Archive for March 6th, 2006

Taman Laut Bunaken Terancam Rusak

Ekosistem di sejumlah kawasan wisata Taman Laut Nasional Bunaken (TLNB) di Manado, Sulawesi Utara, yang keindahannya sudah kesohor di jagad raya, saat ini terancam rusak. Pasalnya, tumpukan sampah yang semakin hari semakin menumpuk dari sejumlah muara sungai yang sengaja dibuang oleh orang tak bertanggung jawab di Kota Manado, mengalir ke Teluk Manado.

Akibatnya, karang laut yang indah bersama pemandangan di dalam laut yang tak kalah menakjubkan itu dikuatirkan akan punah. Padahal selama ini keindahan taman laut tersebut dimanfaatkan oleh beberapa turis asing dari Eropa dan Amerika Serikat untuk melangsungkan pernikahan di dalam laut.

Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi Manado, Dr. Ir. Carolus Paruntu, dalam pemaparannya di Media Informasi Lestari, puing-puing sampah laut (marine debris) muncul akibat dari berbagai aktivitas manusia. Tetapi jelas itu bukan semata-mata berasal dari kegiatan manusia di laut.

Pengelolaan sampah padat memang menjadi masalah besar di Manado, dan secara langsung itu mempengaruhi volume sampah laut di Teluk Manado yang nota bene adalah bagian dari TLNB. Masalah ini, menurut Paruntu, mungkin akan menjadi akut ketika populasi manusia dan industrialisasi meningkat, khususnya di wilayah pesisir dan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berhubungan dengan Teluk Manado.

Jumlah penduduk Kota Manado tahun 2004 sekitar 420.000 jiwa. Jika itu dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 1990 yang sekitar 320.000 jiwa, maka dalam kurun waktu 14 tahun saja itu sudah bertambah 100.000 jiwa. Produksi limbah padat masyarakat kota Manado tahun 1999 rata-rata 1.050 meter kubik per hari dan tahun 2004 rata-rata 1.600 meter kubik per hari. Daya angkut sampah oleh armada Dinas Kebersihan hanya kira-kira 50 persen dari jumlah total sampah per hari.

Berdasarkan hal itu, dapat dicatat bahwa jumlah sampah padat bervariasi dari tahun ke tahun, dan menunjukkan angka yang meningkat seiring dengan pertambahan penduduk di Kota Manado.
Menurut data The United Nation Joint Group of Expert on the Scientific Aspect of Marine Pollution (GESAMP, 1991), 80 persen polusi lautan berasal dari daratan dan puing-puing sampah laut yang masuk ke laut melalui pembuangan secara langsung dari pesisir pantai, maupun secara tidak langsung dari DAS.

Diperkirakan sebanyak 30 persen dari total penduduk Kota Manado mendiami pesisir pantai atau DAS. Panjang garis pantai Kota Manado kira-kira 58,7 km dan terdapat lima sungai besar yang berhubungan dengan pesisir pantai Manado, yaitu Sungai Tondano, Malalayang, Sario, Bailang, Wusa atau Paniki.

Melaksanakan peraturan untuk mencegah orang membuang sampah secara sembarangan memang masih sangat sulit. Buktinya, pemerintah sudah membuat peraturan daerah (perda) dalam rangka mengontrol sumber-sumber sampah ataupun program-program pendidikan untuk mengurangi jumlah sampah, dan melalui kontrol teknologi guna mengumpulkan sampah-sampah padat sebelum dan sesudah mencapai DAS.

Lalu, bagaimana mencegah sampah agar tidak terus menerus dibuang di pedesaan, perkotaan dan tempat-tempat rekreasi? Memang sudah dilakukan, walaupun belum maksimal dan belum menjadi prioritas utama. ”Ada baiknya bila pemerintah segera menuntaskan masalah sampah darat di Manado sampai masalah sampah laut di kawasan TLNB yang sedang mengancam pariwisata dan ekosistem, terumbu karang di wilayah pesisir itu,” ujar Paruntu.

Diharapkan perhatian yang besar dari pemerintah Kota Manado, yaitu pihak eksekutif dan legislatif untuk bertindak tegas dan serius dalam pengelolaan sampah. Misalnya, dengan menetapkan anggaran pengelolaan sampah yang maksimal, karena biaya merupakan salah satu faktor penyebab utama gagalnya pengelolaan sampah.

Kawasan Taman Laut Nasional Bunaken telah ditetapkan pada tahun 1991 meliputi pulau-pulau Bunaken, Siladen, Manado Tua, Mantehage, Nain, dan sebagian wilayah pesisir Tongkaina, Tanjung Pisok, Wori, serta wilayah pesisir Arakan-Wawontulap.
Menurut data dari Turak dan Devantier, 2003, Kawasan TLNB ini meliputi luas 89.000 hektar yang menyediakan habitat bagi paling kurang 1.000 spesis ikan terumbu karang dan sekitar 400 spesis karang batu.

Meski demikian, keanekaragaman spesis di sini dapat terancam, jika dicemari oleh sampah, khususnya sampah plastik yang menumpuk di daerah pesisir maupun yang terapung di perairan. Sampah-sampah plastik dapat menyebabkan matinya terumbu karang karena permukaanya tertutup sampah. Selain itu, sampah dapat membawa organisme asing (alien spesies) ke habitat baru yang dapat mengancam biodiversitas yang ada.

