Home  About Us   Map   Galleries   Accommodation   Public-info   Contact us       
 


Prambanan Temple


Other Temple

Craft-industry Tourist

Performing-art Tourist

Local Tourist Event

Photo Gallery

Fast and Facts

 

 










HUBUNGAN ANTARA CANDI PLAOSAN &
CANDI RORO JONGGRANG


Berdasarkan data-data prasasti di atas, baik yang berlatar belakang agama Hindhu maupun Budha dapat diketahui bahwa keduanya dapat hidup saling berdampingan, bahkan dalam sebuah keluarga antara suami dan istri. Dengan demikian hubungan baik antara candi Roro Jonggrang Prambanan dengan Candi Plaosan Lor secara historis tidak diragukan lagi. Meskipun demildan masih perlu juga diketahui tentang perkembangan agama Hindhu dan Budha di Jawa pada masa itu sebagai penguat hubungan antara keduanya.

Agama Hindhu pada awal perkembangannya tampak dari penyebutan nama tempat yang dimuat di dalam prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya, yaitu pendirian sebuah lingga di bukit Ksitirangga yang terletak di Kunjam - kunja - deca Informasi ini jelas menunjukkan pemujaan terhadap Dewa-dewa dalam agama Hindhu. Selanjutnya seperti telah disebut dimuka bahwa terjadi perpindahan agama dari. tokoh yang bernama Sangkara, karena terjadi peristiwa yang menimpa keluarganya, sejak saat itulah mulai berkembang agama Budha Mahayana. Perkembangan ini banyak didukung, baik dengan banyaknya prasasti yang menyebut persembahan terhadap agama Budha maupun tinggalan arkeologi yang berupa candi yang berlatar belakang agama Budha.


Candi Plaosan merupakan candi Budha Tentrayana.
Pada dasarnya semua candi Budha dibentangkan pada candi Budha yang biasanya memunculkan tiga perwujudan Budha yaitu : Diani Budha, Diani Bodhisatwa dan Manusi Bodbisatwa walaupun kesemuanya ada 15 perwujudan Budha, adapun yang terlengkap ada di Borobudur, namun yang dipakai adalah Diani Budbanya (Amitaba), Diani Bodhisatwa (Awalukiswara yang melambangkan cinta kasih dan kasih sayang), dan Manusi Bodhi Satwa (Sakyamun).
Ketiga perwujudan tersebut merupakan satu patner dalam menjalankan tugas.
Gambaran candi Plaosan merupakan perwujudan satu Triatna yaitu Budha yang berarti melihat kebenaran, Dharma yang berarti jalan untuk mencapai kebenaran, dan Sangha yang berarti pasamuan suci, tempat
pembelajaran guru dan murid yang diwakili para rahib. Ketiganya merupakan kund untuk mempertemukan yang maha kekal

Lambang-lambang patung yang terdapat di candi Plaosan bukanlah lambang Budha sebagai diri, akan tetapi Budha sebagai lambang kekekalan - kesempurnaan. Dimana lambang tersebut diapait oleh dua Bodhisatwa, yang merupakan lambang yang mau mencapai kesempurnaan.

Agama Budha Tentrayana sendiri penuh dengan simbul yang memilild makna yang panjang. Hal ini diperlihatkan oleh arca Bodhisatwa di candi Plaosan yang melambangkan masing-masing wujud dan sifat Budha serta jalan untuk perenungan` menuju sifat baik Simbol-simbol tersebut bersifat mistis, adapun yang terjadi sekarang ini adalah bukan ibadah yang diperhatikan oleh orang-orang, melainkan budayanya yang simbol. Hal ini tentunya menyingkirkan unsur ibadah yang seharusnya menjadi tujuan utama seseorang.

Pada masa abad ke 7 dan ke 8 (masa berdirinya candi Plaosan) merupakan masa pematangan konsep Tentrayana yang kemudian memunculkan konsep baru yaitu konsep Adibudha yang berarti Budha kesempurnaan, di Indonesia sendiri hal tersebut diwujudkan dalam Tuhan Yang Maha Esa.
Tentra yang sama juga ada di Tibet, yang berasal dari Indonesia / Jawa, yang kemudian berbaur dengan Tentris dan kematraan lokal, hal ini juga terjadi di Indonesia dimana proses perubahan terjadi dari Budha murni Terawada ke Mahayana dan berlanjut menjadi Tentrayana.

