan yang mengesankan.
Bagi anda yang belum pernah melihat kebun kol ataukubis, disini dapat mudah dilihat di sepanjang jalan itu. Begitu juga kebun bawang, sawi, labu, cabe dan tanaman dataran tinggi lainnya. Bila ada keinginan membelinya, banyak tempat di sepanjang jalan itu yang menjual hasil kebun tersebut dengan kesegaran yang dapat terjamin.
Selain bertaburan pondok-pondok untuk menjual hasil kebun itu, di salah satu ruas jalan antara Bukittinggi dan Padangpanjang juga terdapat Pasar Sayur. Pasar ini berjarak sekitar 25 km dari Bukittinggi. Sayur-sayuran yang dijualnya selain sangat segar juga bebas dari insektisida. Makanya pasar sayur itu disebut Pasar Sayuran Non Organik.
Setiap harinya, ratusan wisatawan domestik, misalnya dari Pekanbaru, Medan, dan sejumlah kota lainnya mendatangi pasar sayur ini untuk membeli sayuran. Walau harganya relatif sama dengan sayuran yang dijual di tempat lain, namun kesegaran sayuran tersebut menjadi daya tarik bagi pembeli.
Sayuran yang dijual di Pasar Sayuran Non Organik itu langsung didatangkan dari kebun sayur masyarakat yang ada di sekitarnya. Dari lokasi pasar itu juga dapat dilihat hamparan kebun sayur masyarakat yang dibelakangnya terdapat panorama Gunung Singgalang yang puncaknya selalu diselimuti awan putih.
Ny Ratna (46) salah seorang pedagang sayuran yang membuka pondok sayur di pinggir jalan lintas Bukittinggi-Padangpanjang mengatakan, setiap harinya puluhan pelancong singgah ke tempatnya untuk membeli sayur-sayuran. “Biasanya mereka singgah ke pondok saya untuk membeli berbagai macam sayuran,” jelas dia lagi.
Pada saat liburan, pelancong yang datang lebih ramai lagi. Umumnya mereka berlibur di Bukittinggi, terus pada saat akan pulang ke daerahnya, membeli sayur-sayuran sebagai oleh-oleh. Sayuran yang banyak dibeli pelancong antara lain lobak singgalang, kol, kubis, tomat dan labu.
Jika di jalan lintas Bukittinggi-Padangpanjang banyak terdapat pndok sayuran, beda di lintas Padangpanjang-Solok. Disini justru banyak berdiri pondok tempat berjualan buah-buahan pegunungan seperti markisah, terung belanda, dan alpokat. Harganya relatif murah, dan kondisi buah-buahannya juga sangat segar.
Jagung rebus
Untuk menarik pelancong membeli buah-buahan itu, pedagang sengaja menata pondok itu sedemikian rupa. Misalnya buah markisah yang warnanya kuning dan hijau digantung denga tali. Sedangkan buah terong belanda yang berwarna merah, disusun rapi di rak-rak yang telah disediakan.
Komariah (24) salah seorang pemilik pondok buah mengatakan, buah-buahan yang dijualnya cukup laris terjual. Umumnya pembelinya berasal dari turis domestik yang berasal dari kota-kota di pulau Sumatera. Tapi kadangkala ada juga turis domestik datang membeli beberapa jenis buah.
Untuk menjaga kesegaran buah-buahan yang dijualnya, Komariah mengaku selalu memperbarui buah-buah yang ditata di pondoknya. Buah-buahan itu langsung diantaraoleh para petani buah-buahan yang ada di sekitar tempat itu. “Hanya labu saja yang didatangkan dari Padangpanjang dan Bukittinggi,” ungkapnya.
Buah markisah dan terong belanda adalah buah-buahan yang banyak dimintai pelancong. Sebab markisah yang dihasilkan petani di tempat itu rasanya sangat beda dengan di tempat lain. Rasanya lebih manis dan tidak terlalu banyak biji. Setiap orang memakannya pasti akan ketagihan.
Sedangkan terong belanda merupakan buah-buahan yang jarang ditemukan di tempat lain. Buah ini hanya tumbuh di dataran tinggi berhawa sejuk. Biasanya orang membeli terong belanda ini bukan untuk dimakan langsung, tapi untuk dibuat jus. Rasanya lebih segar dari jus jeruk ataupun jus markisah, apalagi bila diminum dengan es.
Jika anda meneruskan perjalanan terus menuju kawasan alahan panjang, jalan lupa singgah sebenar di pondok penjualan jagung rebus. Memakan jagung rebus yang masih hangat di kawasan berhawa dingin sungguh nikmatnya. Apalagi jagungnya berasal dari jenis yang bijinya berasa manis. Tidak terasa dua atau tiga jagung habis sekali santap.
Sambil menikmati jagung rebus itu, anda bisa pula menikmati pemandangan hamparan kebun teh yang mengelilingi tempat itu. Kalau cuaca tidak berkabut, pemandangan ini sangat memukau. Namun menurut penduduk setempat, kawasan tersebut lebih sering diselimuti kabut, terutama di saat musim hujan. (Adrizas)
Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id
April 28th, 2006
TSARA TOWNSHIP, Tibet - The muffled thud of hooves on thick grass provided an echo of Tibet’s distant warrior past.