Keprihatinan tentang TLNB bertambah parah lagi dengan adanya reklamasi di Teluk Manado, yang mengakibatkan garis pantai di beberapa kawasan TLNB tak kelihatan lagi. Bahkan akhir-akhir ini tepian pantai sudah sampai di pinggir perumahan penduduk. Padahal sebelum ada reklamasi, hamparan pantai sangat indah dipandang mata, apalagi pada pagi hari.

Add comment March 6th, 2006

Peringatan 600 Tahun Pelayaran Cheng Ho Ke Semarang, Mengenang Sang Raja Laut

Siapa sebenarnya raja lautan itu? Bartolemeus Dias, Marco Polo, Vasco da Gama, Christopher Colombus, atau siapa? Nama-nama itu adalah para pelaut bangsa Eropa yang sudah tersohor. Namun para petualang laut itu masih sangat kecil bila dibandingkan dengan nama Cheng Ho, seorang laksamana dari Dinasti Ming ketika diperintah oleh Kaisar Yung Lo atau Zhu Di pada abad 14.

Laksamana Cheng Ho benar-benar merupakan raja laut dalam arti sebenarnya. Sementara para pelaut bangsa Eropa lebih tepat disebut penjelajah semata. Perbandingan itu bisa dilihat dalam jumlah awak kapal yang mereka bawa. Bartolemeus Dias, orang pertama yang melintasi ujung selatan Afrika (Tanjung Harapan) hanya menggunakan tiga kapal jenis Caravel yang berisi 170 orang.

Sementara perjalanan Christopher Colombus yang memulai pelayaran 3 Agustus 1492 juga menggunakan tiga kapal buatan bangsa Spanyol. Pertama, kapal Santa Maria, kapal terbesar yang dinahkodai Colombus sendiri. Dua kapal lainnya adalah Nina dan Pinta yang lebih kecil. Jumlah awak kapal tiga bahtera itu hanya 104 orang.

Mari melihat armada Cheng Ho. Jumlah armadanya mencapai 357 kapal dengan 27.800 awak kapal. Bukan itu saja, ada 62 kapal Cina berukuran besar yang disebut jung, panjangnya mencapai 132 meter dengan lebar 54 meter. Itu jelas lebih besar dibandingkan kapal-kapal bangsa Eropa yang berukuran separuh atau bahkan seperlima lebih kecil dibandingkan jung Cina.
Cheng Ho berangkat dari Nanking pada 15 Juli 1405 atas perintah misi kerajaan dari Kaisar Yung Lo atau Zhu Di dari Dinasti Ming. Itu artinya, sekitar 87 tahun sebelum perjalanan Colombus.
Bahkan dalam segi lama penjelajahan, Cheng Ho benar-benar tidak tertandingi. Selama 28 tahun ia menjelajahi dunia mulai dari daratan Cina, semenanjung Malaka, Indonesia (Sumatera, Jawa), India, Jazirah Arab, hingga ke Mogadisu di Afrika Timur. Ada sekitar 30 negara ia singgahi selama itu. Misi politik dan perdagangan ia emban bagi kaisarnya. Ia melakukan perjalanan itu sebanyak tujuh kali.

Konvoi armada Cheng Ho di laut biru itu mirip dengan kawanan awan yang berarak-arakan di langit.

Luruskan Sejarah
Bukti-bukti kebesaran Cheng Ho diungkapkan oleh sejarawan amatir Gavin Menzies, pensiunan Komandan Kapal Selam Angkatan Laut Inggris. Dengan biaya sendiri ia mengunjungi 120 negara dan melakukan penelitian di 900 museum dan perpustakaan. Bukan itu saja, ia juga bertanya kepada para ahli. Hasilnya? Ia kemudian menerbitkan buku bertajuk “1421, The Year China Discovered The World” pada November 2002. Di bukunya itu, Menzies menjelaskan bahwa Cheng Ho yang pertama kali menemukan Benua Amerika, bukan Colombus. Sejarah memang harus diluruskan.

Menzies menegaskan, Colombus justru berlayar dengan bekal peta lama buatan Cina. “Ketika para awak kapalnya gelisah, Colombus hanya meyakinkan, terus saja ke barat, nanti pasti akan sampai.”

Peta itu diyakini sebagai peta yang dibuat berlayar para pelaut Cina. Apalagi peneliti lain, Cedric Bell, menemukan reruntuhan kota kuno di Cape Breton, Nova Scotia, pantai timur Kanada. Kawasan itu ternyata memiliki tembok keliling dengan arsitektur Cina. Temuannya itu kemudian disebut Nova Cataia atau New Cathay.

Konon, setiap ia pulang ke Cina, Cheng Ho selalu membawa oleh-oleh benda-benda eksotik untuk sang kaisar mulai dari batu permata, jenis pakaian, rempah-rempah, sampai dengan hewan-hewan seperti singa, macan tutul, jerapah, burung onta, merak, ataupun hewan eksotik lainnya yang di Cina belum ada.
Sah-sah saja bila kemudian ada cerita bahwa Kaisar Yung Lo memiliki sebuah kebun binatang yang berisi aneka satwa yang di Cina sebelumnya tidak ada. Kaisar sendiri yang menjemput Cheng Ho di pintu gerbang dan kemudian menamakan hewan-hewan itu hewan-hewan dari surga.

