


|
HUBUNGAN
ANTARA CANDI PLAOSAN &
CANDI RORO JONGGRANG
Berdasarkan data-data prasasti di atas, baik yang berlatar belakang
agama Hindhu maupun Budha dapat diketahui bahwa keduanya dapat
hidup saling berdampingan, bahkan dalam sebuah keluarga antara
suami dan istri. Dengan demikian hubungan baik antara candi Roro
Jonggrang Prambanan dengan Candi Plaosan Lor secara historis tidak
diragukan lagi. Meskipun demildan masih perlu juga diketahui tentang
perkembangan agama Hindhu dan Budha di Jawa pada masa itu sebagai
penguat hubungan antara keduanya.
Agama Hindhu pada awal perkembangannya tampak dari penyebutan
nama tempat yang dimuat di dalam prasasti Canggal yang dikeluarkan
oleh Sanjaya, yaitu pendirian sebuah lingga di bukit Ksitirangga
yang terletak di Kunjam - kunja - deca Informasi ini jelas menunjukkan
pemujaan terhadap Dewa-dewa dalam agama Hindhu. Selanjutnya seperti
telah disebut dimuka bahwa terjadi perpindahan agama dari. tokoh
yang bernama Sangkara, karena terjadi peristiwa yang menimpa keluarganya,
sejak saat itulah mulai berkembang agama Budha Mahayana. Perkembangan
ini banyak didukung, baik dengan banyaknya prasasti yang menyebut
persembahan terhadap agama Budha maupun tinggalan arkeologi yang
berupa candi yang berlatar belakang agama Budha.
Candi Plaosan merupakan candi Budha Tentrayana.
Pada dasarnya semua candi Budha dibentangkan pada candi Budha
yang biasanya memunculkan tiga perwujudan Budha yaitu : Diani
Budha, Diani Bodhisatwa dan Manusi Bodbisatwa walaupun kesemuanya
ada 15 perwujudan Budha, adapun yang terlengkap ada di Borobudur,
namun yang dipakai adalah Diani Budbanya (Amitaba), Diani Bodhisatwa
(Awalukiswara yang melambangkan cinta kasih dan kasih sayang),
dan Manusi Bodhi Satwa (Sakyamun).
Ketiga perwujudan tersebut merupakan satu patner dalam menjalankan
tugas.
Gambaran candi Plaosan merupakan perwujudan satu Triatna yaitu
Budha yang berarti melihat kebenaran, Dharma yang berarti jalan
untuk mencapai kebenaran, dan Sangha yang berarti pasamuan suci,
tempat
pembelajaran guru dan murid yang diwakili para rahib. Ketiganya
merupakan kund untuk mempertemukan yang maha kekal
Lambang-lambang patung yang terdapat di candi
Plaosan bukanlah lambang Budha sebagai diri, akan tetapi Budha
sebagai lambang kekekalan - kesempurnaan. Dimana lambang tersebut
diapait oleh dua Bodhisatwa, yang merupakan lambang yang mau mencapai
kesempurnaan.
Agama Budha Tentrayana sendiri penuh dengan simbul yang memilild
makna yang panjang. Hal ini diperlihatkan oleh arca Bodhisatwa
di candi Plaosan yang melambangkan masing-masing wujud dan sifat
Budha serta jalan untuk perenungan` menuju sifat baik Simbol-simbol
tersebut bersifat mistis, adapun yang terjadi sekarang ini adalah
bukan ibadah yang diperhatikan oleh orang-orang, melainkan budayanya
yang simbol. Hal ini tentunya menyingkirkan unsur ibadah yang
seharusnya menjadi tujuan utama seseorang.
Pada masa abad ke 7 dan ke 8 (masa berdirinya candi Plaosan) merupakan
masa pematangan konsep Tentrayana yang kemudian memunculkan konsep
baru yaitu konsep Adibudha yang berarti Budha kesempurnaan, di
Indonesia sendiri hal tersebut diwujudkan dalam Tuhan Yang Maha
Esa.
Tentra yang sama juga ada di Tibet, yang berasal dari Indonesia
/ Jawa, yang kemudian berbaur dengan Tentris dan kematraan lokal,
hal ini juga terjadi di Indonesia dimana proses perubahan terjadi
dari Budha murni Terawada ke Mahayana dan berlanjut menjadi Tentrayana.
Untuk memahami perlambangan di Tentrayana, seseorang harus memahami
terlebih dahulu dasar persimbolan Mahayana yang orang harus hafal
dasar-dasar nilai ajaran Budha di Terawada. Hirarki pemahaman
/ pencapaian ini harus dipahami dulu lebih awal sehingga tidak
ada kesalahan dalam penafsiran pada tingkat yang lebih tinggi.