For a few hours, as the people of Tsara on Sunday gathered for their annual horse racing festival, the traditional image of Tibetans as peace-loving Buddhists was put to the test.
Eleven horse riders, each representing one of the township’s villages, participated in a fiercely contested race which showed that for some Tibetans, a horse is as natural a means of transport as a bicycle in other nations.
“Everyone here knows how to ride a horse,” said Dzuqi, a Tsara resident, who was wearing the uniform of a civilian security unit.
The 11 horse riders, dressed in starkly colored black, white and red costumes, strode confidently among the spectators as they prepared for the event, posing proudly for photos.
When they mounted their horses, their dexterity was a reminder that the Tibetans were fierce warriors feared by their neighbors until they devoted themselves to the peaceful pursuit of Buddhism in the 9th century.
Even today, the best of Tibet’s horse riders are celebrated as local heroes, much like football or baseball stars in the West. As the day’s program culminated, each of the contestants took turns galloping at great speed down a 200-meter (660-feet) track, picking up long pieces of white linen, known as khatags, which were scattered along the way.
Khatags, also frequently referred to as “friendship scarves” by the Tibetans, have deep symbolic meaning here.
“Khatags are for good fortune, for all good things,” said a woman from the Tibetan capital Lhasa 70 kilometers (43 miles) away, who was watching the event with the detached interest of a field anthropologist among alien tribes.
“If an honored guest arrives, you give him a khatag. If someone in your family embarks on a long journey, you also give him a khatag,” she said.
The Horse Racing Festival, originally an ancient Tibetan harvest festival, is celebrated in large parts of the Himalayan region, showing that despite 50 years of Chinese rule parts of Tibet’s cultural identity remain.
For communities like Tsara township, it is the second-most important event of the calendar after the New Year.
A festive, carnival-like atmosphere reigned as a humming crowd gathered along the track, displaying a variety of headgear from American-style cowboy hats to traditional red tassels tied into the hair.
Vendors had set up shops selling everything from beer and cigarettes to children’s toys.
The lengthy breaks in between the main events were greeted with great patience by the audience, although a mood of anticipation could be clearly discerned.
“We haven’t got the results yet,” said Tsamla, a 24-year-old peasant woman from Dyigye village, hugging her 18-month-old son. “Of course, I hope my village will come out on top.”
There was more than just local pride involved for the spectators, many of whom had traveled for hours to attend the festival.
The horse riders received two yuan (24 cents) for each khatag they picked up, but they had to hand over the prizes to their village heads, who in turn were expected to distribute the money to the local communities.
April 27th, 2006
DHARAMSALA, India, March 31, 2006 - Tibetans living in exile in India gathered in this picturesque northern Indian hill resort Friday to seek blessings from the Dalai Lama before the start of a vibrant Tibetan festival.
About 2,000 Tibetan exiles and tourists sat in the sun to catch a glimpse of the Dalai Lama, before enjoying traditional operas that mark the Shoton festival, one of the biggest on the Tibetan calendar.
The nine-day festival celebrates “the rich cultural heritage of Tibet,” said Kelsang Youdon, a festival organiser and director of the Tibetan Institute of the Performing Arts.
Also known as the yoghurt festival, it originated in the 17th century at the Drepung Monastery in Tibet’s capital Lhasa where nomads and farmers offered yoghurt, which was abundant at the time, to monks ending their annual summer meditation retreat.
Lhamo or opera was later added to the festival because of its popularity.
This year eight groups of Tibetans based in India and Nepal are taking part in the festival which will showcase Tibetan traditions.
Mingma, a 79-year-old Tibetan exile living in Nepal described Shoton as a “dying culture” which “we must teach our youngsters to preserve and promote.”
“It is heartening to see more young people taking (an) interest now,” he said as yoghurt was being handed out to the crowds.
Before China’s occupation of Tibet in 1950, Shoton was held at Drepung Monastery and the Norbulinka, the summer palace of the Dalai Lama near Lhasa.
“The Shoton festival is being held in present day Tibet, but under strict Chinese supervision,” said Tenzin Lhaksam, project coordinator at the Tibetan Institute of Performing Arts.
“They (Chinese) allow Shoton and some other Tibetan festivals for propaganda purposes only,” Lhaksam said.
Dharamsala is home to thousands of Tibetan refugees who set up their government-in-exile after fleeing to India in 1959 following a failed uprising against Chinese rule in Tibet.
April 27th, 2006
In the late 1980s, author Pico Iyer embarked on an Asian journey with the purpose of discovering to what extent Western - and especially American - culture had impinged on the cultures of the newly opened and revitalized East. During this time several Asian nations were undergoing unprecedented economic growth; the historic Nixon visit to China and the market reforms of Deng Xiaoping were beginning to drag China out of the darkness of Maoism; and Southeast Asia, after years of wars and insurgencies, was more or less at peace. Pundits, even Iyer himself, spoke of an Asian century to come, and no one could have foreseen that in less than a decade the Thai economy would tank, Japan’s would stall, or that authors would suddenly be writing premature obituaries for the People’s Republic.