Mengapa Kaisar Yung Lo mengutus Cheng Ho ke daerah selatan dan barat? Ada beberapa teori. Pertama adalah Yung Lo saat itu memang sedang memburu kaisar yang baru saja digulingkan, yakni Zhu Yun Wen yang juga keponakannya sendiri. Selain itu juga berusaha memburu seorang perwira desersi Cina yang menjadi perompak di Palembang bernama Chen Zhu Yi atau juga Tan Go Ci.

Teori lain meyakini Cheng Ho melaksanakan misi muhibah untuk menjalin persahabatan dan perdagangan dengan kerajaan di luar negeri.

Diperingati Besar-besaran
Kehebatan Cheng Ho itu kini sedang diperingati di Semarang, Jawa Tengah, secara besar-besaran sejak 1 hingga 7 Agustus 2005 nanti di beberapa tempat. Pertama, di Kawasan PRPP (Pekan Raya Promosi dan Perdagangan) Jawa Tengah di pantai Marina. Kedua, di Kelenteng Tay Kak Sie di Pecinan Semarang, serta di Kelenteng Sam Poo Kong, Gedung Batu, Semarang. Ketiga, di GOR Jatidiri dalam acara lomba barongsay nasional.
Alasan peringatan itu digelar di Semarang karena Cheng Ho pernah selama sebulan tinggal di Semarang dalam rangka perbaikan kapal dan merawat salah satu pembantu utamanya yang sakit, Ong King Hong. Namun sumber lain menyebutkan Cheng Ho tinggal di Semarang sekitar satu tahun.

Menurut sejarawan Slamet Muljana dalam bukunya “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara” (Jakarta: 1968), dalam misi pelayarannya itu Cheng Ho pernah singgah di Indonesia seperti di Samodra Pasai (Aceh), Palembang, Cilincing (Jakarta), Gunung Talang (Cirebon), Gedung Batu (Semarang), dan Surabaya.

Pengamat sejarah Cina dan juga penulis cerita silat Cina, Gan Kok Hwie dari Semarang menjelaskan, Cheng Ho dalam misinya juga mengajarkan penduduk setempat soal bertani, membuat rumah, sampai dengan pertukaran budaya.

Slamet Muljana dalam bukunya menjelaskan bahwa Cheng Ho berperan besar dalam pergolakan politik di kerajaan-kerajaan di Jawa. Setidaknya Cheng Ho berperan dalam membangun kerajaan Islam Demak pada tahun 1475, serta memiliki andil besar dalam keruntuhan Majapahit.

Cheng Ho meninggal pada 1435 dalam perjalanan pulang dari Afrika Timur ke Cina. Ia dimakamkan di Niushou, Nanking (Nanjing); menjadi peletak dasar orang-orang Cina bermain dalam pemerintahan di kerajaan-kerajaan Jawa. Cheng Ho dipercaya mengunjungi Majapahit pada 1406, setahun setelah pelayarannya dari Cina.

Sisa-sisa pengaruh peradaban Cina yang dibawa Cheng Ho yang muslim itu bisa dilihat dari gaya arstitektur masjid dan menara masjid di Jawa. Atap-atap pelana kuda mirip kelenteng, dan menara masjid mirip pagoda; merupakan pengaruh Cina. Bukan itu saja, bedug yang digantungkan di masjid-masjid di Jawa – kemudian juga di Indonesia – merupakan perkusi khas Cina.
Cheng Ho memang dari keluarga muslim. Ia anak dari Haji Ma Ha Zhi dan ibu dari marga Oen (Wen) di Desa He Tay, Kabupaten Kun Yang, di Provinsi Yunnan. Dalam sebuah peperangan, kawasan Yunnan diserbu tentara Kekaisaran Cina (Ming) yang sedang menggempur tentara Monggolia yang sempat menjajah Cina.

Dalam serangan itu, sebagai warga sipil keluarga Ma Ha Zhi menjadi korban. Ma Ha Zhi tewas, sementara si kecil Cheng Ho alias Ma He yang kala itu berusia 12 tahun juga menjadi korban. Ia dikebiri (thaykam), sebuah tradisi kejam tentara penakluk terhadap para lelaki yang daerahnya baru dikuasainya.
Entah bagaimana kisahnya, Cheng Ho justru bisa menjadi pengawal raja Pangeran Zhu Di. Ia juga yang ikut menggulingkan Kaisar Zhu Yun Wen. Cheng Ho pula akhirnya diberi gelar Sam Poo Kong – yakni orang besar ketiga di sebuah kekaisaran. Pertama adalah kaisar. Kedua, putra mahkota, dan ketiga, Sam Poo Kong itu.

Add comment March 6th, 2006

Wisata Alam di Pulau Tengah Menunggu ‘tuk Dinikmati

Desa Pulau Tengah merupakan desa terbesar dan terluas di Kecamatan Jangkat. Mata pencaharian penduduk umumnya bertani, dengan tambahan usaha berkebun. Tetapi bukan hanya itu yang membuat desa ini istimewa. Sebab ternyata desa ini juga menyimpan banyak jenis wisata yang menarik, di antaranya panorama desa, serta tiga danau dan air terjun Mentalun.