Untuk memahami perlambangan di Tentrayana, seseorang harus memahami terlebih dahulu dasar persimbolan Mahayana yang orang harus hafal dasar-dasar nilai ajaran Budha di Terawada. Hirarki pemahaman / pencapaian ini harus dipahami dulu lebih awal sehingga tidak ada kesalahan dalam penafsiran pada tingkat yang lebih tinggi. Pengajaran tingkat yang tinggi ini juga disesuaikan dengan tingkat kemampuan seorang Bhiksu, dimana hanya Bhiksu-bhiksu tertentu, dinilai dari beberapa aspek, yang diajarkan Tentrayana melalui kelas-kelas rahasia secara hirarkis, yang pertama ada adalah Budha Terawada (murni), dimana tidak ada upacaraupacara ritual didalamnya, kemudian lahir Mahayana dengan upacaraupacara besar sekaligus sebagai penyebaran pemahaman ajaran Budha dan simbol-simbolnya pada masyarakat masa lalu.
Terkait dengan hal tersebut, candi Borobudur yang juga merupakan candi Budha, memilild nilai potensial sebagai tempat wisata ritual, sekaligus untuk menjaga dan memelihara kesrakalan yang ada di sang Namun yang terjadi sekarang ini adalah pengunjung yang ingin bersembahyang di Borobudur akan berfikir dua kali untuk melakukannya, karena secara psikologis, mereka tidak nyaman dengan melihat pengunjung lain dengan seenaknya duduk dan naik patung sembarangan, sehingga mengakibatkan Borobudur semakin kotor dan lain-lain.

Dilihat dari beberapa aspek, candi Plaosan sendiri memilild potensi besar untuk dikembangkan dari segi bentuknya, Plaosan memilild tiga bilik yang melambangkan Tri Ratna, yaitu Budha masa lalu. Budha sekarang dan Budha yangakan datang, sedangkan candi Sewu yang juga merupakan candi Hindhu lebih merupakan biara ( tempat belajar Bhiksu ) dilihat dari pola mandalanya yang berbeda. Hal ini bisa dilihat dari adanya candi Perwara sebagai tempat meditasi, sementara tanah lapang sebagai tempat dharma bersama.

Dilihat dari potongan pola mandala, candi Plaosan memilild potongan pola mandala yang lengkap, dari tempat yang rendah (mikrokosmos / membumi) gradual hingga tempat yang lebih tinggi dan paling tinggi, hal ini ditandai dengan puncak stupa sebagai perwujudan penyatuan dengan nirwana / kesempurnaan / mikrokosmos. Plaosan sebagai tempat suci umat Budha, tentunya memiliki pagarpagar sebagai pengaman, adanya pant dan pagar di candi plaosan, dinilai sebagai pengaman dari binatang buas dan liar, sehingga mereka tidak bisa berenang untuk mencapai permukaan candi Plaosan, walaupun dalam upacara ada pola pembersihan dengan air, namun parit yang ada di candi plaosan dinilai hanya sebagai pengaman.

Dari segi ritual, untuk Tentrayana seperti yang dibangun di candi Plaosan, pola-pola ritualnya menggunakan mantra. Mantra merupakan ringkasan dari ajaran Budha yang terdiri dari Terawada, Mahayana dan Tentrayana, Terawada merupakan ajaran Budha paling awal yang kemudian ditambahai komentar oleh Mahayana, dan diringkas kembali oleh Tentrayana dari kitab (ajaran awal dan keterangan) menjadi hanya beberapa kahmat saja, namun pengucapannya juga dimaknai seperti memahami seluruh isi satu kitab. Dalam sebuah upacara pembacaan mantra diulangulang untuk mengikis hal-hal yang buruk dan agar selalu berpikir hal-hal yang baik bila pikiran baik maka perbuaaan dan perbuatan akan berlaku serupa. Tujuan akhir dari itu semua adalah untuk menjaga agar pikiran manusia bisa menjadi baik.

Kata Plaosan, mungkin berasal dari kata pe-laos-an yang kemungkinan ada kaitannya dengan negara Laos. Beberapa patung yang terdapat di candi Plaosan memilild arti tertentu, seperti patung Budha di tengah Dhiani Budha (Vahirocana) dan Bodhisatwa, yang berwarna merah adalah awalukiswara, lambang kasih sayang, yang berwarna kuning disebelah kiri adalah Vajravani merupakan lambang kebijaksanaan. Sebagai tempat untuk duduk sembanyang, candi Plaosan tentunya akan sangat nyaman bila ditanami oleh pepohonan yang rindang sebagai peneduh
Dalam hal ini vegetasi yang mungkin cocok untuk candi Plaosan adalah pohon teratai, yang bisa ditanam di parit dan pohon Bodhi, selain untuk peneduh terdapat pula upacara ritual penghormatan pohon Bodhi yang merupakan benih-benih dari kesucian .


PROFIL WISATA CANDI PLAOSAN
PROFILE SEJARAH CANDI PLAOSAN

POSISI STRATEGIS CANDI PLAOSAN
KONDISI SOSIAL BUDAYA CANDI PLAOSAN