Pengajaran tingkat yang tinggi ini juga disesuaikan dengan tingkat
kemampuan seorang Bhiksu, dimana hanya Bhiksu-bhiksu tertentu,
dinilai dari beberapa aspek, yang diajarkan Tentrayana melalui
kelas-kelas rahasia secara hirarkis, yang pertama ada adalah Budha
Terawada (murni), dimana tidak ada upacaraupacara ritual didalamnya,
kemudian lahir Mahayana dengan upacaraupacara besar sekaligus
sebagai penyebaran pemahaman ajaran Budha dan simbol-simbolnya
pada masyarakat masa lalu.
Terkait dengan hal tersebut, candi Borobudur yang juga merupakan
candi Budha, memilild nilai potensial sebagai tempat wisata ritual,
sekaligus untuk menjaga dan memelihara kesrakalan yang ada di
sang Namun yang terjadi sekarang ini adalah pengunjung yang ingin
bersembahyang di Borobudur akan berfikir dua kali untuk melakukannya,
karena secara psikologis, mereka tidak nyaman dengan melihat pengunjung
lain dengan seenaknya duduk dan naik patung sembarangan, sehingga
mengakibatkan Borobudur semakin kotor dan lain-lain.
Dilihat dari beberapa aspek, candi
Plaosan sendiri memilild potensi besar untuk dikembangkan dari
segi bentuknya, Plaosan memilild tiga bilik yang melambangkan
Tri Ratna, yaitu Budha masa lalu. Budha sekarang dan Budha yangakan
datang, sedangkan candi Sewu yang juga merupakan candi Hindhu
lebih merupakan biara ( tempat belajar Bhiksu ) dilihat dari pola
mandalanya yang berbeda. Hal ini bisa dilihat dari adanya candi
Perwara sebagai tempat meditasi, sementara tanah lapang sebagai
tempat dharma bersama.
Dilihat dari potongan pola mandala,
candi Plaosan memilild potongan pola mandala yang lengkap, dari
tempat yang rendah (mikrokosmos / membumi) gradual hingga tempat
yang lebih tinggi dan paling tinggi, hal ini ditandai dengan puncak
stupa sebagai perwujudan penyatuan dengan nirwana / kesempurnaan
/ mikrokosmos. Plaosan sebagai tempat suci umat Budha, tentunya
memiliki pagarpagar sebagai pengaman, adanya pant dan pagar di
candi plaosan, dinilai sebagai pengaman dari binatang buas dan
liar, sehingga mereka tidak bisa berenang untuk mencapai permukaan
candi Plaosan, walaupun dalam upacara ada pola pembersihan dengan
air, namun parit yang ada di candi plaosan dinilai hanya sebagai
pengaman.
Dari segi ritual, untuk Tentrayana
seperti yang dibangun di candi Plaosan, pola-pola ritualnya menggunakan
mantra. Mantra merupakan ringkasan dari ajaran Budha yang terdiri
dari Terawada, Mahayana dan Tentrayana, Terawada merupakan ajaran
Budha paling awal yang kemudian ditambahai komentar oleh Mahayana,
dan diringkas kembali oleh Tentrayana dari kitab (ajaran awal
dan keterangan) menjadi hanya beberapa kahmat saja, namun pengucapannya
juga dimaknai seperti memahami seluruh isi satu kitab. Dalam sebuah
upacara pembacaan mantra diulangulang untuk mengikis hal-hal yang
buruk dan agar selalu berpikir hal-hal yang baik bila pikiran
baik maka perbuaaan dan perbuatan akan berlaku serupa. Tujuan
akhir dari itu semua adalah untuk menjaga agar pikiran manusia
bisa menjadi baik.
Kata Plaosan, mungkin berasal dari
kata pe-laos-an yang kemungkinan
ada kaitannya dengan negara Laos. Beberapa patung yang terdapat
di candi Plaosan memilild arti tertentu, seperti patung Budha
di tengah Dhiani Budha (Vahirocana) dan Bodhisatwa, yang berwarna
merah adalah awalukiswara, lambang kasih sayang, yang berwarna
kuning disebelah kiri adalah Vajravani merupakan lambang kebijaksanaan.
Sebagai tempat untuk duduk sembanyang, candi Plaosan tentunya
akan sangat nyaman bila ditanami oleh pepohonan yang rindang sebagai
peneduh
Dalam hal ini vegetasi yang mungkin cocok untuk candi Plaosan
adalah pohon teratai, yang bisa ditanam di parit dan pohon Bodhi,
selain untuk peneduh terdapat pula upacara ritual penghormatan
pohon Bodhi yang merupakan benih-benih dari kesucian .
PROFIL
WISATA CANDI PLAOSAN
PROFILE
SEJARAH CANDI PLAOSAN
POSISI
STRATEGIS CANDI PLAOSAN
KONDISI
SOSIAL BUDAYA CANDI PLAOSAN
|