Mengenai panorama desa, bisa dikatakan desa ini merupakan salah satu desa terindah di pertiwi ini. Persawahan yang menghampar dengan lumbung-lumbung padi. Hutan yang masih ijo royo-royo (hijau), lengkap dengan sungai yang mengalir jernih di dalamnya.

Menikmati pemandangan alam desa, seperti tak ada habis-habisnya mentahbiskan keindahannya. Semua seperti gambaran kita pada kerinduan alam pedesaan.

Bila ingin menambah kekaguman lagi mengenai keindahan wisata di sini, bisa juga kita menyempatkan diri menyinggahi ketiga danau di sekitar desa. Ketiganya biasa dikenal dengan nama Danau Dipati Empat (Gedang), Danau Pauh dan Danau Kecil (Kecik).

Dipati Empat merupakan danau terbesar diantara ketiga danau tersebut. Terletak di bagian barat desa, berjarak sekitar empat jam perjalanan. Namun disarankan bagi Anda yang ingin pergi ke danau ini, agar mempersiapkan perjalanan sebaiknya karena masih sulitnya jalur yang harus ditempuh.

Dua danau lainnya, biasa disebut penduduk sekitar dengan nama Danau Pauh dan Danau Kecik. Danau Pauh dan Danau Kecik terletak berdekatan di bagian utara desa. Berada di kilometer 4 dan dapat ditempuh dengan mobil atau ojek selama 30 menit perjalanan dari desa.

Dari penuturan masyarakat sekitar, disebut Danau Pauh karena dahulu banyak pohon Pauh di sekitar pinggiran danau. Pohon Pauh ini menurut mereka, berbuah mirip mangga, dengan getah di sana-sini.

Danau Kecik juga ternyata tak kalah berseleranya untuk didatangi. Danau terkecil di antara ketiga danau tadi, juga menyimpan aset berharga sebagai daerah tujuan wisata. Letaknya dikelilingi hamparan sawah yang tertata rapih dengan sistem terasiring, malah membuat danau ini laksana colloseum di Roma.

Tak terbayangkan indahnya, bila padi yang terdapat di sekeliling danau kecil tersebut mulai menguning. Pasti pemandangan yang tercipta sulit tertandingi oleh bagian manapun di dunia ini.

Mentalun
Aset wisata lain yang tampaknya belum juga tergali adalah air terjun Mentalun yang bertingkat dua. Bagian air terjun yang bawah setinggi 40 meter. Dengan air yang jatuh jernih di atas kolam selebar enam meter. Menurut informasi penduduk yang sempat menemani kami melihat tempat itu, masih terdapat banyak ikan di bawah air terjun tersebut.

Namun hingga kini beberapa masalah masih melingkupi potensi wisata ini. Seperti sulitnya jalan masuk menuju Danau Dipati Empat dan air terjun Mentalun. Karena kita harus berjalan kaki paling tidak sejauh empat jam menuju ke sana.

Kesulitan ini kemudian ditambah dengan belum maksimalnya pembangunan sarana transportasi menuju lokasi. Ini terlihat dari jalan yang digunakan untuk menuju Danau Pauh dan Danua Kecik. Dimana terlihat banyak jalan yang berlubang dan tak teraspal, sehingga bisa menyebabkan mobil–mobil jenis tertentu seperti sedan kandas sebelum mencapai lokasi.

Ketiga aset tersebut sebenarnya merupakan potensi wisata yang sangat berpeluang untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Tinggal bagaimana pemerintah daerah memanfaatkannya semaksimal mungkin. Aset ini kini ibarat gadis yang malu-malu, namun sebenarnya menunggu untuk disunting

Add comment March 6th, 2006

Dari Pemandangan Pantai hingga Petilasan Gubernur Jenderal Belanda

Daerah Anyer-Carita-Labuan, di sebelah barat Provinsi Banten yang pernah musnah dihantam tsunami saat Gunung Krakatau meletus tahun 1883, kini menjadi daerah wisata pantai nan elok. Pantainya yang landai dengan pasir putih menghampar bak permadani adalah pemandangan yang pantas dinikmati di saat matahari terbit atau terbenam.

Tidak heran, pesona alam di Selat Sunda ini menarik pemilik uang untuk mendirikan tempat-tempat penginapan dengan sebutan hotel, cottage, resort, rumah makan dan sebagainya yang bertebaran sepanjang pantai itu. Sebut saja hotel berbintang mulai dari Sol Elite Marbella, Mambruk, Lippo, Patra Jasa, Sang Hyang dan sederet nama lainnya.

Sedangkan cottage-cottage pun bertumbuhan bak jamur di musim hujan, dan terkesan menyembunyikan diri dengan membangun tembok-tembok yang tinggi. Para pengunjung cottage langsung masuk ke area itu dengan kendaraan. Tak banyak aktivitas mereka yang bisa dilihat dari luar. Tembok tinggi memang telah menutupi mereka, dengan alasan menjaga kegiatan pribadi.