In those intoxicating times, Iyer concluded that fears of Western hegemony over the East are unfounded, and that indeed the converse is more likely. He found that Asian cultures could easily absorb, refuse, or painstakingly select things Western. And moreover, that Eastern things were insinuating themselves into the West with astonishing subtlety and speed - from yoga and Thai restaurants, to feng shui and gamelan music, not to mention Japanese electronics or Indian software engineers. As I write this, a Western woman wearing a salwar kameez and dupatta sits down nearby and starts speaking fluent Thai.
Iyer visits several countries, one province (Bali), and one colony (Hong Kong) soon to be eaten by its rightful owner. In each he addresses a particular theme: Bali (spoliation of a once idyllic island), Tibet (masochism of travelers in search of Shangri-La), Nepal (hippie-haven becoming trekker-tractor-beam), China (xenophobia then and now), the Philippines (exuberant music and ghastly poverty), Burma (social Rip Van Winklism), Hong Kong (the vapidity of expatriate life), India (lights! camera! action!), Japan (Japanese baseball as metaphor for Japanese Westernization), and Thailand (take a wild guess).
Yes, alas, in Thailand Iyer addresses virtually nothing but bars and bar girls - a fact for which he has lately, in a review of John Burdett’s sordid novel Bangkok 8, shown repentance. But his past obsession is hardly surprising, given that he followed the usual tourist’s circuit: Bangkok, Chiang Mai, trek. But he seems helpless to avert his jaundiced eyes from the capital city, and all but a few paragraphs of his 30-page essay are dedicated to it. “Thailand offered a good deal more, of course, than just the sex trade,” writes Iyer. Three paragraphs more, to be exact. He saw “almost no sightseers, no scholars, no hippies from Oregon or honeymooning couples from Manhattan”. In other words, he did not see Sukhothai, a university, Pai, or Phuket.
As a teetotaler and seeming prude, he is “outraged” by the City of Sin - a common enough reaction, initially. But eventually he undergoes the usual cardiac flip-flop: “So why find shame in enjoyment,” he asks, “and why take enjoyment in shame?” Why indeed. But perhaps it might be better to ask: Why identify a 700-year-old country of 60 million people with a few girls Iyer met on Soi Cowboy?
To be fair, Iyer is guilty of crimes common to all travel writers, myself included - namely, ignorance and presumption. They can observe and record, but they generalize at their peril. And even appearances can sometimes be misleading. Consider Iyer’s slant on Burma. He seems to confuse the country’s leadership - which has ruthlessly kept its people ignorant, scared, and poor - and its people, who (if the nullified results of the 1990 elections are to be believed) are quite fed up with their leadership.
“Burma is the dotty eccentric of Asia,” he writes, “the queer maiden aunt who lives alone and whom the maid has forgotten to visit.” This is but one example of Iyer’s purple passages getting the better of his perceptions. Burma, he says happily, “was content to mind its own business and go its own way.” Burma was “at peace.” So, in a similar sense, was Cambodia under the Khmer Rouge, which also prevented tourists from visiting unsightly labor camps, imprisoned dissidents, war zones. Fortunately, a diplomat finally strips Iyer of his saffron-colored glasses, his celebration of “cultural innocence and integrity”, and by the essay’s end Iyer concedes that Burma is dying a “slow and terrible death”.
Iyer’s optimism distinguishes him from other popular travel writers, from the perennially truculent Paul Theroux, to the thoroughly humorless V.S. Naipaul. He is willing to portray people as ridiculous, but seldom as stupid or evil. His laughter comes at humanity’s, and not any individual’s expense. But sometimes his attempts at levity fall flat (as in his description of Orwellian Burma as a “queer maiden aunt”.) Calling tourists collectively Homo touristicus is another example, as is saying that “Kathmandu seemed a Shantih-town” (shantih being his transliteration of the Sanskrit word for peace.) At one point he even mentions the “fast-and-Luce rhetoric” of India Today, a Time lookalike, and I doubt whether most readers will know that he is referring to Henry Luce, the latter magazine’s founder, a fanatic son of missionaries who sought the wholesale conversion of China to Christianity.
But if sometimes Iyer is too clever by half, his eye for the telling detail or the mot juste is extraordinary. He notes that Thai hookers commonly - poignantly - adorn their rooms with “three-foot-tall stuffed animals, with cartoony faces and silly smiles”, and that many of them lie to their parents about their occupations, a contrite pragmatism for which they seldom get any credit. Though describing China, Iyer could be describing any country subjected to the inhuman urban planning of Communism when he writes: “In front of me in the bright afternoon was a vast square, ringed by giant billboards and graying skyscrapers. Beside me, extending for block after block after gray, gray block, was the main body of the station….All around was vastness and great vacancy.” To convey the common pathos of Asians trying to impress Westerners with their stylishness, he shows Chinese youth screaming “Disco!” and “Break dance!” at him while “turning themselves into human spaghetti”; and Filipinos singing, with John Denver, about going home to West Virginia and their mountain mamas. (Thais do this too.) Singapore? “McCity,” says Iyer. And he correctly identifies “the sound track of Indian life” as “the shrill, squeaky lilt of a woman’s voice delivering movie songs”.