Bahkan pemilik uang membeli tanah-tanah terbuka di pinggir pantai, kemudian dikelola menjadi tempat wisata milik pribadi yang memungut uang bagi pengunjungnya. Ada nama Objek Wisata Marina, Pasauran Indah, Cinangka Beach, Carita Beach dan sebagainya. Fasilitas yang disediakan pengelola objek wisata itu sederhana, di antaranya MCK (mandi, cuci, kakus), bangunan-bangunan dari kayu untuk lesehan dan warung-warung. Biasanya, pengelola juga menyediakan perahu atau alat-alat untuk berenang.

Alhasil, daerah Anyer-Carita-Labuan yang secara administratif masuk Kabupaten Serang (Anyer) dan Pandeglang (Carita-Labuan) menjadi padat oleh para investor, terkesan wilayah ini sudah tak ada lagi ruang terbuka yang benar-benar milik publik. Nyaris pantai di Selat Sunda sudah dikuasai investor hingga ke bibir pantai, untuk mengeruk uang yang ada di kantung-kantung pengunjung.

Terbukti, setiap akhir pekan pantai di Anyer-Carita-Labuan dipadati wisatawan dari berbagai daerah seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan provinsi-provinsi lain. Jadi pemandangan biasa, jalur wisata ini menjadi macet, terutama dari arah Kota Cilegon di saat hari-hari libur. Sebab arus kendaraan ke daerah wisata ini seperti leher botol yang menyempit ketika memasuki jalan ke arah Anyer, selain badan jalan itu sendiri lebarnya hanya 12 meter.

Padahal ada rute alternatif yang jarang disosialisasikan oleh pemerintah setempat. Rute itu antara lain Serang-Taktakan-Cinangka-Anyer atau Serang-Padarincang-Mancak-Cinangka-Anyer. Kedua rute ini menempuh daerah pegunungan dengan panorama khas. Misalnya, di Mancak terdapat Cagar Alam (CA) Rawadanau seluas 2.500 hektare yang merupakan rawa tropik pegunungan yang tinggal satu-satunya di dunia.

Rute alternatif ini tidak serius didandani pemerintah setempat, menimbulkan kesan yang kurang sedap. Jalan sempit dan rusak di beberapa ruasnya. Jika malam, ruas jalan ini benar-benar gelap, sehingga menakutkan pengemudi kendaraan.
Gunung dan Jalan.

Selain panorama pantai, dua anak Gunung Krakatau di Selat Sunda adalah kekuatan alam yang menarik untuk dikunjungi. Meski gunung ini termasuk administratif Provinsi Lampung, gunung ini lebih mudah dijangkau dari Provinsi Banten. Daya tarik dua anak gunung ini selain kepulan asap akibat aktivitas gunung, juga munculnya kehidupan baru di badan gunung. Ini merupakan hal yang mendorong ilmuwan atau pemerhati lainnya untuk datang.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten berkerja sama dengan perusahaan pariwisata setiap tahun menggelar acara kunjungan ke anak Gunung Krakatau dengan menggunakan kapal fery (penyeberangan) berkapasitas lebih 1.000 orang. “Tujuannya untuk mempromosikan wisata di Selat Sunda. Dalam momen ini juga berlangsung transaksi antara perusahaan pariwisata dengan pengelola wisata dari dalam negeri maupun luar negeri. Tahun 2004 ada 15 negara yang mengirimkan pengusahanya,” kata Sulaeman Affandi, Kepala Disbudpar Banten kepada SH.

Wisata di Anyer dan sekitarnya bukan hanya pantai. Mercusuar Anyer diyakini sebagai titik nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles.

Pembangunan jalan ini menelan korban ribuan pekerja paksa. Sayangnya, tak ada monumen atau prasasti untuk mengenang sejarah yang penuh darah itu.

Sedangkan di Caringin, Kecamatan Labuan (Kabupaten Pandeglang) terdapat sebuah masjid yang didirikan sezaman dengan berdirinya Kerajaan Islam Banten. Corak dan gaya arsitekturnya hampir sama dengan Masjid Agung Banten di tengah reruntuhan Kerajaan Islam Banten di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Konon, masjid ini didirikan dalam waktu sehari seperti dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi di Tangkuban Perahu (Bandung) yang membangun kerajaan dalam sehari.

Namun peristiwa terbesar justru tidak terekam di daerah ini, yaitu musnahnya kehidupan di Anyer dan sekitarnya ketika Gunung Krakatau meletus tahun 1883. Peristiwa luar biasa ini memusnahkan Kota Anyer yang berpenduduk di atas 50.000, disusul dengan wabah malaria yang hebat. Kehancuran kota ini akibat gelombang tsunami yang dahsyat. Petugas Mercusuar di Ujungkulon di zaman itu mencatat, gelombang air mencapai ratusan meter di atas permukaan laut.

Kedahsyatan akibat letusan gunung ini sempat dipajang oleh pengelola Hotel Carita Beach yang berkebangsaan Jerman, berikut memajang foto dan karya Suku Baduy di Pegunungan Keundeung, Kabupaten Lebak. Hotel ini menggunakan bangunan khas Baduy. Setelah hotel ini dibeli oleh Grup Lippo dan mendirikan hotel modern, pajangan itu hilang.

Meski begitu, pantai Anyer-Carita-Labuan dan kini melebar ke Tanjung Lesung memang tetap menarik untuk dikunjungi. Paling tidak, daerah ini menjadi pelepas kejenuhan bagi warga Kota Jakarta.

Add comment March 6th, 2006

Curug Cipendok dan Telaga Pucung

Tentu sudah tidak asing lagi, kalau Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) memiliki satu objek wisata Baturaden. Kekhasan alam sangat terasa mulai dari hutan, air sungai yang jernih, sampai asrinya lokasi perkemahan (camping ground). Namun, ternyata Banyumas tidak hanya memiliki Baturaden.

Di Kecamatan Cilongok atau sekitar 15 km arah barat Kota Purwokerto, juga mempunyai objek wisata yang hampir sama dengan Baturaden. Pesonanya sensasional, karena alam khas pegunungan benar-benar dapat dinikmati pengunjung. Itulah Curug Cipendok dan Telaga Pucung.

Jika Anda ingin mengunjungi Curug Cipendok, siap-siaplah membawa payung atau jas hujan, minimal pakaian ganti. Sebab kalau memasuki kawasan Curug Cipendok, Anda pasti ”kehujanan”. Ini dikarenakan Curug Cipendok adalah air terjun yang memiliki ketinggian hampir 100 meter sehingga titik-titik air membasahi daerah sekitarnya, meski tidak turun hujan.
Curug Cipendok menjadi daya tarik tersendiri, karena lingkungan alamnya masih betul-betul alami. Kesunyian juga masih sangat terasa, sebab belum banyak pelancong yang datang menikmati keindahan alam di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok tersebut.

Antara Curug Cipendok dengan tempat parkir mobil masih tersisa sekitar 500 meter. Namun jangan khawatir, perjalanan 500 meter jalan dari pintu masuk menuju curug tidak bakal membuat bosan. Justru sebaliknya, perjalanan tersebut membuat pengunjung dibawa memasuki alam yang masih asri. Dengan jalan yang naik turun, wisatawan yang datang akan disambut dengan suara-suara serangga khas hutan tropis.

Setelah berjalan sekitar 15-20 menit, sebelum sampai Curug Cipendok akan terdengar suara gemuruh seperti hujan lebat. Itulah suara air terjun yang turun dari ketinggian hampir 100 meter tersebut. Udara dingin ditambah dengan titik-titik air membuat suasana damai dan fresh. Jika sudah agak siang, sinar matahari yang bersinar membuat pelangi tipis hasil pantulan titik-titik air yang turun.

Menuju Curug Cipendok tidaklah terlalu susah. Hanya saja, belum ada angkutan umum resmi yang sampai ke sana, sehingga kalau wisatawan mengunjungi tempat itu harus dengan kendaraan pribadi atau sewaan. Tempat wisata alam itu, berada sekitar 10 km arah barat Kota Purwokerto atau sekitar 5 km dari Ajibarang, Banyumas.

Elang dan Monyet

Dari jalan raya Cilongok menuju lokasi berjarak 8 km dengan kondisi jalan naik dan berkelok, tapi aspalnya sudah halus. Di sekitar lokasi Curug Cipendok, ada juga wisata telaga yang sungguh menakjubkan yakni Telaga Pucung. Telaga setempat dikelilingi oleh hutan pinus dan damar, sehingga sangat cocok untuk camping ground.
Telaga ini akan menjadi salah satu andalan Kabupaten Banyumas untuk menyedot wisatawan. Kompleks Telaga Pucung menempati areal seluas tiga hektare (ha), dengan luas telaga sekitar satu ha. Objek wisata di Banyumas mungkin belum banyak yang kenal, sebab baru akan dibuka secara resmi menjadi tujuan wisata pada 8 Agustus 2005.

Daya tarik objek wisata ini adalah telaga dengan air yang cukup jernih dan di sekitarnya dikelilingi hutan yang masih alami. Selain itu, wisatawan juga dapat mendengar suara-suara burung langka seperti elang Jawa yang terbang berputar-putar di atas telaga. Apalagi, bagi pengunjung yang beruntung dapat melihat spesies endemik sejenis monyet berwarna abu-abu yakni rek-rek.

Tempat wisata yang masuk dalam wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuma Timur tersebut mulai dibenahi dengan berbagai fasilitas, karena dijadikan tujuan wisata secara resmi.

KPH Banyumas Timur telah melengkapi dengan tempat parkir, tempat istirahat, dan kamar mandi. Bahkan, Perhutani telah memberi nama-nama pohon langka yang hidup di situ. Tujuannya tidak lain diperuntukkan bagi para pelajar, di samping menikmati alam, mereka juga dapat mengenal tumbuh-tumbuhan langka yang hidup di tempat itu.