In a veritable paroxysm of clichi, a critic for the New York Times has apparently called Iyer’s book a “magical mystery tour through the brave new world of Asia.” But I wonder how magical, mysterious, or indeed new this Asia is. Hindi films have been around for decades, as have Chinese xenophobia, ruined Bali, poor Burma, Thai brothels, and Hong Kong Brits sipping gin and disparaging their (increasingly Filipino) maids. East-West cross-pollination is older than Pico Iyer. It is older than Marco Polo. And how old it is all depends upon what you mean by East and West.
The Greek Herodotus wrote about India in the 5th century BC. Okay, so he said that the semen of Indians was black and that they were plagued by ants “bigger than foxes”, but he also noted their distaste for killing animals and their preference for solitary deaths in the wilderness - traditionally, the last stage of an orthodox Hindu’s life. Iyer implies that Thais are licentious (”‘Everyone makes love,’ cooed sweet-smiling Nitya”) and he writes that the “Burmese seemed an uncommonly jolly and guileless people, not veiled or stealthy as other Southeast Asians could be”. In such statements it is easy to recognize a similar mixture of half-truth and Orientalism (”veiled”, “stealthy”) that prompted Herodotus to say that all Indians “mate together in the open like the brute beasts” or that none of them “has the least concern for the sick or the dead.”
Where the ‘twain too often meet is in mutual misunderstanding. But one must take what understanding one can get, and there are far worse guides through our globalized inferno than Pico Iyer - polyglot, polymath, occasional Polyanna.
* * *
Review of Pico Iyer’s Video Night in Kathmandu: And Other Reports from the Not-So-Far East, Vintage Departures, 1989.
Books by Pico Iyer
By Kenneth Champeon
April 27th, 2006
Indonesia uses more fuel than it produces, which is a shame for an oil rich country. Indonesians are heavily dependent on diesel, petrol and kerosene for cooking. The recent world price rises in oil put pressure on the Indonesian government, as they had to import expensive oil, and subsidize people for using it.
Petrol prices doubled a while ago and people dealt with it. Now the government plans to restrict petrol use, in public and private vehicles,to save further money. It will be interesting to see how the government goes about implementing the petrol restrictions. Maybe we can revert back to a system like in Europe after the war, when you had to have ration vouchers, as well as the cash. Indonesia will then truly become a nation going in reverse.
April 27th, 2006
Banten memang dikenal kaya potensi wisata spiritual. Kalau daerah Banten Lama di Kabupaten Serang, misalnya, dikunjungi ribuan wisatawan setiap liburan karena memiliki kawasan wisata peninggalan Sultan Banten - yang antara lain berisi Benteng Surosowan, Mesjid Agung, Klenteng Kuno dan sejumlah makam keluarga Sultan Hasanudin, maka Kabupaten Pandeglang, 20 km dari Kota Kabupaten Serang, juga dikenal karena memiliki kawasan wisata Gunung Karang.
Dalam buku potensi usaha pariwisata Kabupaten Pandeglang yang diterbitkan 7 tahun silam, disebutkan kawasan wisata Gunung Karang memiliki 3 objek kunjungan.
Objek kunjungan pertama disebut Sumur Tujuh. Objek kunjungan kedua, Kolam Renang Cikoromoi yang dilengkapi tempat penziarahan Cibulakan. Objek penziarahan itu menjadi menarik diamati pengunjung, karena dikolam pemandiannya terdapat Batu Qur’an, batu berukuran besar terletak di dasar kolam dan bertuliskan huruf-huruf arab. Diperkirakan batu bertuliskan huruf arab itu sudah berusia lebih 5 abad. Dan objek kunjungan yang ketiga disebut pemandian air panas Cisolong.
Dibandingkan dengan objek kunjugan kolam renang Cikoromoi, atau pemandian air panas Cisolong, objek kunjungan Batu Quran dan Sumur Tujuh lebih sering dikunjungi umat Islam pada hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad, 1 Muharam, menjelang Ramadhan, Idul Fitri atau Idul Adha. Ribuan umat Islam selalu mengunjungi kedua objek wisata spritual itu di setiap liburan, karena sejarah keberadaan objek wisata Sumur Tujuh dan Batu Qur’an, konon kabarnya, erat kaitannya dengan kegiatan keluarga Sultan Banten dalam penyebaran Islam di abad ke 15.
Karena itu, sejumlah perusahaan biro perjalanan wisata di Jawa, khususnya lembaga pengajian atau majelis taklim di Jabotabek, Banten, Bandung dan Cirebon sering menjadikan pemandangan alam di kaki Gunung Karang sebagai tujuan wisata menarik. Soalnya di lokasi itu juga terdapat obyek wisata Batu Qur’an dan Sumur Tujuh. Menariknya lagi, pada saat-saat tertentu di musim durian, pedagang durian juga bermunculan di sepanjang jalan menuju lokasi kaki gunung Karang mulai dari daerah Ciasem, kota Pandeglang atau Cikoromoi.