Di sekitar Telaga Pucung juga terdapat tempat lapang yang dapat digunakan untuk camping ground. Tempat tersebut sengaja dibuat, dikhususkan bagi anak-anak muda yang suka berpetualang dengan di alam bebas. Telaga Pucung ini semakin memantapkan wisata khas Banyumas yakni alam pegunungan. Dengan bertambahnya objek wisata tersebut, wisatawan yang datang ke Banyumas semakin mendambah daftar alternatif tujuan wisata. Jadi, kalau selama ini Anda ke Banyumas hanya pergi ke Baturaden, akan rugi. Pasalnya, masih ada tempat alternatif lainnya yang tidak kalah asrinya. Yang pasti, wisatawan yang datang ke tempat ini akan merasa damai, karena jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Add comment March 6th, 2006

Pesona Pantai Maluk di Sumbawa Barat

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki obyek wisata pantai yang tak kalah eksotisnya dengan Bali. Salah satu objek wisata pantai di NTB yang namanya sudah mulai dikenal adalah Pantai Senggigi. Sebenarnya bukan cuma Pantai Senggigi yang dapat dijadikan obyek wisata di NTB. Jika pelancong punya cukup banyak waktu, objek wisata pantai di Kabupaten Sumbawa Barat layak untuk dikunjungi.

Di Kabupaten Sumbawa Barat ini terdapat beberapa obyek wisata pantai. Mulai dari Pantai Maluk, Pantai Sekongkang, Pantai Tropical, hingga ke Pantai Jelengah. Dari obyek wisata pantai yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat ini, Pantai Maluk merupakan obyek yang paling banyak menarik minat wisatawan.
Untuk mengunjungi Pantai Maluk ini tidak terlalu sulit. Sarana transportasi yang dibutuhkan oleh wisatawan tersedia setiap saat. Dari Ibu Kota NTB, Mataram, dibutuhkan waktu sekitar enam jam untuk sampai ke Pantai Maluk. Sekitar dua jam perjalanan menggunakan feri dari Pelabuhan Kayangan Lombok. Selebihnya perjalanan ditempuh melalui jalur darat.
Pantai Maluk terdapat di Desa Maluk, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat. Dari Pantai Maluk ini wisatawan bisa melihat pesona keindahan Teluk Maluk. Bukan hanya itu. Pantai Maluk kerap dijadikan oleh wisatawan sebagai arena berselancar. Tak heran apabila peselancar kelas dunia senantiasa mengagendakan kegiatan di Pantai Maluk.
“Ombak di Pantai Maluk ini telah masuk dalam daftar ombak terbaik bagi peselancar dunia,” jelas Eldiman, salah seorang pengelola papan selancar di Pantai Maluk yang ditemui SH belum lama ini. Oleh para peselancar, ombak di Pantai Maluk diberi julukan Super Suck. Julukan ini diberikan karena ombak yang menuju daratan terpecah oleh sebuah tanjung.
Oleh penduduk setempat, tanjung tersebut dinamai Tanjung Ahmad. Pecahan ombak ini menggulung hingga ketinggian di atas dua meter. Ombak tersebut terus bergulung-gulung hingga seolah menyedot para peselancar yang mencoba menaklukkannya. Menurut Eldiman, hanya peselancar yang piawai bermain di atas papan selancar saja yang mampu menaklukkan ombak Super Suck Pantai Maluk.

Jika wisatawan tidak membawa papan selancar, tak perlu kuatir. Eldiman menyebutkan pihaknya siap menyewakan papan selancar. Menyangkut tarif sewa, tidak ada tarif tertentu. “Kadang kami malah meminjamkannya dengan gratis,” timpal Eldiman. Dengan ombak yang begitu menantang, tak heran jika Pantai Maluk menjadi ajang pamer kemahiran para peselancar yang datang dari berbagai penjuru dunia. Biasanya mereka datang pada saat-saat hari libur. Suasana pantai yang masih tergolong sepi, membuat wisatawan menjadi lebih enjoy.

Memang dibandingkan dengan obyek wisata pantai di Bali, Pantai Maluk belum banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pantai Maluk masih kalah populer dibandingkan dengan Pantai Kuta maupun Pantai Sanur. Padahal dari segi pesona eksotisnya, Pantai Maluk tak kalah. Pasirnya yang putih dan lembut serta matahari yang memancarkan sinar terik, bisa membuat wisatawan betah berjemur. Bagi wisatawan yang tidak ingin berjemur atau berselancar, dapat menghabiskan waktu dengan bermain kano. Setiap kano dapat disewa dengan tarif sebesar Rp 5.000 per jam.

Masakan Laut
Puas berjemur, berselancar maupun bermain kano, wisatawan dapat mengisi perut dengan berbagai masakan laut yang membangkitkan selera. Menikmati sea food sembari menyaksikan gulungan ombak berkejar-kejaran memang sangat nikmat. Kendati mulai banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, sayangnya fasilitas yang ada masih perlu dibenahi. Memang fasilitas di Pantai Maluk terkesan masih minim. Memang fasilitas seperti pancuran terbuka, rumah makan, arena voli pantai serta fasilitas bermain anak-anak telah tersedia. Hanya saja fasilitas tersebut kapasitasnya masih minim.
Menurut Kepala Desa Maluk, Mukhlis HM, fasilitas yang ada saat ini sebenarnya jauh memadai dibandingkan beberapa tahun lalu. “Sekitar empat tahun lalu Pantai Maluk masih banyak ditumbuhi oleh semak belukar. Sekarang jauh lebih baik,” ujar Mukhlis.