Cerita panjang mengenai misteri Sumur Tujuh itu akan dikupas dalam tulisan terpisah. Lalu, apa daya tarik objek wisata pemandian Batu Qur’an? Untuk mengetahuinya, mungkin Anda bisa mempelajari pengakuan Haji Wahab Gaffar (57) dari Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Haji Wahab Gaffar, pensiunan pegawai Pemda Tk I Nusa Tenggara Barat itu mengaku sudah sejak kuliah di Universitas Gajah Mada tahun 1960 mendengar beragam daya tarik pemandian Cibulakan. Karena itu, kakek 6 cucu dari 4 anak ini bernazar begitu pensiun akan meluangkan waktu melaksanakan wisata spiritual dengan mengunjungi makam Sunan Ampel di Surabaya hingga menengok semua peninggalan zaman kejayaan Sultan Banten, termasuk pemandian Batu Quran itu.
“Ketika melihat sendiri, saya baru percaya, batu qur’an itu ada. Jadi,bukan dongeng yang dibuat-buat. Batu Quran itu merupakan salah satu sisa peninggalan masa jaya Sultan Banten,” ujar Haji Wahab Gaffar. “Sayangnya, Pemda terkesan membiarkan obyek wisata itu tumbuh tanpa perawatan seperlunyam sehingga tidak terkesan obyek wisata itu sangat berarti bagi umat Islam, khususnya bagi aset sejarah di Banten,” tambahnya.
Lokasi pemandian Batu Quran terletak di kaki Gunung Karang, tepatnya di Desa Kadubumbang Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Lokasi pemandian memang sangat sederhana. Hanya ada sebuah kolam di situ. Tetapi, jika liburan panjang tiba, antrian orang berdatangan ke pemandian tersebut.
Pengunjung selalu dibuat takjub, karena menurut cerita kuncen, petugas penjaga pemandian Cibulakan, air kolam pemandian - yang tingginya hanya sekitar 1,5 meter dari dasar kolam - tak bisa kering sekalipun musim kemarau berlangsung panjang. Prof Dr Muarif Ambari dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional juga pernah mempelajari bagaimana mengeringkan kolam Cibulakan, kemudian Batu Quran yang ada diteliti asal muasalnya. Ternyata sulit. Pasalnya, air Cibulakan tak mudah kering kendati disedot pipa air bertekanan ratusan kubik perjam. Akibat itu para ahli sejarah kepurbakalaan yakin bahwa batu bertulisan huruf-huruf al-quran yang ada di batu-batu di dasar kolam Cibulakan, sengaja dibuat oleh pengikut Sultan Banten dalam rangka syiar Islam. Batu-batu itu telah dijadikan media pengikut Sultan untuk warga Banten tentantg bagaimana menghormati air untuk diminum, bagaimana menghormatyi air untuk dijadikan wudhu, dan bagaimana menjadikan air sebagai modal kehidupan.
Batu-batu berhuruf arab itu, lebarnya hanya sekitar 2 meter. Di pinggiran batu tersebut, terdapat sejumlah mata air yang deras dan bening airnya. Di lokasi itulah pula, pengunjung sering berlama-lama berendam.
“Ada yang sangat yakin, jika berendam di sekitar batu quran tersebut, penyakit kulit yang ada ditubuh akan mudah disembuhkan. Ada juga yang yakin, sering berendam di kolam Cibulakan kulit akan menjadi lebih bersih karena air kolam Cibulakan mengandung unsur obat kimia yang bisa menghaluskan kulit. Ada juga yang yakin, air kolam Cibulakan bisa dijadikan media penyembuhan beragam bentuk penyakit dalam,” ujar Haji Achmad dari Warung Gunung Kabupaten Lebak yang mengaku sering mengajak santri-santri pesantrennya mengaji bersama di mushollah yang ada di pinggiran kolam Cibulakan.
Haji Achmad menuturkan, sering mengajak santrinya mengaji bersama di Mushollah Cibulakan, lebih karena ingin menjelaskan banyak hal bahwa Batu Quran yang ada di kolam Cibulakan merupakan peninggalan Ki Mansyur, seorang ulama terkenal di jaman kesultanan Banten abad ke-15.
Ki Mansyur - yang juga disebut Maulana Mansyur oleh warga masyarakat Banten - memang salah seorang ulama pemberani, cerdas, piawai dalam memainkan alat-alat kesenian bernafaskan Islam. Di masa kejayaan Sultan Hasanudin, Ki Mansyur yang juga cakap dalam ilmu pertanian serta komunikasi diserahi tugas untuk menjaga kawasan Islam Banten Selatan dan berdomisili di Cikaduen.
Selama masa penugasannya, Ki Mansyur mewariskan banyak ilmunya kepada warga Banten Selatan. Salah satu ilmu kesenian bernafaskan Islam yang ditinggalkannya dan hingga kini masih lestari adalah seni Rampak Bedug, kesenian tradisional yang mulanya digunakan warga Pandeglang hanya di bulan Ramadhan untuk membangunkan warga makan sahur. Kesenian itu juga digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan massa menjelang Ki Mansyur menyampaikan pesan-pesan atau tugas kepada warga. Ki Mansyur juga mewariskan ilmu debus, kesenian yang inti sarinya bersumber dari Al-quran, untuk penyebaran Islam.
Kini Ki Mansyur - bersama istrinya - bersemayan di Cikaduen. Setiap libur, terutama sekali jika Maulid Nabi Muhammad tiba, puluhan bus ukuran besar dari berbagai kota parkir di lokasi wisata penziarahan makam Ki Mansyur di Cikaduen, Pandeglang.
Setelah mengunjungi makam Ki Mansyur, para wisatawan juga kerap menyempatkan diri berendam di kolam Cibulakan. Ketika pulang, pengunjung pun membawa oleh-oleh botol berisi air dari kolam Cibulakan. Dan kegiatan itu sepertinya sudah mejadi tradisi yang berlangsung lama. Hasilnya pun menakjubkan. Karena sangat yakin, air kolam pemandian batu quran bisa dijadikan obat, banyak pengunjung yang semula menderita penyakit kulit kini sembuh.
Itulah primadona wisata Di kabupaten Pandeglang, Banten. (Herman)
Sumber : http://www.suarakarya-online.com/
April 26th, 2006
SIAPA yang tidak kenal dengan kota Bukittinggi. Meski masih merupakan sebuah kota kecil yang berada di Sumatera Barat, namun nama Bukittinggi sudah cukup dikenal secara nasional, malah juga di mancanegara. Apalagi Bukittinggi pernah menjadi ibukota Republik Indonesia (RI) saat zaman kemerdekaan dulu.
Bukittinggi bukan hanya dikenal sebagai kota yang pernah menjadi ibukota RI, tapi juga dikenal dengan keindahan alam kotanya. Letaknya di daratan tinggi berada di sekitar 1.500 meter dari permukaan laut, Bukittinggi menjadi salah satu kota paling sejuk di Indonesia. Kota ini semakin mempesona karena diapit oleh dua gunung, yakni Gunung Singgalang dan Merapi.
Untuk mencapai kota ini juga tidak sulit. Jika melalui Padang, cuma membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan darat. Sedangkan jika melalui Pekannbaru dibutuhkan waktu lebih kurang 5 jam. Namun lamanya waktu di perjalanan itu dijamin tidak akan menimbulkan kebosanan karena sepanjang jalan menuju Bukittinggi menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan.
Karena pesona yang dimilikinya inilah yang membuat banyak wisatawan dalam negeri dan luar negeri menjadikan Bukittinggi sebagai tempat rekreasi keluarga. di Kota ini mereka bisa menikmati udara segar dengan temperatur udara yang relatif sejuk dengan suhu tertinggi 27 derajat selsius dan terendah 19 derajat selsius.
Tidak hanya itu saja, di Bukittinggi banyak tempat yang dapat dikunjungi. Salah satunya yang paling terkenal kawasan Jam Gadang yang berada di pusat kota. Karena lokasi jam gadang ini cukup tinggi, maka dari tempat ini bisa melihat sebagian dari kota Bukittinggi. Disinipun pengunjung dapat mengitari taman Jam Gadang sambil menikmati kacang rebus atau pisang panggang yang banyak dijual di tempat ini.
Jika kaki terasa mulai penat, di sekitar taman Jam Gadang itu disediakan bangku-bangku peristirahatan. Disini pengunjung bisa beristirahat sampai menikmati pemandangan gunung yang terbentang di depan mata. Dari lokasi ini memang dapat dilihat secara jelas gunung Merapi yang dipuncaknya mengepul asap putih. Bahkan kadang kala di puncak merapi dapat dilihat percikan api. Namun itu hanya dapat dilihat pada malam hari.
Jika ingin mengunjungi objek wisata lainnya yang berada di kota Bukittinggi, di sekitar taman Jam Gadang sudah tersedia bendi (andong) yang ditarik kota. Jarak antara taman Jam Gadang dengan beberapa objek wisata itu cukup dekat sehingga untuk mencapainya bisa menggunakan bendi. Tarifnya tidak terlalu mahal karena bisa dilakukan tawar menawar dengan kusirnya.
Goa Jepang
Objek wisata yang terdekat dengan Jam Gadang itu diantaranya Kawasan Panorama, Benteng, dan Kebun Binatang Bundo Kanduong. Kawasan Panorama merupakan salah satu objek wisata yang di dalamnya terdapat sebuah goa peninggalan zaman Jepang yang disebut “Goa Jepang”. Untuk masuk ke Goa Jepang, pengunjung harus turun melalui anak tangga yang cukup terjang.
Dalam Goa Jepang ini dulunya dipergunakan tentara Jepang sebagai tempat persembunyian sekaligus tempat penahanan tentera Indonesia. Disini dapat dilihat berbagai peralatan yang dulunya dipergunakan tentara Jepang menyiksa masyarakat pribumi, dan kamar-kamar yang diduga kuat sebagai tempat penyiksaan.