Masalah lain barangkali berkaitan dengan fasilitas menginap. Memang telah ada hotel dengan tarif berkisar Rp 150.000 - Rp 250.000 per hari. Namun fasilitasnya masih terkesan seadanya. Belum dikelola secara profesional dan serius. Meski demikian, dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya di Sumbawa Barat, fasilitas di Pantai Maluk sesungguhnya jauh lebih memadai. Di Pantai Sekongkang, misalnya, bahkan fasilitas yang tersedia boleh dibilang tak memadai. Kurangnya promosi membuat Pantai Sekongkang kalah pamor dibandingkan dengan Pantai Maluk.
Padahal ombak Pantai Sekongkang ini pun telah masuk kategori ombak terbaik di dunia bagi kalangan peselancar. Oleh para peselancar, ombak Pantai Sekongkang dijuluki dengan Ombak Yoyo. Pasalnya, gerakan ombak di Pantai Sekongkang ibarat mainan yoyo yang terayun-ayun naik turun kala dimainkan oleh anak-anak.

Di masa mendatang potensi obyek wisata pantai di Kabupaten Sumbawa Barat memang masih dapat dioptimalkan. Jika digarap dengan serius, bisa jadi pesona pantai nan eksotis Sumbawa Barat mampu menggeser popularitas Bali sebagai destinasi wisatawan dunia

Add comment March 6th, 2006

Loko Tour

Daun berguguran, meranggas, tinggallah pohon-pohon berdiri diantara panas dan teriknya matahari, musim berganti, daun bersemi, hamparan hijau hutan di musim hujan diselingi nyanyian satwa bersahutan, itulah nuansa hutan Jati diantara dua musim, menyimpan legenda dan tradisi masyarakat disekitarnya yang sangat menarik untuk diresapi.

Wisatawan dapat menikmati nuansa alam hutan Jati dengan keunikan lingkungan dan tradisi masyarakat dilokasi hutan Jati (Tectona Grandis L) Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perum Perhutani, Cepu Jawa Tengah. Perjalanan ke lokasi wisata Loko Tour dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat ataupun dengan kereta api lintas Jakarta-Semarang-Surabaya.

Begitu tiba dilokasi wisata, Anda akan diantar berkeliling hutan Jati dengan mengendarai gerbong yang ditarik oleh lokomotif tua buatan Berlier Maschinenbau Jerman tahun 1928, yang akan membangkitkan kenangan nostalgia masa lalu. Semilir angin mengantar kita menikmati keramahtamahan penduduk desa, uniknya hutan Jati sejauh 60 km dan ladang-ladang minyak yang diolah dengan tradisional.

Bengkel Traksi, stasiun awal perjalanan wisata kita, terletak dilokasi Kantor KPH Cepu, dari sinilah wisatawan akan berkeliling melintasi hutan Jati diketinggian 25-250 m diatas permukaan laut, dengan suhu udara 220- 340C.

Setelah perjalanan menempuh jarak 2 km, Anda akan dibawa ke hamparan log Jati di Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Batokan. Bersebelahan dengan TPK, wisatawan dapat menyaksikan Industri Pengolahan Kayu Jati (IPJK) Cepu, disinilah Anda dapat melihat proses pembuatan furniture, pintu-pintu Jati, Pinus, dan Mahoni, diolah menggunakan mesin-mesin modern.

Harmoni kerjasama yang sangat indah antara teknologi canggih masa kini dan pola tradisional pengelolaan hutan Jati dapat Anda lihat disana, dimulai dari pengembangbiakan pohon Jati melalui stek pucuk, kultur jaringan dan kebun benih klonal di Pusat Jati atau Teak Centre yang dikerjakan dengan teknologi terkini yang sangat canggih, berpadu dengan pola tradisional penanaman, pemeliharaan, penebangan manual oleh blandong yaitu pekerja tebang profesional yang tinggal di desa sekitar hutan menggunakan kapak atau gergaji. Tenaga Sapi Sarad, cara tradisional untuk mengangkut kayu Jati ke TPK, selain lori yang ditarik lokomotif, melalui jaringan rel yang dibuat tahun 1915, melengkapi nuansa tradisional pengelolaan hutan Jati dilokasi ini

Tanpa terasa, waktu telah beranjak siang, sampailah kita di tempat peristirahatan Gubug payung, yang terletak di Monumen Hutan Jati Alam BKPH Pasar Sore KPH Cepu. Disinilah wisatawan dapat melihat pohon tertua yang ditebang pada tahun 1976 yang diperkirakan berumur 132 tahun (pada tahun 2000). Liukan penari, suara merdu penyanyi Tayub, menghilangkan rasa penat sambil menikmati hidangan makan siang.

Sebelum kembali Anda dapat menikmati harmoni nada irama yang merdu dari Lesungan, yang merupakan tradisi masyarakat desa sekitar hutan Jati sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah penat berkeliling seharian, Anda akan disambut nyamannya kamar ber AC, di Wisma Perum Perhutani. Sebelum sampai di wisma jangan terlewatkan untuk mampir membeli kerajinan kayu karya tangan-tangan trampil khas daerah Cepu. Lezatnya Sate dan Ayam Bakar yang menjadi ciri khas daerah setempat, melengkapi kenangan indah mengikuti wisata Loko Tour di kota Cepu.

Add comment March 6th, 2006


Calendar

March 2006
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Posts by Month

Posts by Category