Selain Goa Jepang, pengunjung juga dapat melihat secara leluasa Ngarai Sianok yang terkenal itu. Dari atas kawasan Panorama itu yang letaknya agak lebih ketinggian, keindahan
Ngarai Sianok dapat dilihat dengan jelas. Andapun bisa berfoto dengan latar belakang Ngarai Nianok tersebut.
Puas mengunjungi Kawasan Panorama, Anda bisa melanjutkan pelancongan ke kawasan Benteng juga dengan memanfaatkan sarana transportasi Bendi. Jarak dari Benteng dari Panorama lebih kurang 500 meter. Benteng merupakan bangunan tua yang dulunya digunakan sebagai tempat pertahanan tentara Belanda. Di benteng ini masih ditemukan sejumlah meriam tua yang dulu digunakan untuk menembakki musuh.
Dari Benteng, Anda cukup menyeberang melalui jembatan gantung (Limpapeh) menuju kebun binatang yang berada di atas bukit berseberangan dengan Benteng tadi. Kebun binatang ini termasuk sudah berumur tua, namun keberadaannya tetap bertahan. Bahkan koleksi hewan-hewan disini terus ditambah, sehingga pengunjungnya tidak pernah sepi.
Setelah penat mengelilingi kebun binatang, Anda bisa melepaskan lelah di pondok-pondok tempat berjualan
makanan di dalam areal kebun binatang tersebut. Anda bisa memesan sate khas Padang yang kuahnya dibuat dari tepung beras dan berbagai bumbu lainnya. Sate Padang ini sangat enak dinikmati pada saat hangat.
Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=116299
April 26th, 2006
Berwisata ke kota Manado sungguh sangat menyenangkan. Banyak pilihan bagi wisatawan untuk berekreasi dan ber wisata ria. Dari wisata alam seperti taman laut Bunaken, keindahan pantai, tempat hiburan rakyat, pusat perbelanjaan, hingga restoran, ada di kota ini.
Bagi wisatawan yang menyukai alam pantai sebagai tempat rekreasi masih di dalam kota, maka kota Manado-lah tempatnya. Pesona keindahan pantainya dapat disaksikan dari kawasan Malalayang sampai kawasan Bolevard yang ada dipusat kota.
Kawasan Malalayang memiliki pesona pantai yang cukup indah. Di sekitarnya terdapat sejumlah kafe yang dibangun di tepi pantai. Seluruh kafe itu menawarkan berbagai macam hidangan sea food dengan ikan bakar sebagai sajian utamanya. Karenanya, masyarakat menyebutnya ikan bakar Malalayang.
Malam, Goyang Lidah
Lain lagi suasana petang di Kawasan Bolevard. Pengunjung dapat menyaksikan panorama alam dengan Pulau Manado Tua di tengah lautan. Ketika matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, maka proses terjadinya Sunset dapat disaksikan dengan jelas.
Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai.
Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, tinutuan, dan lain-lain. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya.
Kawasan Bolevard tampaknya telah menjadi pusat jajanan “goyang lidah” pemuas selera makan di malam hari di Kota Manado. Suasananya mirip Pantai Losari di Kota Makassar. Banyaknya pengunjung yang datang ke tempat itu, membawa rejeki bagi para penjual makanan
Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, kegiatan pariwisata dengan pesat tumbuh menjadi salah satu andalan perekonomian kota. Primadona pariwisata kota Manado bahkan Provinsi Sulawesi Utara adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh dalam sekitar ½ s/d 2 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi.
Objek wisata lain yang menonjol di kota Manado adalah Kelenteng Ban Hin Kiong di kawasan Pusat Kota yang dibangun pada awal abad 19, Museum Negeri Sulawesi Utara, dan Monumen (Tugu Peringatan) Perang Dunia Kedua.
Selain memiliki objek-objek wisata yang menarik, salah satu keunggulan pariwisata kota Manado adalah letaknya yang strategis ke objek-objek wisata di hinterland, khususnya di Minahasa, yang dapat dijangkau dalam waktu 1 s/d 3 jam dari kota Manado. Objek-objek wisata tersebut antara lain, Vulcano Area di Tomohon, Desa Agriwisata Rurukan-Tomohon, Panorama pegunungan dan Danau Tondano, Batu Pinabetengan dan Waruga di Sawangan.
Karena potensi wisata yang besar tersebut maka industri pariwisata di kota Manado telah semakin tumbuh dan berkembang, yang antara lain ditandai dengan cukup banyaknya hotel dan sarana pendukung lainnya. Sampai tahun akhir tahun 2001, terdapat 67 buah hotel/penginapan, 15 buah travel biro, 223 buah restoran dan rumah makan dari berbagai kelas.
Oleh karenanya meskipun cukup terpengaruh oleh krisis ekonomi dan situasi nasional yang kurang kondusif, tetapi pariwisata di kota Manado tetap berlangsung. Pada tahun 1998 kunjungan wisatawan mancanegara adalah 34.509 Orang, menjadi 11.538 Orang pada tahun 2000 dan agak meningkat pada tahun 2001 menjadi 12.301Orang. Sedangkan wisatawan nusantara pada tahun 1998 berjumlah 432.993 orang, kemudian turun menjadi 279.014 orang pada tahun 2000 dan terakhir pada tahun 2001 agak meningkat menjadi 291.037 orang
Taman Laut Bunaken Manado Tua
Di atas Semenanjung Sulawesi Utara, Indonesia terletak sekelompok lima pulau- pulau yang membentuk taman nasional laut Bunaken Manado Tua. Taman ini mempunyai luas tanah dan laut 75.265 hektar yang terus berkembang dan dilindungi oleh pemerintah Sulawesi Utara. Taman laut ini diresmikan oleh mentri kelautan tanggal 15 Oktober 1991.
Bunaken mempunyai paling sedikit 40 tempat penyelaman yang kaya akan ikan - ikan tropis dan terumbu karang. Lebih dari 150 spesies dari 58 genus di Pantai Bunaken. Lebih dari 3.000 spesies ikan berenang dalam kawasan “Segi Tiga Emas” Papua Nugini, Filipina, dan Indonesia. Bunaken secara Biologis dan strategis terletak di “segi tiga” ini.
Di sebelah Utara Bunaken terletak Laut Sulawesi yang mempunyai kedalaman melebihi 19.800 kaki. Bunaken tidak jauh letaknya dari Manado, kurang lebih 5.000 kaki (15 menit dari Pantai Manado).
WATU PINAWETENGAN
Jenis megalit lain yang menarik, yang terdapat di Minahasa ialah batu bergores yang ditemukan di Kecamatan Tompaso. Oleh penduduk setempat batu bergores ini disebut sebagai watu pinawetengan. Batu ini merupakan bongkahan batu besar alamiah, sehingga bentuknya tidak beraturan. Pada bongkahan batu tersebut terdapat goresan-goresan berbagai motif yang dibuat oleh tangan manusia. Goresan-goresan itu ada yang membentuk gambar manusia, menyerupai kemaluan laki-laki, menggambarkan kemaluan perempuan, dan motif garis-garis serta motif yang tidak jelas maksudnya. Para ahli menduga bahwa goresan-goresan tersebut merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan komunitas pendukung budaya megalit, yaitu kepercayaan kepada roh leluhur (nenek moyang) yang dianggap memiliki kekuatan gaib sehingga mampu mengatur dan menentukan kehidupan manusia di dunia. Oleh sebab itu, manusia harus melakukan upacara-upacara pemujaan tertentu untuk memperoleh keselamatan atau memperoleh apa yang diharapkan (seperti: keberhasilan panen, menolak marabahaya atau mengusir penyakit) dengan menggunakan batu-batu besar sebagai sarana pemujaan mereka. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan tempat tempat bermusyawarahnya para pemimpin dan pemuka masyarakat Minahasa asli keturunan Toar-Lumimuut (nenek moyang masyarakat Minahasa) pada masa lalu, dalam rangka membagi daerah menjadi enam kelompok etnis suku-suku bangsa yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok etnis Minahasa. Sampai saat ini batu bergores yang sudah ditemukan di Minahasa, baru watu pinawetengan, terdapat di wilayah kerja Kawangkoan namun dapat dianggap sebagai temuan yang cukup penting dan dapat dimasukkan sebagai monumen sejarah, khususnya sejarah kebudayaan masyarakat Minahasa.
April 26th, 2006
Australian tourists are, for the time being staying away from Bali. With all the stuff that’s been going on from the Schapelle Corby, Michelle Leslie, the Bali Nine, Bali Bomb II, prophets cartoons and Papua, its not surprising things have been quiet. In the long run I reckon most things are cyclical.
Tourism was picking up nicely after Bali Bomb I, then October 2005 came along and knocked out our short term business. If you look at Bali from a 10,000ft level, there is plenty of construction, plenty of investment. The island is, according to some realters, in the same stages as Hawaii in th 50’s. Underdeveloped, a place waiting to explode (no pun intended). Plenty of choice real estate here, as long as you make sure of your paperwork. As one Aussie expat said to me, “I think we’re on a good wicket here.”
The biggest events in world history have been geological, and as long as Gunung Agung doesn’t erupt we’ll be good for the future.
April 26th, 2006
Garuda Indonesia is hoping to get a jump on the tourist revival in Bali by putting out a new brochure. ‘Bali on ANY budget’ follows the website of a similar name.
This information packed brochure offers travel advice for Bali as well as info on 20 new resorts and many new villas. That is an indication of the level of construction and investment that people are still making in Bali. Resorts and villas are not the only places to stay in Bali, of course. All over the island you can find cheap accommodation, a simple room with a fan. Very often they are family owned, you don’t need to book, just show up and check in. A typical price you might pay in a guest house is 50,000rp, which will get you 2 twin beds, a cold water shower, fan and small breakfast.
Cheap accommodation is also available near the airport. Kuta is just 2 miles from the airport and is packed with guest houses. No need to blow a wad of cash because you are afraid to arrive in a new place, check out your options, there are many.
April 25th, 2006
Previous Posts